Sunday, August 17, 2014

Terpaku Kagum : Universitas Gadjah Mada

Hari ini bertepatan dengan ulang tahun negara tercinta Republik Indonesia, genap satu minggu saya berada di Jogja. Menurut EYD, yang benar adalah Yogyakarta, tapi kata 'Jogja' lebih menyenangkan untuk diucapkan, kenapa ya? :v Ini yang namanya udah tau salah tetep diterusin -_-"
Saya baru mengikuti rangkaian persiapan ospek PPSMB Palapa 2014 di UGM selama 2-3 hari, tapi lebih dari cukup untuk mengubah cara pandang saya. Luar biasa, pengalaman yang sulit didapatkan kalau bukan di perguruan tinggi yang memang punya lebih dari sekadar nama besar. Jujur saya cenderung apatis dan individualis kalau sudah tentang tugas kelompok, keangkuhan konyol dan bodoh karena teman-teman semasa SMA banyak yang pemalas dan curang, culas dan tidak punya malu. Yah saya juga keterlaluan sih sudah bilang begitu tentang mereka, tapi kalau disuruh berpendapat jujur, di samping segala kebaikan dan kelebihan yang mereka punya, kecurangan seperti itu sangat memalukan. Oke, kesampingkan itu, saya kan mau cerita tentang UGM :v

Jadi, setelah dibagi dan bekerja dalam kelompok, saya benar-benar senang karena akhirnya saya tidak perlu  terpaksa menjadi pemimpin, terpaksa mengambil alih dengan setengah hati karena tidak ada yang berniat mengerjakan tugas dengan baik. Dalam kelompok saya sungguh bisa mengerjakan bagian saya sendiri tanpa perlu mengkhawatirkan koordinasi dan kepemimpinan, karena saya tipe yang dengan senang hati mundur dari kursi pemimpin apabila ada yang lebih pantas (bukannya sombong sih :v). Saya bisa tenang, punya concern sendiri, tidak perlu mengambil alih tugas orang lain karena kekhawatiran ketidaksempurnaan (nggak ada maksud perfeksionis, setidaknya jalan gitu lah tugasnya) karena masing-masing pribadi dalam kelompok saya adalah orang-orang cerdas, penuh inisiatif dan tanggung jawab serta semangat dan pikiran yang positif. Memang tepat apa kata orang, bergaullah dengan orang-orang baik maka dirimu jadi baik. Sedikit demi sedikit saya mulai terpengaruh dan saya sangat bersyukur, diri saya yang cukup sering berpikiran negatif dan congkak ini mulai berubah. Kebanggaan menjadi bagian dari UGM sekarang terasa jelas, lebih-lebih saya bangga karena mengenal orang-orang seperti mereka. Saya tahu ada yang lebih baik dari mereka, dan mereka hanya sebagian kecil saja, itu membuat semangat saya terpacu. Sangat jarang saya mendapat picu semangat seperti ini.

Saya mengetik posting ini di warnet dekat kos di Jogja. Tujuan awal sih sebenernya buat cari materi tugas PPSMB esai senior-senior yang jadi mahasiswa berprestasi, dan gila, mereka betul-betul sarat dengan prestasi. Senior yang saya pilih adalah Ahmad Nasikun, mahasiswa berprestasi UGM tahun 2010 dan juga mahasiswa berprestasi versi Dikti, selain prestasinya mengagumkan, beliau rendah hati dan informasinya mudah didapat (check out for his blog : ahmadnasikun.wordpress.com). Yang lucu adalah kebanyakan mahasiswa berprestasi itu tampangnya ramah dan sederhana, saya bertanya-tanya bagaimana cara mereka mengatur waktu. Saya harap mereka juga menghabiskan waktu untuk memanjakan diri sendiri, kalo saya sih kebanyakan -____-
Memang rasa minder timbul setelah saya mengenal lebih jauh tentang UGM dan mahasiswa-mahasiswanya yang outstanding, tapi yang lebih mengagumkan lagi adalah saya terinspirasi. Bukan minder yang menjatuhkan tapi minder yang positif. Saya jadi semangat. Bukan semangat berlebihan seperti "saya juga mau seperti itu" atau "saya juga akan jadi seperti itu", tapi semangat untuk menjalani segala hal dengan serius dan sepenuh hati. Lingkungan SMA saya, entah mengapa tidak membuat saya terpacu untuk mengerjakan segala sesuatu dengan serius (tapi untunglah tidak ada yang setengah hati) karena orang-orangnya meremehkan. Semacam pengaruh negatif yang melemahkan inisiatif, di mana segala macam kerja keras terasa seperti disindir dan diejek,"Buat apa sih kamu serius kayak gitu, ngapain gitu lho."

Untuk junior-junior yang masih menempuh pendidikan di SMP dan SMA, pendidikan Indonesia sedikit demi sedikit mengalami perubahan menjadi lebih baik (sepertinya? :v). Saya akan berkata jujur, kepicikan saya mulai terkikis karena awalnya ada rasa tidak suka akan kemajuan Indonesia. Pola pikir jelek seperti Indonesia tuh harusnya jadi jelek-jelek aja, nggak usah maju, ngapain sih. Yah, di sisi lain juga ada bagian dari diri saya yang menggebu-gebu untuk berbuat sesuatu demi bangsa ini, sih, tapi pikiran negatif seperti itu juga kadang ada. Mungkin karena saya iri akan kemajuan bangsa, sedangkan saya tidak pernah berkembang. Adik-adik kelas, mungkin masa SMP dan SMA kalian buruk, suram, tidak berprestasi, tapi sekarang ini masih ada waktu. Tidak ada ruginya kalian belajar keras sungguh-sungguh sekali seumur hidup demi mendapatkan perguruan tinggi yang baik. Persiapkan mental. Jangan mau kalah dengan sindiran dan cibiran negatif ketika kalian yang selama ini enggak pernah masuk 20 besar di kelas tapi mencoba mengincar perguruan tinggi negeri yang terkemuka. Berusahalah sungguh-sungguh, karena perjuangan itu enggak ada ruginya sama sekali ketika kalian berhasil masuk gerbang perguruan tinggi yang kalian tuju. Serius, saya jamin.

UGM tidak hanya sekadar nama, dan yang bikin tambah minder lagi adalah orang-orangnya adalah contoh nyata penerapan ilmu padi, makin berisi makin rendah hatilah mereka. Saya kagum, dan saya jujur berterima kasih karena ada orang-orang seperti itu di Indonesia, di dunia ini. Terima kasih, saya akan berusaha!! Uyeeeeaaaah!!

Wednesday, August 6, 2014

Seputar Jalur Masuk Perguruan Tinggi Negeri : SNMPTN, SBMPTN, UM


Akhirnya kesampaian juga posting tentang jalur-jalur masuk perguruan tinggi negeri. Sudah lama saya dambakan, akhirnya tercetak juga. Mengingatkan saja, posting ini dibuat tahun 2014 dan saya sudah tidak terlalu mengikuti perkembangan kebijakan pendidikan SMA sekarang jadi kalau ada beberapa informasi yang sudah usang, mohon dimaklumkan. Sedikit pamer kejadian masa lampau #eh saya lolos SBMPTN 2014 pilihan ke-3 UNDIP Ilmu Kelautan, tapi lolos Ujian Mandiri UGM Ilmu Kehutanan, akhirnya sekarang saya seorang pejuang kehutanan. Seneng banget, nggak nyangka padahal soalnya susah dan saya nggak les/ikut bimbel. Jangan ditiru! Belajar itu perlu! Nggak ada salahnya serius belajar, ini tentang masa depan.

