Wednesday, May 28, 2014

Kenapa Cewek Suka Yaoi?

PERINGATAN!
Oke, peringatan ini mungkin berlebihan, tapi posting ini akan membahas tentang yaoi (genre komik boys love) dan yuri (genre komik girls love) yang mungkin menjijikkan dan 'nggak banget' bagi beberapa orang. Saya tidak bertanggungjawab atas perubahan cara pikir dan kesan yang mungkin akan Anda alami setelah membaca posting ini, jadi pastikan apakah Anda benar-benar pada level penasaran dan 'kuat' dan 'terbiasa' untuk ikut membahas topik ini, atau hanya sekadar iseng :v Kalau nggak suka topiknya, berhenti baca dan tutup tab browsernya!
WARNING!
Okay, this may be an excessive action but this post may found offensive and disgusting for some people, because it's talking about yaoi (boys love) and yuri (girls love) genres in mangas/comics. I'm not responsible if this post may change your point of views, or disgust you after you read it. Make sure you are in the level of curiosity, 'tough' and 'familiar' to discuss this topic, or just reading it without any serious purpose :v If you don't like the topic, stop reading and close the browser tab!

PERSONAL EXPERIENCE

Oke, saya sudah memperingatkan. Tapi memang topik ini bisa jadi menjijikkan dan, suer, 'nggak banget' buat beberapa orang, dan saya hanya pada level ingin berbagi dan berdiskusi dengan orang-orang yang penasaran seperti saya. Topik ini sudah santer beredar sejak bertahun-tahun lalu di situs-situs diskusi seperti Yahoo! Answers atau blog, bahkan ada pula buku-buku bernada sama yang telah diterbitkan dan tersebar luas. Saya baru merasakan penasarannya beberapa jam yang lalu, ketika saya mendapati diri telanjur suka dengan komik-komik online, terutama yang doujinshi (parodi buatan sendiri/bukan dari pengarang resmi, yang karakternya diambil dari komik terkenal) bergenre boys love. Saya juga jadi penasaran, kenapa saya begitu suka? Rasa deg-degan (serius) yang saya rasakan dalam membaca terasa beda banget saat saya baca komik romantis yang straight (cewek x cowok).

Nggak selalu tentang yang erotis. Sederhananya, ada dua kelas dari genre boys love. Yang pertama adalah yang lembut dan ringan, biasanya tersamar sebagai persahabatan yang "lebih", lebih dikenal dengan shounen ai. Untuk subgenre ini nggak ada bersentuhan kulit secara berlebihan.
Versi yang lebih berat dan mengarah ke erotisme dikenal dengan yaoi. Ya, bisa ditebak lah kalo adegan seksual cowok sama cowok seperti apa. Salah satu dari kedua cowok kasmaran itu akan 'berperan' jadi 'cewek', biasanya yang karakter maskulinitas lebih 'lemah', tapi sejujurnya nggak selalu seperti itu. Ada juga ceritanya hanya berkisar tentang pergolakan batin saja, perasaan, dan yang saya suka adalah kerumitan kisah cintanya lebih kompleks, lebih intens. Romantisme yang saya rasa jarang bahkan beberapa plot hampir tidak mungkin ditemukan di komik roman biasa. Saya lemah sama yang kayak begitu. Aduh jadi curcol.

Awalnya saya bukan fujoshi (penggemar genre boys love, sebutan ini khusus untuk cewek). Saya baca semua genre komik mulai dari shojo, shonen, seinen, kadang keselip hentai juga *waduh* tapi kalau cari-cari gambar wallpaper anime di internet seringkali di mesin pencari tuh kecampur dengan gambar-gambar dari fans (fanart) yang berbau yaoi. Dan yang bikin shock adalah gambarnya keren, cowoknya jadi cakep-cakep, seksi menawan mempesona menggoda gitu deh. Yang namanya cewek kan emang lemah sama cowok ganteng, itu bawaan, ya kan ya kan :D
Terus sedikit demi sedikit *nabung?* saya mulai baca-baca genre ini mulai dari yang ringan sampai yang "berat". Awalnya eneg juga lihat adegan kayak gitu, tapi kemudian saya berusaha anggap biasa ajalah, namanya juga karya orang. Berfantasi itu kan nggak bayar. Sebagai orang serakah, saya baca semua genre manga. Tapi jujur, saya nggak terlalu suka mempublikasikan kesukaan saya akan yaoi. Entah kenapa rasanya malu juga ketika kamu begitu berbeda -_-

BERBAGAI PENDAPAT
Anyway, topiknya hampir melenceng jauh. Sebelum membuat posting ini, saya berusaha mencari artikel-artikel sejenis yang sudah lebih dulu membahas topik ini. Saya baca-baca dari komentar, kesaksian/pengakuan/keterangan *ciaelah* dari penggemar-penggemar genre tersebut. Penggemarnya pun meliputi berbagai jenis, bukan karena kelainan jiwa:
-Cewek, straight (bukan lesbian), dan sukanya cuma genre yaoi. Nggak suka genre yuri.
-Cewek, straight, dan suka dua-duanya, baik genre yuri maupun yaoi.
-Cewek, straight, cuma suka genre yuri.
-Cowok, straight (bahkan punya pacar), tapi suka yaoi.
-Cowok, straight, suka yuri.
-Cowok, straight, suka dua-duanya.
-Cowok, biseksual, suka salah satu atau dua-duanya.
-Cewek, biseksual, suka salah satu atau dua-duanya.
Jadi, rata kan? Kalau cewek lesbian atau cowok gay sudah tentu suka cerita-cerita kayak gitu. Tapi kebanyakan yang ngaku di forum diskusi justru cowok dan cewek normal, yang selera pasangan hidupnya tetep dari lawan jenis. Lantas kenapa mereka suka genre kayak gitu, padahal ada juga yang punya pacar (dan pacarnya marah-marah, bahkan curiga)?

WHAT THEY SAY ABOUT YAOI AND YURI
"Saya pernah nonton sebuah film. Ada cowok dan cewek dalam mobil, kayaknya mereka pacaran. Si cewek tampaknya marah, dan si cowok menangkap tangannya, mendorongnya, dan menciumnya paksa. Cewek itu nangis, tapi nggak berdaya. Si cowok tetap menciumnya, agak kasar. Saya langsung matikan chanel itu. Saya nggak suka lihat cewek jadi korban, walaupun hanya dalam film. Bagi saya, akan lebih menegangkan kalau si cewek itu diganti dengan cowok yang lebih lemah dan lebih cantik dari cowok satunya. Saya benci kenyataan kalau jenis kelamin saya menjadi sebuah pertanggungjawaban. Saya benci dengar berita cewek-cewek diperkosa. Kalau cowok dan cowok, cowok yang lebih lemah akan bisa melawan. Buat saya itu lebih menarik dan menegangkan."
Penerbit Yaoi Press, pria, straight. Saya ringkas dari artikelnya Why Women Like Yaoi.

