Saturday, December 1, 2012

Kehadiran Yang Memberi

KPR Jelang Masa Advent Natal 2012
GKJ SALATIGA
Oleh : Pdt. Windu P. Hadisasono (GKJ Kertanegara, Semarang)

Awalnya nggak minat ikut KPR-KPR gini, cuman karena mendadak dihubungi buat jadi operator LCD, terpaksa saya datang =_____=
Awalnya agak berat hati karena besoknya UAS Fisika (materinya bo, gila bener), tapi karena udah mendadak dan pastinya bakal sulit cari orang kalo aku nolak, jadi terima aja deh. Ternyata nggak rugi, karena KPR yang diikuti orang-orang dewasa justru lebih mengena karena semuanya diem, tenang, dan nggak ada temen buat ngobrol. Lagipula kalau mau ngobrol bakal mencolok banget, secara operator LCD duduk ayem di depan =_____=

Diambil dari Filipi 2:5-11
Ada tiga tipe manusia, yaitu :
1. Yang diharapkan. Orang tipe ini sangat berpengaruh keberadaannya dalam segala sesuatu. Misalnya kalo dia datang suasana jadi asik, atau semua jadi lega. Pokoknya kalo nggak ada dia suasana jadi sepi dan nggak seru. Kayak ada yang kurang gitu.
2. Tidak berpengaruh. Ada atau nggak sama aja. Nggak pengaruh. Mau ada ya silakan, nggak ada nggih mboten punapa-punapa, wong ya nggak ada efeknya =____= Kasihan banget ya.
3. Tidak diharapkan. Lebih baik dia tidak ada! Mungkin karena ganggu banget, bikin suasana jadi suram, bikin perasaan nggak enak dan lain sebagainya. Perusuh, pengacau, pokoknya nyebelin gitu deh. Nggak mau banget kan jadi orang kayak gini?

Apa yang bisa kita lakukan agar orang di sekitar kita merasa nyaman dengan kehadiran kita? Inilah salah satu bentuk dari menjadi berkat untuk orang lain. Jujur saja sebenernya ini visi hidup saya >___<
Saya ingin orang2 menjadi senang, tertolong dan bahagia dengan keberadaan saya. Dengan begitu, rasanya ada tujuan hidup dan hidup saya tidak sia-sia. Yang jadi masalah adalah : kadang caranya salah  = ="
Karena kurang peka, mungkin. Maksudnya mau menghibur orang yang sedih dengan ngelucu ringan, eh malah dianya tersinggung. Padahal nggak maksud. Malah jadi serba salah =_____="

Sebuah ilustrasi yang diceritakan Pak Windu, seorang anak punya satu buah permen. Sebenernya dia pengen membaginya dengan teman yang tak sengaja ia temui. Kalau temennya itu bersikap kurang ajar dan ngajak berantem, mana mau anak itu memberi permen. Sebaliknya, kalau temennya datang dengan sikap ramah, menyenangkan (bukan menjilat), pokoknya bikin suasana ceria, tentu saja bakal dikasih bahkan ditambahi permennya. Tanpa sadar, sebelum dia memberi permen, terlebih dulu dia menerima keberadaan temannya itu. Ia berkenan dengan temannya, maka ia jadi memberi permen.
Ingat, menyenangkan orang lain bukan menjilat! Yang namanya menjilat itu selalu punya maksud lain yang pada akhirnya mengharapkan keuntungan diri sendiri. Menyenangkan orang lain harus murni dari dalam hati karena kita ingin melihat orang itu tertawa, bahagia atau merasa senang tanpa maksud lain.

Tuhan Yesus sendiri sudah memberikan tubuh-Nya untuk menebus dosa manusia, karena Ia sudah menerima kita. Lha wong yang berdosa aja diterima, terlebih lagi yang percaya dan melakukan firman-Nya. Ia berbuat demikian, supaya semua orang selamat dan beroleh hidup kekal. Mengapa kita harus memberi? Karena Tuhan sudah memberi lebih dulu.

Memberi seperti Tuhan telah memberi!


No comments:

Post a Comment