Oke, sebelum OOT terlalu jauh dan sebelum menjelaskan tentang jalur-jalur perguruan tinggi ini, ada hal penting yang harus diketahui. Sebenernya nanti juga bakal dijelaskan berkali-kali sama guru BK, guru mapel tertentu bahkan tim promosi dari kampus-kampus, tapi gak ada salahnya tau lebih dulu.
Tentunya teman-teman tahu, jurusan di SMA terbagi menjadi tiga : IPA, IPS, Bahasa. Nah kalau mau masuk perguruan tinggi, tiap program studi ada jurusannya sendiri. Misalnya jurusan Kedokteran, yang boleh masuk cuma anak IPA tapi kalau lewat tes tertulis, asal nilainya mencukupi mau anak IPS, Bahasa, SMK juga nggak masalah.

Jalur-jalur perguruan tinggi kita juga terbagi menjadi tiga : Saintek, Soshum, Campuran/IPC.
Saintek : singkatan dari Sains dan Teknologi. Ini nih terusan dari anak IPA. dulu namanya tetep program IPA, tapi entah mengapa diganti jadi Saintek. Bikin bingung aja. Nanti pihak perguruan tinggi bakal mencantumkan keterangan program-program studi mereka termasuk Saintek/Soshum. Pasca UN juga ada banyak buku-buku yang menjelaskan tentang ini. Contohnya Kedokteran itu Saintek, Teknik Kimia dan segala macam teknik itu Saintek, Ilmu Kelautan, Kehutanan juga Saintek, dll.
Soshum : singkatan dari Sosial Humaniora. Jangan bingung ye, ini gabungan dari IPS dan Bahasa. Jadi program Ekonomi, Psikologi, Sastra itu masuknya Soshum. Anak IPA sebenernya nggak boleh ya ambil lahannya jurusan IPS/Bahasa, tapi semua tergantung kebijakan perguruan tinggi masing-masing. Ada beberapa universitas yang memperbolehkan lintas jurusan.
Campuran/IPC : nah ini hanya untuk jalur ujian tertulis. Jadi misalnya pilihan 1 kalian programnya Saintek, tapi pilihan kedua programnya dari Soshum. jadilah program pilihan kalian namanya IPC (Ilmu Pengetahuan Campuran). Serakah banget sih semuanya mau :v
tapi tesnya juga jadi dua, jadi kalian dari jurusan IPA harus ngejar materi anak IPS-Bahasa 2 tahun ditambah belajar materi kalian sendiri dan sebaliknya. Paling susah anak Bahasa, materinya paling jauh beda, jadi kalo merasa salah jurusan di SMA dan pengen lintas jurusan di perguruan tinggi ya siap-siap aja.

Oke, balik ke materi utama. Jadi sesuai yang diketahui umum, ada 3 jalur menuju Roma perguruan tinggi : SNMPTN, SBMPTN, dan Ujian Mandiri.

SNMPTN
Singkatan dari Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Kalau ngobrol bareng orang tua bisa bikin bingung karena disebutnya bakal lain kayak Jalur Undangan, Pemamik, PMDK, dsb. Emang bener karena jalur yang ini nggak pakai tes tapi seleksi nilai rapor (sekarang nilai UN juga buat pertimbangan). Nanti yang mengupload nilai rapor dari semester 1-5 itu pihak sekolah, siswa cuma diminta untuk verifikasi dari rapor asli, bener nggak tuh nilai-nilai yang ditulis. Ntar yang nilainya bagus jadi jelek, yang jelek tambah jelek. Kalau dari jelek jadi bagus biasanya nggak bakal ada yang protes ya :v
Dulu namanya SNMPTN Undangan, sekarang udah diganti namanya jadi SNMPTN doang. Oleh pihak bimbel dan les pakainya bahasa keren SenamPTN -__-
Karena sekarang semua sistem udah online lewat internet, untuk SNMPTN nanti siswa diminta mengisi data, verifikasi nilai rapor, terus pilih program studi dan universitasnya. Untuk pilihan kedua entah kenapa cuma bisa dari universitas tertentu aja.
Untuk SNMPTN ini enggak bisa lintas jurusan ya, kecuali universitas yang kalian tuju punya kebijakan tentang itu. Jadi anak IPA ya ambilnya Saintek, IPS Bahasa ambilnya yang program Soshum. Cek ke situs kampusnya, karena tiap kampus kebijakannya beda. Ada universitas yang mengategorikan Psikologi ke Saintek, tapi mayoritas ke Soshum sih. Mau tetap nekat coba lintas jurusan? Jangan. Sayang kesempatannya, nanti kayak saya gagal di SNMPTN #upslukalama

Program BidikMisi (kuliah gratis khusus siswa kurang mampu) juga ada, tapi jujur aja lebih ribet. Kalo mau ikut bidikmisi harus nyiapin banyak data termasuk surat-surat keterangan, terus foto rumah blablabla mungkin bakal saya kasih posting khusus tentang bidikmisi deh :v
Harap diingat bidikmisi ini cuma nebeng doang, kalo SNMPTN-nya nggak lolos ya nanti bidikmisinya nggak lolos. Kalo SNMPTN-nya lolos, bidikmisi bisa lolos bisa enggak tergantung hasil survei lapangan dari pihak universitas. Contohnya dari UNDIP, serius rumah saya kemarin (4 Agustus) kedatengan tim survei, kayaknya eksekutif mahasiswa (OSISnya kampus) cowok 1 cewek 1, nagih data-data (tapi saya gak di rumah), terus foto-foto kamar, dapur, dll :v
Website resmi SNMPTN : snmptn.ac.id

SBMPTN
Nggak lolos Jalur Undangan/SNMPTN? Nah jalur yang tambah bikin bingung karena namanya paling sering diganti ini bisa jadi tujuan selanjutnya. SBMPTN singkatan dari Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Kalo berdasarkan arti kata, emangnya apa sih bedanya sama SNMPTN? Bikin bingung aja.
Dulu namanya bervariasi dari SNMPTN Tulis, Ujian Tertulis, UMB (kepanjangannya gak tau, mau asal nebak takut salah :v), yah intinya sama aja sih : semua pelajar lulusan SMA baik yang lulus tahun itu atau dari tahun-tahun sebelumnya se-Indonesia bersama-sama ikut ujian tertulis dengan soal-soal kualitas perguruan tinggi (nggak bisa dibandingin sama UN). Ada senior yang bilang soalnya 6x lebih sulit, tapi waktu menjalani sendiri saya nggak bisa menilai. Yah pokoknya susah, jadi harus ekstra.