"Who the hell cares? Siapa peduli? Saya bicara tentang selera. Ada orang yang suka cerita petualangan, kami suka roman. Anggota dan pembaca setia kami setuju bahwa mereka memilih cerita-cerita tersebut bukan hanya karena yaoinya, bukan karena percintaan cowoknya, tapi karena ceritanya. The good story telling. Lalu kenapa cewek suka yaoi? Ya, karena mereka suka. Selesai."
Penerbit, pengarang cerita genre yaoi, Ray The Reign Teams. Saya ringkas dari artikelnya di sini Why Women Like Yaoi [raythereign]

"Alasan pertama, wanita suka berkompetisi. Dalam genre yaoi, tidak perlu ada kompetisi atau mungkin membandingkan diri dengan tokoh utama cewek (karena kita naksir tokoh cowoknya), karena nggak ada tokoh cewek untuk dibandingkan. Alasan kedua adalah idealisme. Dalam genre yaoi, cowok-cowoknya nyaris sempurna. Memang ada beberapa cacat, tapi semuanya *diusahakan pada gambar* terlihat tampan/memesona. Dalam yaoi juga tidak ada perselingkuhan, dan banyak pengakuan cinta. Alasan ketiga, karena dua lebih baik daripada satu saja. Dua orang cowok ganteng lebih baik daripada satu, 'kan?"
Yahoo Contributor Network, Mimi Wex. Saya ringkas dari artikelnya di sini Yahoo! Why Women Like Yaoi.

"Saya menemukan banyak komik genre yaoi yang punya cerita bagus. Saya pribadi suka karena gambarnya (artwork) dan ceritanya bagus, bukan karena adegan seksualnya."
Komentar keasbo_fairy di forum Yahoo! Answers, saya ringkas dari sini Yahoo! Answer

""Serangkaian studi oleh Meredith Chivers dan rekan-rekannya di Pusat Kecanduan dan Kesehatan Mental di Toronto menunjukkan bahwa... perempuan, baik gay dan straight, akan menunjukkan langsung stimulasi genital (yang diukur dengan photoplethysmograph a) dalam menanggapi film-film seksual atau kegiatan, terlepas dari siapa yang terlibat di dalamnya - laki-laki, perempuan, gay, straight. Para pria, bertentangan dengan stereotip masyarakat, cenderung untuk merespon dengan cara yang terbatas, mereka terangsang hanya dengan rekaman yang sesuai dengan orientasi seksual mereka dan kepentingan. Para wanita dalam menanggapi boy x boy ini dapat tergerak dari segi psikologi maupun reaksi fisik."
Gia Manry, diringkas dan dikutip dari sini Why Girls Like Yaoi - Biological Side


"Sebagian besar yaoi dibuat oleh perempuan, dan untuk perempuan. Setidaknya seorang antropolog menyebutkan bahwa yaoi adalah sebuah produk persilangan antara dua budaya tabu yang cukup universal: homoseksualitas dan kebebasan perempuan atas ekspresi seksual. Isi yaoi beragam mulai dari situasi romantis dengan materi dewasa yang sedang hingga subgenre yang mengandung fetishisme, meliputi anthropomorphisme, cosplay, seks tidak konsensual atau “non-con”, monster, inses, shotacon (semacam pedofilia yang suka anak cowok imut yang masih di bawah umur), dan ilustrasi-ilustrasi tabu lain yang beragam mengenai homoseksualitas."
Dikutip dari wikipedia.

Well, Anda mungkin bertanya-tanya kenapa saya banyak comot keterangan dari orang luar negeri (yang kemudian saya terjemahkan ke bahasa Indonesia dengan paksa), alasannya adalah mereka sering lebih jujur dan lebih terbuka daripada kaum kita. Mereka tanpa tedeng aling-aling bercerita dan berbagi dengan bebas apa yang mereka suka dan mereka yang nggak sependapat tidak menghakimi begitu saja, dan perdebatan tidak terhindarkan. Tidak masalah bukan? Mari kita akui masyarakat kita memang punya kebiasaan tersendiri, salah satunya adalah mudah menghakimi.

Sebenarnya masih ada *banyak* lagi komentar-komentar, tanggapan dan keterangan. Ada juga yang terang-terangan bilang kalau dia nggak suka hal semacam itu, dan nggak ada yang marah/menjelek-jelekkan pendapatnya. Tapi saya nggak bisa sertakan semuanya di sini kan :v bisa overlongpost nanti, capek bacanya. Saya hanya ambil beberapa pernyataan yang sudah mewakili pendapat-pendapat yang kurang-lebih sama. Gimana, ada yang sependapat dengan salah satu pendapat di atas?

ABOUT YURI
Girls Love
Tentang genre yuri, saya pribadi nggak begitu suka karena ceritanya kurang 'menantang' / 'menegangkan', hanya manis-manis aja dan itu jujur monoton. Malah kadang cuma kayak persahabatan aja (baca beberapa). Jarang ada komik yuri yang bagus jalan ceritanya (atau mungkin saya yang terlalu bego nggak bisa nemu yang bagus). Saya nggak selera sama genre yuri soalnya, hehe. Kurang-lebih pendapatnya bisa disesuaikan dengan yang di atas ~
Banyak juga kok, cowok yang suka yuri walaupun mereka straight. Dan cewek yang suka yuri juga ada, nggak peduli straight atau memang lesbian.

BACA YAOI/YURI ITU DOSA NGGAK?
Terkait pertanyaan ini, ada sebuah thread luar negeri yang membahasnya. Kebanyakan dari mereka menjawab :
-Bukan dosa, karena menurut saya dosa adalah sesuatu yang mengganggu/menyakiti orang lain.
-Dosa atau tidak, siapa peduli?
-Yah, itu dosa. Tapi siapa peduli?
-Dosa. Jauhilah.
Selengkapnya baca aja di sini Is Reading Yaoi A Sin?

PENDAPAT NETIZEN INDONESIA
Sebelumnya, saya nggak pernah berpikir kalo jadi fujo/fudan itu dosa
Karna para fujo/fudan disini hanya sebatas "menyukai" bukan yg "melakukan"
So intinya, tergantung kitanya aja. Kalo terlalu serius sama agama, mending nggak usah menggeluti dunia animanga. Semua tergantung gimana kita memfiltrasi diri [oleh Ochibi on Yahoo! Answer]

tergantung dari situasi :D yah dosa juga sih... tapi klo Fujoshi dan Fudanshi masih di lingkungan 2D Have Fun saja! [oleh anonim on Yahoo! Answers]

Saya rasa, itu bukanlah sesuatu yg bisa dijawab oleh orang lain... :)
Karena itu tergantung hatimu. Jika hati nuranimu bilang itu benar, maka itu benar. Jika hati nuranimu yg terdalam bilang itu salah, maka itu salah :) Saya pribadi menyukai kebebasan, dan bagi saya tidak ada sesuatu yg bernama 'garis batas' yg membatasi suatu hubungan. Toh, cinta itu universal ^_^ (hehe, jadi sentimental deh..) setiap orang berhak menjalaninya sesuai keinginan mereka masing2. Mau jadi heteroseksual atau homoseksual, itu gak masalah. So, saya sih enjoy aja, karena saya merasa tidak ada yg salah dengan yaoi ataupun yuri. [oleh Noel di Yahoo! Answer]

dosa lah bro...jgn menyimpang jalan hidup yang telah di tetapkan-NYA...orang yang memilih jalan untuk menjadi fujoshi/fudanshi pasti mereka ga bakalan nyaman,tentram dan berkasih sayang ...jika mereka bilang mereka senang dengan apa yang telah dipilihnya maka itu hanya di mulut...tidak hatinya..manusia itu akan merasakan kasih sayang sempurna jika berpasang-pasangan...jdi tinggalkan semua itu...ocreee...forget it..:) [oleh ? di Yahoo! Answer]

