Wednesday, March 30, 2011

Nyontek? Usaha apa Dosa?

Well ini hari ketigaku UAS khusus kelas 9..
Mapelnya Bahasa Inggris sama Bahasa Mandarin. Well memang sekolahku sekolah swasta yang kebanyakan (nyaris 3/4) isinya chinese semua (aku gak termasuk dong), tapi hampir nggak ada yang bisa bahasa Mandarin. Waktu persiapan tes (jam istirahat), aku belajar. Sungguh-sungguh. Bukannya nyombong tapi sejak kelas 9 awal aku gak pernah nyontek. Aku cuma pernah nyontek (SMP) di kelas 8, itu masa-masa nakalku. Dan aku berani sumpah aku gak akan nyontek selamanya.
Tapi temen-temenku berkata beda. Mereka gak ada yang belajar. Mereka malah jajan, makan ya memang aku gak bisa nyalahin mereka untuk jajan, tapi kenapa enggak dipakai belajar aja, daripada bikin CONTEKAN?!
Aku benci banget sama orang curang. Sungguh. Aku benci. Mereka seperti enggak menghargai yang berusaha keras. Terimakah kamu kalo kamu udah belajar keras banget dan nilaimu 8, sedangkan mereka yang berusaha membuat contekan dapet 9 bahkan 10? Pasti nggak kan?!
Dulu sejak kelas 7 sampe kelas 8 tengah aku selalu masuk 10 besar paralel. Tapi sejak kelas 9 nilaiku merosot. Well, aku pikir memang cara belajarku salah, tapi ternyata enggak. Ranking satunya hobi nyontek.
Dari 10 besar yang baru itu cuma ada 4 orang yang aku yakin mereka jujur 100%, salah satunya sahabatku. Lalu yang lain? Aku enggak bisa bilang aku percaya mereka nggak nyontek.
Setiap pelajaran hafalan, mereka udah kesepakatan dulu. Nyebelin gak sih?! Waktu aku protes dan mengadukan mereka, mereka jauhin aku. Watever, gak masalah. Semua itu demi mereka juga. Kalau mereka terpaku sama contekan, mereka susah sendiri besok.
Waktu aku bilang curang, mereka bilang nyontek itu usaha. Usaha?! Well, aku nggak bisa mendebat. Aku gak pandai berkata-kata dan mengatur kalimat. Biarlah Tuhan yang membalas, pikirku dalam hati setiap mereka menyontek. Tapi ya mau gimana, dongkol juga rasanya.
Waktu dicocokin jawaban mandarin itu sama temenku yang jago (dan pasti 100), aku salah 7. Si tukang contek pro salah 5. Aku tanya apa dia nyontek dan dia dengan bangga bilang iya.
Justru aku yang bangga. Yang tersirat di pikiranku adalah,"Wah, aku menang karena aku jujur."