Tesnya ada 3 yaitu Tes Kemampuan Jurusan (Saintek/Soshum/Campuran), TKD (tes kemampuan dasar) dan TPA (tes potensi akademik). Untuk ikut tes ini bayar lho kecuali untuk pelamar bidikmisi. Kalo pilih IPC, bayarnya lebih mahal. Semua tes di atas harus diikuti!
Tes Saintek terdiri dari mapel Matematika, Kimia, Fisika, Biologi. Tes Soshum saya kurang tau.. Kalo IPC berarti kalian bakal ngerjain semuanya mulai dari Fisika sampe Sejarah. Biasanya terdiri dari 15 soal per mapel, jadi antara 60 soal.
TKD terdiri dari Matematika Dasar, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia. Yang Bahasa Inggris ada yang setara TOEFL, tapi jangan takut lah. Kuncinya sering latihan soal dan rajin membaca karena teksnya banyak banget. 60 soal.
TPA itu semacam tes psikologi untuk mengukur kecerdasan alam / IQ. Ngejelasinnya susah jadi mending cari contoh-contoh soalnya aja, di internet banyak kok. Menurut saya untuk TPA satu ini nggak bisa diakali dengan belajar karena mau nggak mau soal-soalnya cuma main nalar dan logika, tapi nggak sulit kok. TPA ini biasanya paling banyak jumlah soalnya, penolong untuk mempertinggi nilai jadi jangan dikosongi.

Nah di SBMPTN ini, kalian bebas memilih mau perguruan tinggi mana, mau jurusan apa nggak peduli kalian dari IPA/IPS/Bahasa. Anak Bahasa bisa masuk Teknik Elektro kalau emang nilainya mencukupi. Sampai sekarang sepertinya masih ada rumor batas nilai yang dinamakan passing grade. Passing grade ini dalam persen, dan besarnya ditentukan berdasarkan banyaknya peminat dan tingkat kesulitan program studi jadi nilainya nggak pernah tetap (selalu berubah tiap tahun) dan setiap universitas berbeda. Misalnya Sastra Indonesia di UI bakal beda dengan passing grade yang di UGM.
Di bimbel/internet banyak yang memberi informasi tentang passing grade dari perguruan tinggi negeri, tapi saya bilang kalian jangan percaya mentah-mentah. Memang bagus buat jadi target nilai, tapi nggak selalu bener karena nilainya nggak tetap dan beberapa PTN sudah mengeluarkan pernyataan bahwa mereka tidak pernah menggunakan atau merilis yang namanya passing grade.

Next info, jawaban benar nilainya 4 dan jawaban salah nilainya -1 alias dikurangi. Jawaban kosong nilainya 0 (nol), jadi kalau nggak yakin dengan jawaban kalian mending nggak usah dikerjain karena waktu juga terbatas, soalnya hampir mustahil untuk mengerjakan semuanya. Dan buat tes kemampuan jurusan, nanti ada tiga tipe soal : pilihan ganda, sebab-akibat, dan yang satu lagi nanti diberi option lalu pilih option mana aja yang bener (ini paling berisiko jadi kalo beneran gak tau gak usah dikerjain).
Untuk lokasi tes nanti menyesuaikan daerah asal dan daerah universitas, tes dilaksanakan di gedung-gedung kampus. Kalau daftarnya telat bisa juga tes di kelas-kelas SMA/SMK terdekat di daerah itu.

Untuk bidikmisi aturannya sama dengan SNMPTN.
Website resmi SBMPTN : sbmptn.or.id

UJIAN MANDIRI (UM)
Ujian mandiri ini diadakan oleh masing-masing universitas dengan kualitas soal dan kebijakan masing-masing. Biasanya pendaftaran ujian mandiri dibuka beberapa hari setelah pengumuman SBMPTN. Jadi urutan pengumuman kelulusan : SNMPTN (setelah UN selesai), SBMPTN (setelah pengumuman SNMPTN dan tes berlangsung), baru Ujian Mandiri. Untuk UM ini aturannya menyesuaikan dari universitas masing-masing. Ada yang soal tesnya dipermudah, ada yang dipersulit. Menurut kaum pelajar yang mengalami sendiri, soal ujian mandiri paling susah itu punya UI (SIMAK UI).
Tipe soal dan aturannya sama seperti SBMPTN, tapi mungkin ada kebijakan yang berbeda jadi tetep baca aturan mengerjakannya ya. Contohnya UM UGM 2014 kemarin, untuk TPA ternyata tidak ada pengurangan nilai bahkan dianjurkan untuk mengerjakan semua soalnya (nebak), jadi sangat membantu kelulusan. Biayanya juga relatif mahal karena diberi kebebasan memilih lebih dari satu program studi. Berkisar 200-300 ribu. Nah kalo tes ini bebas, misalnya mau ikut UM UGM, habis itu ikut UM Undip, belum puas masih mau ikut UM Unnes ya terserah, sediakan uang saja buat pendaftaran. Pendaftarannya biasanya dilakukan secara online, jadi pantau terus website resmi universitas.

Oh ya, bidikmisi juga bisa dipakai di ujian mandiri, tapi hanya bisa untuk satu universitas dan dua pilihan program studi. Misalnya yang pertama kali kalian ikuti itu SIMAK UI, terus bidikmisinya dipakai di SIMAK UI. Nah, misalnya boleh pilih 3 program studi dan kalian lolos pilihan ketiga, dan pilihan ketiga itu nggak kalian cantumkan di bidikmisi, ya udah bye bye bidikmisi.
Atau misalnya setelah ikut SIMAK UI kalian ikut UM Unnes, bidikmisi kalian udah nggak bisa dipakai lagi sekali pun kalian lolos UM Unnes.

Untuk UM Universitas Swasta bidikmisi juga ada lho, dengan aturan yang sama untuk UM PTN.

KUOTA PER JALUR MASUK
Menurut kebijakan tahun 2013, ditentukan demikian :
SNMPTN mengambil 50% dari kuota program studi.
SBMPTN mengambil 30%
Ujian Mandiri mengambil sisa 20% nya.
Jadi contohnya begini, Ilmu Kehutanan UGM kuota per angkatan 250 orang. Dari SNMPTN bakal diambil 125 orang, dari SBMPTN diambil 75 orang dengan nilai tertinggi, dan Ujian Mandiri 20 orang dengan nilai tertinggi. Begitchu.
Untuk tahun 2014 aturannya masih sama. Tahun-tahun berikutnya mungkin akan ada perubahan jadi tetap ikuti informasi terbaru.

INFORMASI LAIN
Sistem uang kuliah perguruan tinggi negeri sekarang udah pakai UKT (Uang Kuliah Tunggal). Jadi nggak ada dikit-dikit bayar biaya gedung, terus tiap ambil SKS bayar lagi, udah nggak ada. UKT ini subsidi dari pemerintah, jadi hanya sebagian dari biaya kuliah yang ditanggung mahasiswa, yang sebagian lagi pemerintah yang bayar.
UKT dibayarkan per semester dan variatif tergantung kemampuan ekonomi keluarga. Dan enggak ada uang pembangunan yang puluhan juta itu karena sistemnya subsidi silang (yang lebih kaya bayar lebih mahal). Nggak peduli lolos lewati SNMPTN, SBMPTN, Ujian Mandiri, sama aja bayarnya sesuai kemampuan ekonomi orangtua. Kebijakan universitas dalam menentukan UKT ini berbeda-beda. Pelamar bidikmisi UKT nya nol rupiah, dengan beberapa syarat salah satunya IPK minimal 2,75 dan nggak boleh cuti kuliah. Kalo cuti kuliah, beasiswa dicabut, suruh cari beasiswa lain.
Sebagai contoh ilustrasi UKT :
Untuk orangtua yang gaji kotor dari keduanya sekitar 500.000, nanti dapat UKT 1 murah, ya sekitar 500.000 per semester. Gaji sekitar 1-2 juta nanti dapet UKT 2 sekitar 1 juta per semester, dst.
Berlanjut pembagiannya sampai UKT 6 di mana kedua orang tua gaji kotor digabungkan lebih dari 10 juta, nah itu bayarnya gila-gilaan 5 juta ke atas per semester. Nah kawan-kawan dari UKT 6 inilah yang istilahnya membayari bagian teman-teman di UKT 1. Walau tiap universitas beda pengaturan UKT-nya, tapi gambaran kasar kurang lebih seperti ini.