Menurut saya?
Jawabannya relatif, bukan. Apakah Anda umat beragama atau tidak? Kalau tidak, jawaban tentu bisa sesukanya, apapun yang Anda rasakan. Umat beragama pun masing-masing agama punya aturan tersendiri. Dalam agama saya, homoseksualitas jelas dilarang. Tuhan memusnahkan Sodom dan Gomora karena homoseksualitas sebagai salah satu penyebabnya. Memang nggak ada catatan larangan spesifik apakah membaca sesuatu yang berkaitan dengan homoseksual sendiri termasuk dosa atau tidak, tapi kalau hati nurani bilang dosa, sehalus apapun kata hati itu terdengar *ciaelah bahasanya*, itu tetap dosa.
Tapi itu kan karya seni? Kalau dosa, berarti banyak kontributor, baik pengarangnya, tukang gambarnya, penerbitnya, scanlatornya, bahkan pembacanya juga berdosa?
Saya baca yaoi, bukan berarti saya mendukung pernikahan gay dan homoseksualitas di dunia nyata.

Saya mohon maaf kalau saya terkesan menghakimi. Saya tidak bermaksud menghakimi atau menentukan sesuatu itu benar atau salah, tapi menurut saya ini (bukan) hal yang baik, karena pada awal-awal baca yaoi, perasaan saya nggak enak kayak ada yang mengganjal. Sekarang sih udah biasa. Atau mungkin rohani saya yang udah tumpul? Nggak tahu juga.

Pada akhirnya, saya tidak berharap artikel ini memengaruhi Anda. Menonton, membaca sebuah karya seni adalah kebebasan individual, tidak ada yang bisa memaksakan. Tapi kalau saya ditanya, Anda sudah tahu jawabannya :)

#Yaoi #Yuri #Fujoshi

Tuesday, May 27, 2014

Read&Review - Gadis Bunga Kamelia (Alexandre Dumas, Jr)


Review kali ini tentang kisah roman klasik yang sudah diangkat ke layar lebar 20 kali dan bahkan diubah ke versi drama operanya. Gadis Bunga Kamelia, atau bahasa kerennya La Dame aux Camelias karya Alexandre Dumas, Jr., ini kisahnya cukup tragis. Jalan ceritanya juga beda banget dengan novel-novel roman biasanya *emang biasanya gimana?*

Ini nih novelnya :3
SAYA MEMBACA...
Saya sudah pernah meminjam buku ini tentu saja di Perpusda tercinta, tapi nggak selesai. Entah kenapa sama sekali nggak ada semangat untuk melanjutkan. Akhirnya tanggal 23 kemarin saya meminjamnya dan kali ini bener-bener pengen nuntasin novel ini sampai halaman paling akhir :v
Prolognya cantik, dan karena di awal cerita, sang tokoh utama Marguerite Gautier ini diceritakan sudah meninggal, saya jadi bingung apa jadinya novel ini, apa flashback semua ya? -_- Dan ternyata iya :3
Diangkat menjadi film layar lebar berkali-kali dalam berbagai judul, jadi drama opera/teater, bahkan jadi koreografi balet.
Novel ini bukan salah satu novel favorit saya, tapi menurut saya pantas untuk mendapat perhatian khusus karena gaya bahasanya yang, wow, entah harus dengan kata apa saya menggambarkannya *miskin kata-kata* dan alur kisahnya yang beda banget >_<
Jadi, mumpung ceritanya masih segar dalam ingatan, saya tuangkan dalam review kali ini :D


THE STORY GOES ~
Dari total 27 bab, 3 bab awal menceritakan peristiwa yang dialami tokoh 'aku', yaitu Monsieur Alexandre Dumas, Jr. sendiri. Dumas, Jr. menceritakan pengalamannya mengunjungi sebuah apartemen Rue d' Antin no. 9 yang sangat indah dan mewah, menandakan kejayaan seorang wanita dalam kecantikan dan kemasyhurannya. Wanita ini telah meninggal dunia, dan para penagih utang berniat melelang segala macam benda yang masih layak beli yang ia miliki. Menurut Dumas, Jr., wanita ini cukup beruntung meninggal dalam usia muda, dalam kecantikan dan kekayaannya, dalam popularitasnya sebagai wanita simpanan peringkat atas.

Sepertinya dalam setting cerita ini, pria-pria terhormat dan cukup kaya untuk membelanjakan uangnya demi hobi mahal bernama kekasih gelap sudah jadi tren. Tak heran melihat seorang wanita yang amat cantik berganti-ganti pasangan setiap harinya, dan kerjaan mereka pun sama : pesta dansa, teater, dan pesta-pesta lainnya. Marguerite Gautier bukan pengecualian. Malah, ia bisa dibilang salah satu wanita simpanan paling mahal, paling cantik, dan paling populer. Kematiannya telah mengundang perhatian banyak pihak, termasuk Dumas, Jr. yang kemudian tertarik untuk menghadiri pelelangan barang-barangnya.

Dalam pelelangan, Dumas tertarik untuk membeli salah satu barang, yaitu sebuah buku berjudul Manon Lescaut dan ia menawar buku seharga 10-15 franc itu menjadi 100 franc. Alasan mengapa ia begitu tertarik adalah di halaman depan buku itu tertulis sesuatu, yang tentu bukan tulisan asli dari buku. Ketika ia mendapatkan buku tersebut, tulisan yang menarik perhatiannya itu demikian :
Manon kepada Marguerite.
Merendah,
Tertanda Armand Duval.
Jelas buku ini adalah pemberian dari Monsieur Armand Duval. Lalu siapa Tuan Duval ini? Apa hubungannya dengan Marguerite si Gadis Kamelia? Buku inilah yang kemudian mempertemukan Dumas, Jr. dengan Armand Duval.

Armand datang dengan menangis dan segala bentuk kepedihan orang yang ditinggal kekasihnya terangkum dalam gerak-geriknya. Armand berniat memiliki satu saja peninggalan Marguerite, dan berdasarkan info pelelangan, ia mencari Dumas yang membeli buku pemberiannya. Berniat membeli kembali, namun Dumas, Jr. memberikannya cuma-cuma bahkan berniat membantu permasalahan yang dihadapi Armand. Armand berjanji akan menghubunginya. Namun ia tak kunjung datang, dan Dumas sudah penasaran. Akhirnya dengan caranya sendiri Dumas mencari informasi tentang Armand dan Marguerite, sampai ke pusara Marguerite yang dipenuhi bunga kamelia.

Juru makam menjelaskan bahwa Armand sering datang mengunjungi makam tersebut, memintanya menghias makam itu dengan bunga-bunga kamelia, dan bahkan telah memroses permintaan untuk memindahkan kubur Marguerite. Dumas, Jr. kemudian bertemu kembali dengan Armand dan keduanya menjalin pertemanan. Armand pun menceritakan segala kisah cintanya dengan Marguerite Gautier, kala ia berada di tempat tidur karena demam dan kelelahan. Menurut saya, Armand ini cowok cengeng bener :v

Cerita Armand pun dimulai, flashback kehidupan masa lalunya beberapa tahun sebelum Marguerite meninggal. Armand jatuh cinta pada pandangan pertama pada Marguerite, dan bertingkah konyol setelah dipermalukan Marguerite pada perkenalan pertama mereka di sebuah teater. Namun kemudian ketika Marguerite jatuh sakit karena TBC, Armand rajin menanyakan kabarnya secara anonim. Armand berkenalan dengan Madame Prudence Duvernoy, teman dekat dan tetangga Marguerite. Bersama temannya, Gaston, Armand diperkenalkan Madame Duvernoy pada Marguerite. Mereka berpesta, sesuatu yang kemudian tidak disukai Armand. Dalam pesta itu, Marguerite batuk keras dan setitik darah terdapat pada saputangannya. Armand menangis iba, dan hati Marguerite tersentuh. Atas desakan-desakan Armand, Marguerite bersedia menjadi kekasihnya asal Armand menuruti apa yang ia mau. Tentu saja, keperluan hidup Marguerite mencapai ratusan ribu franc setahun, dan Armand yang berpenghasilan hanya delapan ribu franc setahun tidak akan sanggup membiayai. Marguerite harus tetap bergantung pada seorang duke tua kaya raya yang mengganggap Marguerite putrinya sendiri, karena ia mirip putrinya yang sudah meninggal.

Kecemburuan dan pergolakan batin terus melanda Armand. Diceritakan betapa ia mengirim surat sindiran tajam pada Marguerite ketika Marguerite berduaan dengan Comte G., salah satu penggemarnya. Namun akhirnya mereka bersatu kembali, dan memutuskan untuk berlibur ke pedesaan. Selama berbulan-bulan di pedesaan, Armand menyadari perubahan sikap dan kesehatan Marguerite. Mereka jadi saling mencintai, bahkan cinta mereka nyaris ke monopoli dan tidak menyangka bahwa sebelum bertemu kekasih yang sekarang, mereka tidak percaya kalau dulu pernah mencintai orang lain. Marguerite dan Armand membeli sebuah rumah kecil yang nyaman di ujung Paris, namun kabar tersebut didengar oleh duke dan ayah Armand. Kesulitan pun datang silih berganti. Duke mencabut segala pembiayaan dan pembayaran utang yang diberikannya pada Marguerite sehingga Marguerite harus menggadaikan dan menjual semua perhiasannya. Hidup mereka pas-pasan.

Ayah Armand yang bijaksana dan penyayang tidak ingin Armand hidup dengan seorang wanita simpanan dan ingin ia memperhatikan masa depannya. Armand berencana melimpahkan semua warisan almarhumah ibunya demi Marguerite, yang tentu mempermalukan nama keluarga ayahnya. Demi cinta, atau yang bisa dikatakan dibutakan oleh cinta, Armand tidak mau mengalah. Ketika Armand menyangka semua telah berakhir serta menganggap kehidupan tenangnya dengan Marguerite akan tiba, ia salah. Mendadak, Marguerite memutuskan hubungannya. Meninggalkan sebuah surat menyakitkan bahwa ia tidak bisa melupakan kehidupan lamanya yang gemerlap dan mencintai orang lain. Malang bagi Armand, ia pulang kampung dan ayahnya berusaha menghiburnya.

Beberapa bulan kemudian, Armand kembali dan dengan segenap usahanya yang keji ia menyakiti hati Marguerite melalui kekasih barunya, Olympe. Teror, surat kaleng, bahkan Olympe sendiri mengatakan banyak hal yang menyakitkan Marguerite. Marguerite mencapai batas kelemahan fisik maupun batinnya, datang menemui Armand dan memohon supaya Armand berhenti menyakitinya. Armand kembali menyatakan cinta, namun Marguerite menolak. Ia masih cinta, tapi mereka tidak bisa kembali seperti dulu lagi. Setelah semalam bersama, Marguerite pergi kembali ke apartemennya menemui Monsieur N. Kesal, Armand mengirim surat menyakitkan beserta uang 500 franc sebagai 'tarif' Marguerite. Beberapa hari kemudian surat dan uang itu kembali. Marguerite telah pergi ke Inggris, dan tak ada yang bisa menahan Armand untuk tetap di Paris. Ia pergi ke Timur, dan mendapatkan surat pengakuan dari Marguerite. Pengakuan kebenaran yang ironis dari Marguerite.

Dua bab terakhir adalah buku harian Marguerite menjelang hari-hari kematiannya yang dibaca Dumas, Jr. Penjelasan mengenai pengkhianatannya pada Armand demi kehormatan seorang pria dan kebahagiaan seorang gadis, bagaimana posisinya sebagai wanita milik semua pria yang sanggup membayar dengan pria muda terhormat seperti Armand dan betapa cinta mereka dikutuk, betapa Marguerite kesakitan dan kemudian tak sanggup menulis, digantikan Julie Duprat, kawannya. Marguerite pun menuliskan perasaannya ketika ia lenyap dari semarak Paris dan orang-orang mulai melupakannya. Kenalannya, teman-temannya, tidak ada yang mengunjungi. Ia berharap Armand datang berkunjung, menuliskan bahwa kedatangan Armand akan membuatnya sehat kembali.

22 Februari, Marguerite meninggal. Julie Duprat mengakhiri buku hariannya. Dumas, Jr. selesai membaca. Cerita berakhir, Armand pulang ke rumah ayahnya ditemani Dumas, Jr. Saya mengutip satu paragraf di halaman akhir novel tersebut :
"Aku tak menarik kesimpulan dari cerita ini bahwa semua wanita seperti Marguerite mampu melakukan segala yang telah dia lakukan--jauh dari itu; tetapi aku telah menemukan bahwa salah seorang dari mereka mengalami cinta yang tulus dalam perjalanan hidupnya, bahwa dia menderita demi cinta itu, dan meninggal karenanya."
Seorang wanita simpanan pun layak mengalami cinta sejati.