Pro dan kontra tentang UKT
Ini masih menjadi salah satu topik yang debatable terutama di kampus saya. Mungkin karena merakyat ya, jadi pengennya yah kebijakan yang merakyat juga begitu. Dengan adanya UKT ini, mahasiswa jadi merasa berat hati apabila tidak mengambil penuh mata kuliah sesuai dengan kapasitas nilai. Yang terjadi di fakultas saya adalah kecenderungan untuk mengambil sks maksimum, berdampak pada jumlah pegiat organisasi dan aktivis. Belum lagi belum diketahui pertimbangan yang dipakai universitas untuk menentukan UKT dari besarnya pendapatan orangtua, karena seringkali terjadi teman-teman saya mendapat UKT yang berada di atas kemampuannya. Misalkan saja seorang teman saya gaji orangtuanya apabila dijumlah melebihi 20 juta, tapi dia anak ketiga dari 5 bersaudara. Kedua kakak masih kuliah juga, dan kedua adiknya masih sekolah. Nah loh.

Yang lolos lewat Ujian Mandiri bakal bayar lebih mahal?
Nggak tuh. Semuanya tergantung dari kebijakan masing-masing universitas. Undip misalnya, kalau lewat yang jalur ujian mandiri, UKT 1,2,3 ditutup, yang tersedia cuma UKT 4,5,6. Sedangkan saya misalnya sebagai contoh, lewat UM UGM tapi karena pendapatan kotor kedua orangtua tidak mencapai 3 juta, saya dapat UKT 2 . Pengisian data online juga nggak bisa bohong lho, soalnya harus upload scan rincian gaji orangtua.

Yang lolos jalur undangan/SNMPTN bakal bayar lebih murah?
Enggak juga. Dulu sih memang jalur undangan itu murah, sekarang zaman telah berganti. Sekali lagi, semua tergantung kebijakan universitas masing-masing. Ada beberapa temen yang lolos lewat SNMPTN tapi malah diminta bayar biaya pembangunan puluhan juta, walaupun selanjutnya biaya kuliah lewat UKT. Mungkin sekarang persepsinya berbeda, karena yang lolos lewat undangan itu selanjutnya nggak susah, cuma lewat nilai rapor yang sekarang bisa dikatrol dan nilai UN. Yang ujian tulis kan murni kemampuan pelajar itu sendiri (kecuali yang beli kunci jawaban, masih adaaa aja -_-).

Nah sekian dulu deh, semoga bisa membantu temans yang masih bingung, atau yang iseng, atau yang udah ngerti tapi cari info lebih atau yang nyasar aja ke sini.
Saya mengalami sendiri semua jalur di atas, kecuali Ujian Mandiri swasta. Kalau diingat sekarang emang repot banget. Verifikasi data di sekolah bisa berjam-jam, apalagi saya mengajukan bidikmisi, sampai pulang malam. Habis itu SNMPTN nggak lolos, ikut SBMPTN dengan percaya diri tapi abis itu down karena setelah dicocokin sama kunci jawaban salah satu bimbel (nebeng temen) banyak yang salah, dan sampai kehilangan hape waktu UM (semacam tumbal kali ya, soalnya abis itu lulus hahaha).

Yang mau ujian, semangat!!! Kalau ada cita-cita, halangan apa pun bisa ditembus kok. Banyak teman saya yang banting setir ngejar materi 2 tahun dari jurusan yang berbeda dan bisa lolos perguruan tinggi favorit. Semangat!

Friday, July 11, 2014

Road to Final : Argentina vs Netherlands. Penalty drama.

I'm a bit losing memory about the match yesterday, but it got me have sleep marathon since 7 am in the morning until 3-4 pm. Ah, I remember. I yelled in full enthusiasm when Argentina's victory have been confirmed. And Romero, hell yeah Sergio Romero, you are awesome!!
I prepared my Pepsi and Lay's with Messi's photograph on the wrapper. Of course I'm counting on his magic movements so Argentina will win.

I always like Netherlands' national song, along with Germany and England. Feels classy and elegant :D
The main referee is from Turk and I know he will play neutral. When Messi and Van Persie shook hand before the match begin, man, that was contrast. Messi, you just a few centimeters higher than me, but how come you could be so dangerous for goal keepers and defenders? -_-
Another silly concern from me, I think Alejandro Sabella and Louis Van Gaal have the same... appearance. I couldn't clearly describe it, and I don't know where part is that but they're look alike. Except for their behavior during the match, Sabella likes to stand up and walk here and there while Van Gaal likes to sit down with other coaches.

FIRST HALF
Game started. Argentina were taking initiative in offensive way, but Van Gaal piled up, I don't know precisely but I thought it was 4-5 defenders -_-
The dangerous movements by Arjen Robben and Jordy Clasie made my heart beats rapidly. Gosh, I was afraid they will shoot a goal!
Mascherano fell because of one deadly head hit with De Jong (unpredictable, of course) and I was worried that he won't be able to continue. Fortunately, he could back to the field.
Messi and Garay tried to score a goal, but well, none. Ugh! Cillessen was great!
Martins Indi got yellow card. He deserved it! :v

SECOND HALF
Commentator said that Netherlands always play aggresive at the second half. Made me surprised because they really played like that. Ball possession went to Netherlands with 53% and Argentina 47%. I must admit, their passes were slightly like Spain at 2010. Team which have passes like that always score a goal -_-
Argentina played defensively and I don't know whether in second half or the additional time, Mascherano made a brilliant savings when Robben was dribbling close to the goal post. "Man, that guy in yellow shoes!" my dad said. Though there are some in the field wearing yellow shoes, I know he meant Mascherano.

Sergio Aguero and Palacio (I got my hands itches to pull his hair, that was kinda.. annoying -_-) were in replacing Higuain and Perez. Why Higuain? I grumbled. Again, Robben and Clasie. Clasie got the ball, then he passed it to Robben or Schneider. Aaagh if they were ants I will hit my TV screen so they will stop their attack -_-
Van Persie also made one touch near the goal post but it also blocked. Still 0-0.

ADDITIONAL TIME
Additional time felt longer than the normal time. That was impossible because normal half twice longer than the half of additional time, but it really felt longer. Maybe because both team played more aggressive, of course for the goal. People in the net said both team played carefully, but in my opinion was the opposite.
Van Persie wasn't harmful, not like usual, made him replaced by Klaas-Jan Huntelaar (what a name!). As the time goes by since their match with Spain, I kept an eye for Huntelaar. He got powerful kick on his feet. Argentina also made a replacement for Lavezzi (he's great) with Maxi Rodriguez. Lavezzi looked tired, and maybe Sabella were preparing Rodriguez for the penalty game.

Palacio and Rodriguez made two chances but still Cillessen with his guard and the match went to penalty game. Well, everything could happen in this part. Luck is one of the main requirement.

PENALTY KICK
My dad said Romero was a number two goal keeper in AS Monaco, made me go pitapat because Argentina never have a penalty before while Netherlands once have it with Costa Rica. But wonderful!! He blocked the first shot from Ron Vlaar. Wooooooh!!! I yelled loudly!
Then Messi's turn. I wonder why he was put as the first kicker, but it clearly made the goal. I forgot who was the second kicker from Netherland but he was success. Was that Robben? Because the kick was fast and powerful, huh -_-
Garay was a success too. I really think that Argentina could win this.
Here came Wesley Sneijder. If he failed, that will be a big punch for Netherlands. He was my dad's favorite in Netherlands. I hope he will fail. And he failed! Romero blocked the goal!! Romeroooo!! Sorry Sneijder. You are a midfielder ace, that means if you success your friends will be relieved and gathered their confidence but if you failed, well, the opposite done :v
Aguero also succeed. But Kuyt succeed too, so the last hope were Maxi Rodriguez. He shot very hard, Cillessen blocked it but the ball bounced, hit the upper pole and went in, jarred the net.

I yelled. My dad applaused. I heard my neighbor yelled, too. 4-2 for Argentina. That was one dramatical match. In the end I saw Robben applaused while approaching his wife and I saw his child crying. Maybe he/she realized that his father and his friends failed to grab a ticket to final.

Romero became the man of the match, well he made critical savings at the penalty. He was the hero. But if I was able to give my own 'man of the match', I'll give it to Mascherano and Robben.
I added Mascherano and Marcos Rojo as my favorite player in this World Cup, along with Ochoa and Thiago Silva ^_^

Albiceleste and Der Panzer were often met each other in World Cup, especially at final. Last time, Germany won. I know Messi and friends won't let them do the same easily this time. Oranje and Selecao for the third place? Thiago Silva is back, that's a lot of improvement. Oranje? Oh, they will have a revenge. I know they're not satisfied with their lose.

The end of World Cup 2014 is near! How can I miss it?

Road to Final : Brazil vs Germany. Brazil crushed. Get well soon.

I typed this at break time, 9 July 2014 but delayed to post it because suddenly my dial-up connection out of quota. That time, I still have tiny strength on my fingers to type about the disaster. Let me give a little summary about the condition of both team before they're going to the semifinal. Thiago Silva missed next match yellow card accumulation. Neymar broke his bone and cannot join any match for 6-8 weeks. Brazil went to the semifinal bloody and wobbly while Germany perfect fit and well.

FIRST HALF
Scolari, I hope you will still able to find a job because you can't predict the worst scenario that you lost two pillars. And why don't you use Dani Alves? At least he won't let it FIVE-ZERO at 26'!!! I feel sorry Brazil, really sorry 'cause I feel the same when Spain lost 5-1 from Netherland. At least in the end of the game. This time, game hasn't over yet and score have been 5-0.

5-0. First half. Brazil. In such event like World Cup. Though it's Germany as the opponent, don't you think this is a little ...

I wonder what happened in the fitting room at break time. Joachim Lehw maybe in way telling his boys to hold on. How many people in yellow-green jersey crying right now? Well, I saw two showed by the camera.

Back then at Euro 2012 final, Casillas yelled to his boys to stop their offense because Italy need to be appreciated, especially Buffon. Maybe Neuer will do the same? I can't watch the match any longer, really, so I left my dad alone watching the rest. Brazil embarass the teams they beated on the previous matches. They lost their confidence since the second goal but I respect their persistency for still fighting 'til the end, they're the host after all. Get well soon, Brazil :'(

Man, Julio Cesar must be very depressed.

SECOND HALF, AND THE RESULT
I predicted that Germany will score one more goal in the second half. But they scored two, and Oscar, blessed you man, gave one goal on 90'. You know, that one felt like a gift. I knew it from Facebook because like I said before, I didn't watch the match. I saw the end where Thiago Silva hugged his friend number 11, and then hugged David Luiz. Scored one goal at the very end means Brazil still fighting and give their best, but Germany wasn't an easy opponent at all. It's not okay, but it's over now so left all the regrets on the field and prepare for the 2018.

And that's it, Brazil 1-7 Germany at the semifinal. It left a deep wound for Brazil but I hope they could learn from it. Congratulation Deutschland, for making sure your path to the final match. Fresh, fit and well. They're ready for Argentina.

#Brazil #Germany #Semifinal #WorldCup2014

Saturday, July 5, 2014

[Read & Review] - Theodore Boone, Pengacara Cilik (John Grisham)


Satu hal yang membanggakan dari membaca novel ini adalah : saya beli, bukan pinjam! Yeeeey!! Untuk pertama kalinya di tahun ini saya membeli novel, dan langsung dua buku. Yang pertama yang udah saya taksir sejak hari pertama bazar buku, yaitu buku yang akan di-review ini, dan Wuthering Heights yang baru ditemukan H-1 penutupan bazar. Yah, ngutang dulu separo harga sama temen, untung dia baik dan emang komplotan sejak kelas 1 SMA -_-

Saya kesengsem buku ini karena emang saya cukup tertarik dengan karya-karya John Grisham yang banyak menceritakan dunia hukum, pengadilan, pengacara dan kliennya. Dan lagi-lagi buku ini pun temanya tidak lepas dari yang telah saya sebutkan, hanya lebih ringan, lebih mudah dibaca buat amatiran yang nggak ngerti sistem hukum. Gaya bahasa yang digunakan juga lebih mudah dimengerti. Satu hal lagi yang saya suka : bukunya tipis! Emang sih ukuran hurufnya sedikit lebih kecil daripada biasanya, tapi lebih nyaman buat mata dan dipegangnya juga enak :v

Buku ini menceritakan kehidupan Theodore Boone, bocah laki-laki berusia 13-14 tahun yang kedua orangtuanya pengacara dan ia sendiri bercita-cita menjadi seorang pengacara hebat. Theo punya banyak kenalan di pengadilan dan bahkan akrab dengan salah satu hakim utamanya. Theo pun membuka layanan konsultasi hukumnya sendiri secara gratis untuk membantu teman-temannya. Suatu hari, kliennya membawa berita tak terduga yang membuat keputusan sidang seorang pembunuh berdarah dingin justru bergantung pada tindakan Theo. Theo Boone sudah tahu terlalu banyak.

THE STORY GOES...
Display BukuBerawal dari kehidupan sehari-hari Theodore Boone di rumahnya yang disiplin soal waktu. Awal-awalnya diceritakan kesukaan Theo terhadap hukum dan pengadilan, betapa ia ingin menjadi seorang pengacara hebat dengan kasus-kasus kontroversial dan ia ingin beraksi di depan hakim dengan pernyataan-pernyataan hebat. Kedua orangtuanya juga seorang pengacara yang cukup terkenal dan sangat sibuk. Mereka memiliki sebuah kantor hukum sendiri. Theo mampir ke kantor itu setiap hari sepulang sekolah. Di sekolahnya, Theo merupakan ahli debat di kelas Pemerintahan (semacam mata pelajaran PKn), dan baik guru maupun teman-temannya selalu bertanya pada Theo tentang perkembangan terbaru di pengadilan. Terkadang Theo juga melayani konsultasi hukum ringan dari teman-temannya tentang hal sepele seperti hewan peliharaan sampai penyitaan rumah. Theo tidak sesehat teman-teman lain sehingga tidak bisa ikut kegiatan olahraga, tapi itu membuat nilai-nilainya rata-rata A.