KESIMPULAN...
Detail perasaan Armand benar-benar mengesankan dalam cerita ini, tapi saya kurang bisa merasakan bagian mana yang membuat Marguerite jatuh cinta. Seolah-olah Marguerite jatuh cinta begitu saja, tidak ada deskripsi dari sudut pandang Marguerite. Hanya dari Armand dan Dumas, Jr. Ada pula nasihat panjang-lebar dari Madame Prudence Duvernoy yang sangat indah tentang cinta. Anyway, maaf kalau banyak spoiler/bocoran dalam review saya yang mungkin mengurangi minat untuk membaca, karena sulit buat saya membuang beberapa detail :v
Reccomended novel :D

QUOTES
Saya jadi suka kebiasaan mengutip kata-kata indah dari novel-novel yang saya baca, jadi saya bagikan di sini :)
Aku tak pernah berani membenci seorang wanita pada pandangan pertama.
Alexandre Dumas, Junior

Bagi wanita yang tak memperoleh pendidikan yang mengajarkannya tentang kebaikan, Tuhan hampir selalu membentangkan dua jalan yang mengarah ke sana (kebaikan). Jalan penderitaan atau jalan cinta. Keduanya merupakan jalan yang sulit.
Alexandre Dumas, Junior

...,"Banyak hal yang akan diampuni dari dirimu karena kau telah mencintai sedemikian sering."
Alexandre Dumas, Junior

Jadilah baik, jadilah muda, dan jadilah benar. Perbuatan buruk hanyalah kesia-siaan
Alexandre Dumas, Junior

Mari kita meraih kebanggaan dalam perbuatan baik dan di atas semuanya, jangan pernah putus asa.
Alexandre Dumas, Junior

Anak-anak itu kecil dan dalam dirinya terangkum diri orang dewasa. Otak itu sempit dan dia memuat seluruh pemikiran. Mata hanyalah sebuah titik kecil dan dia dapat meliput ruang yang sangat besar.
Alexandre Dumas, Junior

"Kau masih mencintaiku?" Marguerite
"Kau masih perlu bertanya?" Armand

 Hidup itu menyenangkan, Kawanku tersayang. Semua itu tergantung warna kaca yang digunakan untuk melihatnya.
Prudence Duvernoy

... di tengah cintaku yang menggelora, aku bertanya-tanya apakah tak sebaiknya aku membunuh Marguerite agar dia tak pernah dimiliki lelaki lain.
Armand Duval

Jangan heran mengetahui rasa senangku dalam berkorban, Armand. Cintamu kepadaku telah membukakan hatiku untuk semangat mulia.
Marguerite Gautier

#LaDameauxCamelias #novel #reviewnovel #GadisBungaKamelia #quotes #quotes dari novel Gadis Bunga Kamelia #review novel Gadis Berbunga Kamelia

Wednesday, May 21, 2014

Read&Review - Kapten March (Geraldine Brooks)


Baru beberapa hari yang lalu saya menyelesaikan novel ini. Tentu saja, sumber bukunya adalah Perpustakaan Daerah Salatiga tercinta :v *still nggak modal* Habis gratis dan bukunya bagus-bagus kok, walau koleksinya belum lengkap *masih baru*. Semoga cepat mengumpulkan koleksi yang makin banyak!

SAYA MEMBACA...
Saya baca versi ini :)
Oke, novel ini bernasib sama kayak novel The Kite Runner dan The Day of The Jackal yang sudah saya review dulu. Maksudnya bernasib sama : sama-sama kebanyakan pujian dan ulasan positif dari banyak pihak, terutama pihak yang biasa merekomendasikan buku-buku bagus. Novel ini terinspirasi dari novel karya Louisa May Alcott yang terkenal, Little Women. Saya ingat banget sama cerita Little Women ini, karena versi komiknya yang berjudul Young Girls adalah komik pertama yang saya punya dan saya baca sekitar umur 7-8 tahun ^^
Bedanya adalah, novel Kapten March ini berfokus pada perjalanan hidup sang ayah dari empat bersaudara Meg, Jo, Beth dan Amy.
Ada juga sesi wawancara bersama sang pengarang, Geraldine Brooks di bagian akhir buku, pengantar untuk pembaca Kapten March, dan ulasan dari sang pengarang sendiri mengenai awal pembuatan karyanya.

THE STORY GOES...
Kapten March seorang pendeta abolisionis (menentang perbudakan kaum Negro) yang beristrikan Margaret Day (dengan panggilan sayang Marmee). Baik Marmee maupun March sangat menentang perbudakan, dan sejak awal pernikahan, mereka telah merencanakan untuk membuat tempat persembunyian sementara di rumah mereka khusus untuk budak-budak yang melarikan diri. March diminta berkhotbah di depan pemuda-pemuda yang akan berperang dan di akhir pidatonya, March menyampaikan dengan lantang bahwa ia akan ikut berperang. Tentu saja perannya adalah pendeta, tapi pangkatnya kapten. Tak disangka oleh March bahwa perang akan menorehkan luka batin yang akan menghantuinya seumur hidup, yang tidak mengizinkannya untuk hidup tenang dan bahagia.

Di medan perang, March menyempatkan diri menulis surat untuk istrinya. Ia bermaksud untuk menulis surat, memang, tapi ia tidak pernah berjanji untuk menulis dengan jujur. Ia tak bisa menceritakan situasi perang dan keadaannya saat itu sejujurnya. Bagaimana pergolakan batin yang dialaminya setelah berdiam diri membiarkan kawan seperjuangannya tenggelam, dan bahkan, ketika ia akhirnya dipertemukan dengan cinta pertamanya sewaktu muda, ia malah menuliskan kata-kata romantis bagi sang istri dan anak-anaknya.

Flashback terjadi, berkisah tentang masa muda March yang penuh semangat dan ambisi, mengumpulkan kekayaan dari pekerjaan-pekerjaannya yang sederhana. Kemudian ia bertemu sebuah keluarga, menghabiskan waktu di sana berbagi cerita dan pengetahuan dengan pemilik rumah. Namun tak semuanya berakhir bahagia, kenangan itu justru menakutkan bagi March pada akhirnya karena ia telah menyisakan luka bagi gadis cinta pertamanya, seorang budak Negro kuning yang anggun bernama Grace Clement. Ada pula flashback lagi yang menceritakan pertemuan March dengan Marmee, istrinya.

March yang ditentang banyak orang dalam peleton karena idealismenya dan karena dia pencinta Negro, akhirnya dipindahtugaskan dan ia memilih untuk berprofesi sebagai pengajar untuk budak-budak rampasan perang. Ia begitu bersemangat dan sedikit demi sedikit semangatnya menular, bahkan melunakkan hati pemilik budak-budak itu yang keras namun adil. Suatu malam, pemberontakan terjadi dan perkebunan yang dibantu March dibakar. Ia membiarkan pembunuhan terjadi dan justru bersembunyi menyelamatkan diri. Saat hendak menyelamatkan kawan-kawannya yang ditawan, March terluka parah dan demam pelana kuda yang dideritanya kambuh.

Ketika March ditemukan oleh pihak medis, istrinya mendapati bahwa ia nyaris tak bisa dikenali, dan fokus cerita berubah menjadi sudut pandang Marmee. Kebohongan-kebohongan dalam surat-surat itu pun terbongkar. Akhirnya, March harus memilih untuk menuruti kata hati dan menyelamatkan kawan-kawan Negronya atau hidup tenang di rumah yang hangat bersama keluarga namun dihantui rasa bersalah, ketakutan, dan kekecewaan terhadap diri sendiri.