Theo dan keluarganya suka membantu orang lain terutama imigran-imigran yang hidup kurang layak, salah satunya adalah imigran dari El Salvador, Julio beserta ibu dan adiknya. Theo sendiri sering membantu Julio belajar aljabar. Suatu hari, kelas Pemerintahan Theo akan belajar di luar, tepatnya menghadiri sidang Mr. Duffy yang menjadi tersangka utama pembunuhan istrinya. Theo adalah penghubung utama antara sekolahnya dengan hakim, Judge Henry Gantry. Sidang berlanjut selama beberapa hari mendekati vonis akhir yang tampaknya akan membebaskan Mr. Pete Duffy. Tak disangka-sangka, sepupu Julio mengetahui bukti-bukti vital yang bisa mengubah jalannya sidang dan juga seorang saksi penting. Julio dan sepupunya berkonsultasi pada Theo. Beban dan rahasia ini terlalu berat untuk ditanggung Theo seorang diri, padahal ia berjanji tidak akan membahayakan posisi Julio dan sepupunya.

Akhirnya Theo memutuskan untuk berkonsultasi pada pamannya, Ike Boone, mantan pengacara, karena tidak mau merepotkan orangtuanya. Ike berusaha semampunya namun mereka harus melakukan sesuatu secepatnya sebelum vonis akhir dijatuhkan. Mau tidak mau mereka harus bicara dengan hakim dan kedua orangtua Theo. Namun, Theo tetap tidak bisa mengungkapkan jati diri sepupu Julio, karena sepupu Julio bisa ditangkap dengan alasan imigran gelap padahal ia saksi penting. Di sisi lain, bodyguard Pete Duffy mulai mencurigai gerak-gerik Theo Boone!

EPILOG
Tidak semenegangkan karya-karya John Grisham yang lain seperti Pelican Brief dan The Client, tapi Theodore Boone tidak kalah cerdas dari Mark Sway (tokoh utama The Client). Bisa dibilang, buku yang ini memang untuk konsumsi remaja, tapi bukan anak-anak :D
Untuk yang ingin tahu prosesi hukum dan pengadilan Amerika Serikat tanpa istilah-istilah sulit sembari menikmati cerita, Theo Boone dan sudut pandangnya sangat menarik untuk dibaca! :3

Dan, eeehh... ternyata novel ini bukan single novel, tapi novel seri :v
Terjemahan Indonesia diterbitkan oleh Gramedia Pustaka. Berikut ini seri lain dari seri Theodore Boone (yang tentunya belum saya baca, baru aja tahu :v) :
1. Theodore Boone : Kid Lawyer (Pengacara Cilik) [2010]
2. Theodore Boone : The Abduction (Penangkapan) [2011]
3. Theodore Boone : The Accused (Sang Tersangka) [2012]
4. Theodore Boone : The Activist (Sang Aktivis) [2013]

Psst, di toko buku online bisa sampai 42.000, diskon pun dapetnya 27.000-an. Saya beli di bazar harganya 20.000 :P Sabar aja deh tunggu sampai banting harga ~
Ah semoga bisa koleksi semuanya :D

#JohnGrisham #TheodoreBoone #novel #review

Monday, June 30, 2014

Reading Wuthering Heights, Emily Bronte's masterpiece

Do you know the title Wuthering Heights? One of Bronte Sisters' work.
I'm about halfway reading the book right now and I swear to you, this book is full of unstable emotion, tragic, dark, gloomy, and yeah, annoying. I should give Emily Bronte an applause for her outstanding characters in this tragic love story. It's rare to find a book that could stirred up your mind and blown your anger out with its antagonist play. Honestly, in my point of view, the entire characters in this book were antagonist. All of them play the bad guy role. This book is a success, showed the result of revenge, hatred, and jealousy. Physical and mental violence is part of this book.

I know about Wuthering Heights from a manga, Glass Mask (Garasu no Kamen). In the manga, Wuthering Heights is a drama which the main character played. I thought that it's just another love story build from childhood, but now I'm sure the drama version has modified a LOT from the original story -_-

Let me give you a little review about the half I have read : there's a man named Lockwood with closed personality rent a house. The owner is a man with very low manners and dark past named Heathcliff. Lockwood was curious about Heathcliff and ask Ellen Dean who has been worked as housemaid in this house for years to tell a story about Heathcliff and Wuthering Heights (place name). Ellen told Lockwood everything happenned in this cursed place. The Earnshaw family; their mannerless, amazingly conceited, terribly egoistic and emotional unstable daughter Catherine Earnshaw made a good-weird friendship with Heathcliff. After the died of his father, Hindley treated her little sister and Heathcliff so badly. Two faced Catherine then married with Edgar Linton her nearest neighbor, though she loved Heathcliff. Broken-hearted Heathcliff left the house and years later came back to smash up Linton family's peaceful life, started from Hindley. Heathcliff himself has a terrible personality, while Edgar Linton is a wise and calm man.
That's all from the half I've read. I can ever guess what will be happen in the end.

Usually, I'll write some review after reading a book but for this one, I really don't know how to express it in words. I'm not good at words, basically. Maybe I'll search in the internet for the most beautiful Wuthering Heights review and post the link below my own review -______-

I need to know other readers' opinion about this book, after all ~
Okay! I'm going to finish this book!

#WutheringHeights #EmilyBronte #BronteSisters

Monday, June 9, 2014

[Read & Review] - Odessa File (Frederick Forsyth)



Waah padahal novel ini udah selesai dua bulan lalu kayaknya, tapi baru kepikiran buat bikin reviewnya. Terkesan maksain diri sih buat bikin reviewnya, soalnya novel ini buat saya kurang greget dibanding The Day of The Jackal (buat saya) walaupun dari pengarang yang sama. Anyway, ceritanya tetap thriller kelas tinggi. Dipinjam (dan diperpanjang berulangkali) dari perpustakaan daerah Salatiga, saya harap pustakawannya nggak bosen liat saya pinjam berkali-kali. Kecepatan membaca saya nggak rendah kok, cuma kalau baca nggak bisa seintens komik (langsung kebut selesai). Kalau capek ya istirahat. Maklumkan yah, pustakawan-pustakawati perpus :D

SAYA MEMBACA..
Saya pilih buku ini segera setelah selesai baca The Day of The Jackal, penasaran sama karya-karya lain dari eyang Frederick Forsyth :D Mengandalkan ingatan saya, saya rasa prolognya nggak panjang-panjang amat. Bisa juga ya bikin fiksi tentang Nazi. Memang banyak sih cerita-cerita yang beredar seputar Nazi, secara mereka memang topik abadi yang nggak akan ada habisnya buat dibahas kekejamannya, tapi biasanya dokumenter atau kisah nyata prajurit Nazi atau dari sudut pandang korban-korbannya. Gimana jadinya kalau di dunia modern masih ada orang-orang Nazi yang bersembunyi dan pihak yang mendendam masih mengejar mereka? Padahal buat Jerman sendiri, Nazi itu aib besar dan lebih baik dilupakan.
Versi Indonesia diterbitkan oleh Penerbit Serambi, sampulnya kayak gambar itu <<