KESIMPULAN
Saya merekomendasikan buku ini. Banyak pesan moral yang bisa diambil dari pergolakan batin seorang pendeta yang harus mempertimbangkan idealisme dan prinsip, komitmennya sebagai hamba Tuhan, atau mengikuti kata hati. Ketika semuanya berhubungan dengan orang-orang yang berharga baginya, maupun dirinya sendiri. Keren banget!

QUOTES
Ada beberapa kalimat-kalimat yang menurut saya bagus banget, dan saya bagikan kembali di sini :)

Jika seseorang kehilangan harta, bagus kalau dia pernah miskin sebelum memperoleh kekayaan itu, karena kemiskinan membutuhkan keahlian.
Kapten March

Duka tidak perlu selalu berkawan dengan putus asa.
Kapten March

Siapakah yang disebut pemberani--apakah orang yang tidak merasakan takut? Kalau ya, berarti keberanian hanyalah istilah sopan untuk otak yang sama sekali tak rasional dan tidak memiliki imajinasi.
Kapten March

Orang pemberani, pahlawan sejati, mungkin saja gemetar ketakutan, berkeringat dingin, dikhianati kandung kemihnya sendiri, namun demikian tetap maju untuk melaksanakan perbuatan yang ditakutinya.
Kapten March

Meyakini, bertindak, lalu dikalahkan oleh keadaan--kuakui itu sulit dihadapi. Tetapi kalau kita meyakini dan tidak bertindak, atau bertindak dengan cara yang diyakini salah oleh benang jiwamu.. Tindakan inilah yang tercela.
Margaret March

Aku tak lagi bersemangat, berani dan kuat
Semua itu berlalu sudah;
Aku siap (untuk) tidak berbuat (apapun)
Akhirnya, akhirnya
Pekerjaan setengah hariku sudah tuntas,
Dan hanya inilah jatahku.
Aku memberi kepada Tuhan yang sabar
Hatiku yang sabar.
Cephas White

Kau harus berhenti menganggap bahwa dirimu, entah bagaimana, bersalah untuk semua hal buruk yang terjadi... Kau bodoh kalau kau membiarkan penyiksaan ini membentuk masa depanmu.
Grace Clement

.. Aku hanya memintamu melihat bahwa hanya ada satu hal yang harus dilakukan saat kita jatuh, dan itu adalah bangkit, dan melanjutkan hidup yang terbentang di hadapan (kita), dan berusaha berbuat baik yang mampu dilakukan oleh tangan kita, untuk orang-orang yang kita temui dalam perjalanan itu.
Grace Clement

Jadi beginilah keadaannya mulai sekarang : aku akan berusaha sebaik-baiknya menjalani hidup di dunia orang hidup, tetapi hantu orang mati akan selalu dekat.
Kapten March

#reviewnovelKaptenMarch #KaptenMarch #novel #novelKaptenMarch #quotations #quotesCaptainMarch #GeraldineBrooks

Thursday, May 15, 2014

Makna Sebuah Pertemuan :)


http://meetville.com/images/quotes/Quotation-Sherman-Alexie-life-people-Meetville-Quotes-232705.jpgAsik bener judul posting kali ini ya :D Saya mau berbagi pengalaman saya, yang membuat saya sadar betapa kolot, kuper dan piciknya saya selama ini, dan betapa sebuah keputusan sederhana bisa berakibat besar bagi hidup kita.

Awalnya, saya dimintai tolong junior saya di SMA (cieh mentang-mentang udah mau lulus :P) untuk mainin peran jadi preman, kepentingan syuting film acara Paskah. Pertamanya eww males banget, ngapain nampang di video paskah kalo besok belum tentu bisa ikut acaranya. Tapi saya juga pingin melakukan sesuatu untuk mengisi liburan, melakukan sesuatu. Akhirnya saya tanggapi aja,'OK'. Singkat cerita saya berangkat, ketemu banyak orang di lokasi, dan ngobrol-ngobrol sambil nunggu kru film yang lain. Di sebelah saya ada seorang cewek yang saya yakini juga ikut berperan jadi preman, dilihat dari bajunya yang punk banget, tapi tampangnya sih agak alim lah. Saya nggak tertarik untuk berakrab-akrab ria dengan orang yang saya gak kenal, bukan berarti saya tertutup, tapi saya emang gak suka. Apalagi saya juga lagi baca komik, kalo ngobrol kan perhatiannya terpecah #egois :P

Waktu mulai pembagian peran, mau nggak mau saya tutup komik saya dan mulai ngobrol-ngobrol dengan orang-orang di sekitar saya. Eeehh siapa sangka, cewek di sebelah saya itu hobi nonton hardcore! 

Saya nggak mau prasangka-prasangka negatif menguasai pikiran saya sebelum saya ngobrol lebih lanjut dengannya. Saya enjoy aja dengan percakapan kami, dia cewek yang aktif, junior saya, dan sekolah di tempat yang notabene bidang pria. Perbandingan cowok dan cewek di sekolahnya bisa sampai 5:1.
Dia cerita, betapa kerasnya pendidikan di sana. Disiplin, salah sedikit suruh push up, nggak terkecuali siswinya. Saya yang selama ini merasa kuat jadi ciut. Masa' sih, anak semanis ini?

Di umurnya yang masih muda, dia udah sangat disiplin. Bangun subuh, rajin beribadah, aktif di sekolah, pemberani lagi, demi tugas dia nggak segan bertahan di sekolah sampai jam 20.00-21.00 dan pulangnya manjat tembok. Belum lagi dia jalan kaki. Dia punya banyak pengalaman di bidang supranatural karena dia punya berkat kemampuan bawaan lahir, suatu bidang yang saya takuti. Belum lagi di sekelilingnya cowok semua, dia juga suka denger musik metal dan hardcore sampai ke mana-mana, Jogja dan sekitarnya. Tapi dia tetap bertahan dalam prinsipnya, still virgin and pure. Memang kata-kata dan cara bicaranya bahasa slang, tapi tidak mengurangi sopan santunnya kalau memang diharuskan. Dia nggak ngerokok, absolutely no drugs, dan dia beda dengan teman-teman ceweknya yang udah jatuh dalam dosa perzinahan. Dia bahkan cerita tentang kisah asmaranya yang sehat dan pacarnya juga nggak pernah aneh-aneh.

http://spiritualnetworks.com/file/pic/photo/2012/05/8c929c239698b7598de9894b06783364_500.jpgJujur, saya malu. Sejak dini dia udah terlatih mandiri, bahkan dia berniat menghidupi dirinya sendiri, nggak merepotkan orangtuanya. Saya yang selama ini berkoar-koar mandiri dan tegas, tetap saja nggak bisa cari uang sendiri dan masih minta orangtua. Tentu saja saya bisa menjaga diri untuk nggak terlibat pergaulan bebas, karena saya menutup diri. Saya nggak pernah masuk ke dalam pergaulan itu, tentu saja saya aman. Tapi cewek ini sudah biasa dalam pergaulan tersebut dan masih kukuh pada prinsipnya. Saya malu, dan saya salut. Betapa keputusan sederhana yang saya buat untuk berpartisipasi di film ini telah mempertemukan saya dengan seorang teman baru yang saya kagumi. Jadi berkat itu nggak selalu jadi orang sempurna yang bisa melakukan segala hal dengan baik, kan?