PLOT
Berlatarbelakang tahun 1963 dan berawal dari kehidupan Peter Miller, seorang wartawan lepas yang jago mendapatkan berita sensasional. Hidupnya mewah, dengan mobil sport jaguar kebanggaannya, seorang kekasih cantik penari striptis bernama Sigi, dan karier yang menjanjikan. Suatu hari setelah mendengar berita kematian John F. Kennedy, Miller mengikuti sebuah mobil ambulans berharap mendapat berita. Korban hanya pelaku bunuh diri biasa, seorang Yahudi tua bernama Solomon Tauber. Miller nyaris menyerah, hingga beberapa hari kemudian seorang kawan dari kepolisian yang mengurus kasus itu memberikan buku harian Solomon Tauber pada Miller. Buku harian itu menceritakan kisah hidup Solomon Tauber selama jadi budak tawanan Nazi, dan betapa Solomon mendendam hebat pada seorang komandanNazi, Eduard Roschmann yang berjuluk Jagal dari Riga.

Usai membaca buku harian tersebut, terutama tertarik pada halaman yang menceritakan Roschmann menembak mati seorang kapten Jerman yang memiliki lambang perak, Miller memutuskan untuk memburu Eduard Roschmann ini, setidaknya mengetahui apakah orang itu masih hidup atau sudah mati. Ia bersitegang dengan bosnya yang tidak memberi izin. Miller memutuskan untuk pergi seorang diri. Ia mengunjungi berbagai kantor dan orang-orang yang memiliki wewenang mengurus buronan penjahat-penjahat perang itu dan mendapati tidak ada satu pun yang bersedia membantunya.Informasi yang dimiliki juga sedikit. Namun perjalanan membawa Miller bertemu Simon Wiesenthal, seorang pemburu Nazi yang sukses membawa satu demi satu penjahat-penjahat itu ke pengadilan. 

Simon memberitahu Miller tentang organisasi bernama ODESSA, yang bertugas untuk menjamin hidup anggota-anggota Nazi terutama anggota SS. Simon dan kelompoknya telah beberapa kali menyusupkan agen ke dalam ODESSA, namun semuanya gagal. Miller ditawari menyusup dan setuju, dengan syarat ia mendapatkan sebuah data bernama Odessa File, yang memuat data semua anggota SS. Selama beberapa waktu ia dilatih oleh mantan anggota SS senior menguasai hal-hal dasar dalam organisasi agar dapat melewati interogasi. Miller berhasil menguasainya, dan penyusupan awalnya pun sukses. Nasib baik Miller hampir berakhir ketika pihak ODESSA mencurigainya, karena selama ini mereka telah mendengar kabar seorang wartawan yang memburu Roschmann. ODESSA kemudian mengirimkan seorang pembunuh untuk menghabisi Miller.

Roschmann secara kebetulan juga seorang keyman dengan kode Vulkan, bertanggungjawab atas sebuah proyek yang dijalankan ODESSA untuk menghancurkan Israel dan Mesir. Orang-orang yang ditemui Miller sepanjang perjalanan penasaran dengan motif yang membuat Miller mengejar orang ini. Miller selalu menjawab bahwa ia merasa berkewajiban menangkap pembunuh rakyat, namun belakangan diketahui motif aslinya ketika ia berhadapan langsung dengan Roschmann.
Mossad, intelijen Israel yang mendengar tentang Miller pun akhirnya mengirimkan agen terbaiknya, Josef untuk membuntuti Miller dan melindunginya jika diperlukan. Sebab, pengejaran Miller atas motif pribadinya akan berdampak pada kelangsungan proyek ODESSA.

EPILOG
Bagian menegangkan adalah kejar-kejaran pihak ODESSA yang berusaha menghabisi wartawan muda itu. Saling mendahului dan mendapatkan jejak, lalu Miller yang berusaha kabur mati-matian. Keren juga lho :P
Ada sebuah detail mengagumkan tentang pembuatan bom plastik sederhana di dalam novel ini, ketika pembunuh kiriman ODESSA memasang bom di bawah mobil jaguar Miller. Saya rasa ini agak berbahaya, siapa tahu ada orang iseng yang mencoba praktek dan berhasil -_- wuih bahaya itu.
Cocok dibaca oleh penggemar novel thriller suspense, penggemar Frederick Forsyth (ya iyalah) dan penggemar kisah-kisah Nazi.
Berhasilkah Miller melaksanakan motif pribadinya dan mendapatkan berita, atau pihak ODESSA ternyata lebih cepat?

Ngomong-ngomong, novel ini telah difilmkan Ronald Neame dibintangi Jon Voight (Peter Miller) dan Maximillian Shell (Eduard Roschmann) di tahun 1974. Waaa pengen nonton, padahal film ini udah lama banget ya :v

#review #book review #Odessa File #Frederick Forsyth #Odessa File review

Tuesday, June 3, 2014

[Read & Review] - Giant Killing


Okeee!! Setelah me-review Banana Fish, kali ini saya akan membagikan sebuah komik yang akhir-akhir ini bikin saya ketagihan sampai ngulang dua kali! :D
Yep that's right! Giant Killing! Haha! Jangan disamain Jack The Giant Slayer ya, ini bukan film. Ini komik, manga :v
Berbeda dari ekspektasi yang mungkin muncul ketika kita lihat judulnya "Giant Killing", komik ini bukan kisah dongeng atau action yang fantasi banget. Justru komik yang dekat dengan kehidupan nyata.

 
Giant Killing sebuah manga yang ceritanya dibuat oleh Masaya Tsunamoto dan digambar oleh Tsujitomo. Tentang genre, kalau menurut saya pribadi genrenya adalah : sport, piece of life, komedi. Mungkin bakal bertambah seiring saya mendalami membacanya :D
Manga ini mengambil tema sepakbola dalam negeri, yaitu sepakbola Jepang. Yang dibahas adalah liga Jepang dan pertarungan para pemainnya dengan sesama pemain Jepang, bukan yang agak khayal kayak Kapten Tsubasa *buat fans Tsubasa, maaf ya >_<*

Komik ini dapat penghargaan Kodansha Manga Award ke-34 dan sekarang ini di tahun 2014 statusnya masih on-going dengan total 31 volume di negara aslinya. Di Indonesia kayaknya baru 22 (terakhir kali saya cek di bulan Mei kemarin) ~ huhu ~ lamanya ~
Furthermore, selain sudut ceritanya unik, komik ini gaya gambarnya juga nggak mainstream. Dibilang realis juga nggak, tapi shojo-ish juga nggak. Keren deh, apalagi penggambaran ekspresi kaget para tokohnya bikin ngakak. Suka banget sama adegan komedi dan watak-watak tokohnya XD

PLOT
Klub sepabola divisi 1 liga Jepang, ETU (East Tokyo United) sedang dalam keadaan depresi. Kalah berturut-turut sudah jadi kebiasaan. Juru kunci adalah julukan mereka. Pokoknya langganan kalah dan yang jelek-jelek gitu deh. Sebenarnya dulu mereka klub nomor satu dan ngetop banget. Pendukungnya banyak dan baik pemain, manajemen tim dan suporter semuanya saling bersahabat. Sejak ditinggal pergi sang ace, Takeshi Tatsumi--yang menerima tawaran klub luar negeri--ETU jatuh ke divisi dua dan mengalami masa-masa berat yang menyedihkan. Berkat perjuangan Murakoshi, ace ETU yang baru sekaligus kapten, mereka kembali ke divisi satu, tapi tetap dengan rekor buruk.