Kita nggak akan bisa berubah kalau kita tidak melakukan apa-apa. Nggak akan ada yang berubah. Mau nggak mau, kita harus menghadapi proses untuk menjadi dewasa, walau pada akhirnya itu juga merupakan pilihan. Kita akan bertambah tua, tapi belum tentu tambah dewasa. Ketika usia kita bertambah, hal-hal yang dulu kita anggap sepele akan jadi rumit. Makin banyak pertimbangan. Itulah yang saya sendiri juga nggak suka dengan proses kedewasaan. Kita jadi mempertimbangkan banyak hal yang dulunya nggak pernah kepikiran. Karier, pendidikan, keluarga, bahkan cinta, buat kita yang terbiasa santai jomblo-jomblo happy akan mulai berpikir pentingnya pasangan hidup.

Pertemuan-pertemuan kita nggak bisa dianggap remeh. Siapa pun itu yang kita temui, apa latarbelakangnya, apa pendidikannya, berapa umurnya dan apa jenis kelaminnya, itu nggak penting. Kesan, pengalaman dan kenangan pertemuan itulah yang jauh lebih berharga. Ingatan yang kita simpan sampai akhir usia, yang mungkin bakal terkenang lagi, flashback menjelang ketiadaan. Kalau kita tetap diam, tidak bergeming, tidak melakukan apa-apa, maka kita nggak akan bertemu siapa-siapa. Tidak akan menambah apa-apa, sekedar kenangan atau pengalaman. Ketika pada akhirnya kita memutuskan untuk keluar dan siap untuk bertemu, bersosialisasi dengan siapa saja, sadarlah bahwa hidup ini singkat. Kita hanya bisa mengisinya dengan hal-hal yang bermakna, memiliki arti, yang tidak akan lenyap begitu saja seperti harta dan popularitas :)

Well then, here some of quotations for you :D

http://winterlyrics.files.wordpress.com/2012/11/390304_471897329520567_141972011_n.jpg 
 http://theaveragegirlsguide.com/wp-content/uploads/2014/02/PeopleYouMeet.jpg
http://24.media.tumblr.com/tumblr_lqcktucdQ51qavrxlo1_500.jpg

http://womenonthefence.com/wp-content/uploads/2013/01/Nice-to-meet-you-l.jpg 

Sunday, May 11, 2014

Read&Review : The Devil and Miss Prym (Paulo Coelho)

Saya baca versi ini :D

Waduh gawat, akhir-akhir ini jadi kecanduan internet. Bahaya nih kalo keterusan, harus dikendalikan. Daaan sebagai penutup internetan saya hari ini, saya pingin bikin satu posting! Akhir-akhir ini juga posting saya review semua ya. Review kali ini dari novel yang saya baca cukup lama, tahun kemarin, dan langsung menyabet posisi favorit saya sampe sekarang :D

Salut deh buat Paulo Coelho, ini salah satu karya favorit!

SAYA MEMBACA...
Kali ini bukan dari Perpustakaan Daerah tercinta (soalnya belum daftar jadi member :v), tapi agak nyesel juga karena di perpusda ternyata ada. Saya terlanjur pinjam di persewaan buku, bayar deh, plus denda lagi. Saya lagi di awal-awal langkah buat banting setir dari komik ke novel karena udah bingung mau baca apa lagi (gaya nih :P), dan tertarik oleh sinopsis di sampul belakang novel The Devil and Miss Prym ini. Bahasa kerennya : Sang Iblis dan Nona Prym.
Ada banyak versi dari novel ini baik yang berbahasa asing maupun yang bahasa Indonesia, karena sudah diterbitkan berkali-kali (bestseller gitu loh). Menggugah banget ceritanya, ada banyak pesan moral yang bisa diambil.

PLOT
Saya agak lupa-lupa ingat tentang alur ceritanya, udah lama sih. Yang jelas, kisah ini menceritakan perjalanan seorang pria kaya nyentrik dalam kunjungannya ke sebuah desa terpencil yang penduduknya rukun namun sedikit kolot. Sang pria dihantui masa lalunya yang penuh rasa bersalah dan datang ke desa itu untuk menguji para penduduknya dan mencari kebenaran dari pertanyaan yang dipendamnya : apakah kebaikan itu ada?

Miss Chantal Prym adalah satu-satunya gadis muda yang tersisa di kota itu. Pemuda pemudi lainnya telah beranjak ke kota mencari nasib yang lebih baik. Chantal Prym bekerja sebagai pelayan di sebuah penginapan (mungkin satu-satunya penginapan di desa itu) dan punya banyak gosip buruk sebagai penggoda turis. Kali ini pun Chantal Prym ingin menggoda pria kaya itu agar sang pria membawanya pergi dari desa, karena ia sudah bosan. Siapa kira si pria kaya justru memanfaatkan Chantal untuk eksperimennya : menguji kebaikan penduduk desa.

Kini Chantal harus bergolak melawan dirinya sendiri yang seolah-olah terbelah dua. Iblis dan malaikat dalam dirinya silih berganti memberi pendapat dan dorongan. Untuk mengatakan kebenaran atau menyimpannya. Untuk kepentingan bersama atau dirinya sendiri. Kalau ia menyerah, maka pria itu menang, dan seluruh dunia ikut kalah. Di sisi lain, sang pria telah mengundang warga desa masuk ke permainannya dan mencoba memanipulasi pikiran mereka.

KESIMPULAN
Nnng nggak bisa kasih spoiler banyak-banyak nih :D Sebenarnya ceritanya nggak sesederhana deskripsi saya di atas, tapi kalau saya ceritain lebih panjang lagi jadi nggak seru dong :P
Yang jelas banyak pencerahan, juga kata-kata bijak yang bisa kita dapatkan dari buku ini :)

QUOTES FROM THE BOOK
Kita telah melakukan dosa kesombongan bila kita percaya diri kita lebih baik daripada yang sebenarnya, dan itulah sebabnya kita menderita.
-The Pastor

Aku memiliki dua saku, masing-masing berisi secarik kertas bertulisan. Tapi aku hanya menaruh uangku di saku kiri. Saku kanan bertuliskan : aku bukan apa-apa selain debu dan abu. Kertas saku kiri berbunyi : aku adalah perwujudan Tuhan di bumi. Setiap kali menyaksikan penderitaan dan ketidakadilan, aku merogoh saku kiri dan berusaha menolong. Setiap kali aku melihat kemalasan dan ketidakpedulian, aku merogoh saku kanan dan menemukan tak ada yang bisa kuberikan. Dengan cara ini, aku bisa menyeimbangkan dunia materi dan spiritual.
-The Pastor

.. meskipun kelihatannya cintanya tak berbalas, namun apakah itu penting? Siapa pun yang mencintai dengan harapan akan balas dicintai hanya membuang-buang waktu saja.
-Berta

Pada akhirnya, baik atau jahat hanyalah tentang pengendalian diri dan pilihan.
-Chantal Prym

Ups, dan masih banyak lagi! Coba baca ya, bagus lho untuk mempertebal keyakinan diri :)

Thursday, May 8, 2014

Read&Review : Pembunuhan atas Roger Ackroyd (Agatha Christie)

Calm smile of Agatha Christie

Judul kerennya sih The Murder of Roger Ackroyd, tapi saya orang Indonesia, jadi saya pakai versi Indonesianya aja. Ada begitu banyak novel-novel karya Agatha Christie, novel misteri semua. Papa saya pernah berkomentar, kok bisa ya cewek bikin novel misteri sampai kayak gitu? Maaf nih, tapi biasanya bidangnya novelis cewek kan novel-novel petualangan cinta yang romantis (aduh serius romantis banget, bikin berharap-harap :P) apalagi yang seri Harlequin.