Akhirnya, Goto, GM sekaligus teman lama Tatsumi pergi ke Inggris bersama Yuri dari bagian humas untuk mencari Tatsumi. Di sana mereka menemukan Tatsumi menjadi manajer sekaligus pelatih tim sepakbola divisi lima Inggris mengikuti kejuaraan amatir dan amat disayang warga kota. Padahal, mereka berniat meminta Tatsumi kembali ke Jepang dan jadi manajer ETU. Akhirnya setelah mengalami perdebatan sulit, Tatsumi kembali ke Jepang dan menjadi manajer baru ETU.

Perjalanan ETU di bawah kepemimpinan Tatsumi tidak langsung lancar. Tatsumi berniat merombak ETU dari dasarnya, menimbulkan kericuhan oleh suporter setia dan pemain-pemainnya sendiri. Namun sedikit demi sedikit mereka menemukan ritme permainan dan mulai menerjang menjadi tim sepakbola yang lebih baik. Mereka mulai berkembang.

Cerita kemudian fokus dari satu pertandingan ke pertandingan lain. Emosi antarpemain, persaingan suporter lama dengan suporter baru, perkembangan pemain dan perebutan posisi. Bagus banget deh. Entah ending-nya bakal kayak apa nanti :D

CHARACTERS
Takeshi Tatsumi
Tokoh sentral cerita. Manajer sekaligus mantan ace ETU. Nyentrik, aneh, kadang kayak nggak punya gairah hidup atau semangat bertarung, bicara blak-blakan, tapi kalau udah tentang sepakbola, kayaknya dia tahu segalanya deh :D

Shigeyuki Murakoshi
Kapten ETU dan juga teman se-klub dengan Tatsumi dulu. Nomor punggung 6. Sifatnya keras, apalagi terhadap diri sendiri, disiplin, dan pendiam. Tapi sangat nggak suka kalah, dan suka menanggung semua sendirian. Sejak kedatangan Tatsumi sebagai manajer, bebannya berkurang dan ia bisa fokus menikmati sepakbola untuk dirinya sendiri. Posisi midfielder, tapi kayaknya lebih cenderung ke midfielder bertahan.

Daisuke Tsubaki
Penggugup, pengecut, pemalu, tapi kalau mau serius punya daya terobosan luarbiasa. Kelebihannya ada di kecepatan dan kelincahan. Ia disebut-sebut sebagai Tatsumi kedua oleh pencari bakat ETU, Pak Kasano. Tsubaki baru berusia 20 tahun ketika direkrut, dan sejak Tatsumi merombak formasi tim, dia jadi starting member. Posisi sama dengan Murakoshi, midfielder. Ia sering beraksi di saat-saat kritis dengan menantang dirinya sendiri yang pengecut. Menurut saya sih, sifatnya manis, tapi kalau di tengah-tengah remaja cowok kayak gitu disebut herbivora, lembek. Nomor punggung 7, sama dengan Tatsumi dulu.

Luigi Yoshida a.k.a Gino
Playmaker ETU. Posisinya midfielder menyerang. Blasteran Jepang-Italia dan digemari banyak cewek. Penyakitnya yang serius adalah narsis berat dan tidak suka repot. Sejak Tatsumi jadi manajer, Gino jadi banyak main. Dulunya dia malas-malasan walau berbakat dan jadi salah satu pemain penting di ETU. Dijuluki sebagai 'Pangeran' oleh teman-teman klub dan suporter. Nomor punggung 10.

Kazuki Kuroda
Si botak yang blak-blakan dan penuh semangat. Emosional, tapi sifatnya yang terbuka itu sangat membantu buat tim. Ia sering bentrok pendapat dengan Tatsumi, tapi ia melakukan yang terbaik untuk tim, jadi sering kalah pendapat, haha. Posisinya defense, center back. Dulu ia pembela Murakoshi saat Tatsumi mencopot Murakoshi dari posisi kapten, tapi akhirnya ia bisa berakrab ria dengan pemain lain. Nomor punggung 2.

Yusaku Sugie
Akrab dipanggil Sugi. Posisi sama dengan Kuroda, dan juga teman baik Kuroda. Berbeda dengan temannya, Sugi tenang dan pintar. Cenderung banyak berpikir dibanding mengatakan pendapatnya, tapi setiap pendapatnya penting dan tepat. Secara teknik dia di atas Kuroda, tapi sering menghormati mental Kuroda yang positif.

Hiroshi Midorikawa
Biasa dipanggil Dori atau Kak Dori. Kiper ETU yang sangat tenang dan bijaksana. Ia yang paling tua dan veteran di klub, juga mantan kiper timnas Jepang. Bahkan tampangnya pun udah menggambarkan kalau dia orangnya tenang dan terkendali! Dori jarang berpendapat, tapi semua kata-katanya saat diskusi tim sangat penting.

Yuri Nagata
Fans Tatsumi sejak kecil yang sekarang bekerja sebagai humas paling bersemangat di ETU. Ayahnya ketua klub. Sifatnya sangat blak-blakan, sering khawatir dengan tingkah Tatsumi yang tidak mencerminkan manajer teladan, dan sering marah-marah pada Tatsumi. Sebenarnya dialah yang paling menghargai cara melatih Tatsumi.

Ryo Akasaki
Karakter favorit saya nih :P
Posisi midfielder menyerang seperti Gino, tapi ia lebih sering maju jadi kayak forward. Akasaki seumuran dengan Tsubaki, tapi sifatnya keras, blak-blakan dan sok keren. Kesannya sombong, tapi kata-katanya benar. Ia yang sering punya pendapat berbeda dan bentrok dengan Kuroda yang menganggapnya junior kurang ajar. Tapi tekniknya bagus, sampai terpilih jadi anggota timnas olimpiade.

TOKOH LAIN BERDASARKAN POSISI
Midfielder : Hotta, Tanba
Forward : Yotaro Natsuki, Kyohei Sera, Sakai
Wing Back : Kiyokawa, Ishigami, Ishihama (ditransfer ke Kobe)
Goal Keeper : Sano
Pelatih : Matsubara

Dan masih banyak lagi tokoh lain. Banyak banget. Nggak mungkin saya sebutkan semuanya :v

KESIMPULAN
Reccomended manga, apalagi buat yang nggak suka komik dengan jalan cerita biasa aja. Di komik ini, tim ETU nggak selalu menang. Kalau menang pun pasti dengan sangat bersusah payah dan dalam kondisi lawan tidak sempurna. Perjalanan tim ETU dan Tatsumi sangat layak diikuti! :D
dari kiri ke kanan : Tatsumi, Dori, Kuroda, Sugie, Tsubaki, Gino, Tanba, Ishihama, Kiyokawa, Sera, Akasaki, Murakoshi
#reviewkomik #GiantKillingmanga #reviewmanga