Betul, saya juga heran. Karya-karya Agatha Christie yang kabarnya diilhami awalnya dari novel Misteri Kamar Kuning (Mystery of The Yellow Room) karya Gaston Leroux (lain kali saya bikin reviewnya juga ah) tiba-tiba menyeruak banyak banget dengan tokoh utama yang bervariasi mulai dari Miss Marple yang cerdik sampai Hercule Poirot yang eksentrik. Sudut penceritaannya pun kreatif banget.
Dan menurut saya, salah satu novel Agatha Christie yang punya sudut penceritaan menarik adalah The Murder of Roger Ackroyd.





SAYA MEMBACA...
Jadi, berbekal pengetahuan dari 1001 Book Before I Die, saya pun mulai mencari-cari novel Agatha Christie yang satu ini. Ada begitu banyak karya Agatha Christie-san, tapi yang tercantum di daftar 1001 hanya beberapa, dan ini salah satunya. Saya keliling beberapa persewaan komik, dan mendapatkannya di Perpustakaan Daerah Salatiga tercinta :*
Sudah lama saya mengincar buku ini tapi belum kesampaian karena saya cenderung tertarik ke novel-novel lain dan akhirnya kesampaian juga! Saya nggak nyesel deh, bela-belain bolak-balik ke perpustakaan buat perpanjang novel ini sampai 3x (artinya pinjam 9 hari -_-) gara baca komik juga jadi nggak selesai-selesai. Keren banget! Bikin shock!
Saya agak ngeri sama novel-novel Agatha-san yang covernya hitam dan sebangsa yang di kiri ini. Entah kenapa kesannya bener-bener novel misteri dan saya jadi serem mau baca -_-
Akhirnya saya memilih buat baca versi yang di bawah ini, yang sampulnya pink unyu-unyu wkwkwk

Menurut saya ada beberapa kekurangan dari terbitan baru di atas, di antaranya adalah ukuran tulisan yang kecil. Mata saya nggak minus, tapi kalo kecil-kecil banget justru bisa bikin mata nggak sehat. Ada juga beberapa kesalahan ketik dan sebutan yang berbeda untuk beberapa nama dalam novel ini. Yah, editor juga manusia. Karena ceritanya bagus, saya ampuni deh :D


PLOT
Memasuki plot, saya akan menceritakannya dengan gaya saya sendiri (tentu saja -_-). Saya bingung kalau harus nurut tata cara membuat resensi yang diajarin saat pelajaran Bahasa Indonesia (udah lupa dan kayaknya panjang). Saya nggak berniat bikin resensi kok, cuma mau menceritakan kesan saya tentang buku ini dan bikin reviewnya sesuai keinginan saya :D

Novel ini diceritakan seolah-olah ditulis oleh Dokter James Sheppard, seorang dokter umum yang usianya mungkin sudah kepala empat, tinggal di sebuah desa kecil terpencil yang penduduknya suka bergosip. Salah satu gosiper terbaik dan sumber informasi gosip yang teruji kebenarannya adalah Caroline, kakak perempuan dari Dokter Sheppard sendiri. Caroline ini sok tahu, selalu ingin tahu, dan selalu jadi yang paling tahu, ditambah dengan sifat keras kepalanya bikin saya kadang enek, marah dan kadang jijik padanya. Bukan sifat yang baik buat ditiru. Dokter Sheppard tinggal berdua dengan kakaknya dan selalu berusaha mendebat pendapat kakaknya.
Awalnya saya bingung dan bosan karena cerita pengantarnya cukup panjang dan saya bertanya-tanya siapa yang jadi tokoh detektifnya, Miss Marple atau Hercule Poirot. Ternyata tuan dengan kumis eksotisnya itulah sang peran utama. Dibilang peran utama bukan juga sih, karena novel ini banyak bercerita tentang Dokter Sheppard dan keadaan yang terjadi di sekelilingnya.
Suami istri Ferrars yang cukup terkenal di desa kecil itu telah meninggal. Awalnya si suami, namun selang beberapa tahun (kayaknya), sang janda pun meninggal beberapa hari sebelum Dokter Sheppard mengawali tulisannya. Banyak gunjingan tentang kematian tersebut, mengundang berbagai spekulasi, asumsi dan imajinasi. Kemudian, sahabat, kawan dekat dan mungkin selingkuhan Mrs. Ferrars yaitu Mr. Roger Ackroyd mengundang Dokter Sheppard ke rumahnya agar bisa berdiskusi.
Dokter Sheppard kawan yang cukup dekat dengan Roger Ackroyd dan putranya yang boros, Kapten Ralph Paton. Di sekeliling Roger yang ada hanyalah orang-orang penuh masalah dan rahasia, dan ketika pembunuhan itu terjadi, semua orang berpotensi menjadi pelakunya. Semua orang.

Flora Ackroyd, keponakan Roger yang cantik dan calon istri Ralph Paton, meminta bantuan pada pria misterius tetangga baru dr. Sheppard, Hercule Poirot. Poirot yang sedang rehat dari dunia penyelidikannya bersedia menemukan pembunuh sesungguhnya dengan catatan : ia tidak boleh dihentikan sampai benar-benar menemukan kebenaran. Ketika kematian menjemput Roger, semua kecurigaan ditimpakan pada Kapten Ralph Paton, putra tunggal Roger yang tidak ditemukan di mana pun. Ditambah lagi, Ralph punya banyak utang. Namun Poirot bersikeras untuk menyelidiki semuanya tanpa pengecualian.

Gambaran image Poirot
Kejadian-kejadian aneh terus berlangsung, misteri demi misteri mulai terkuak. Pembantu baru yang cekatan namun tertutup, kepala rumah tangga yang anggun, nyonya rumah yang lemah tapi cerewet, sekretaris ceria yang terlalu santai, pengurus rumah tangga yang tampaknya punya banyak kesulitan, serta kawan lama Roger yang sifatnya lurus dan suka menyimpan rahasia. Belum lagi Ralph Paton yang terus menghilang, dan pria misterius yang memasuki Fernly Park, kediaman Roger di waktu yang mendekati perkiraan kematiannya...
Orang-orang itu tampaknya memperumit keadaan, membuat kita nggak ada habisnya menebak-nebak, siapa sih pembunuh Roger Ackroyd, si tua kaya raya yang pelit namun ramah?



Poirot tampaknya punya caranya sendiri, dan pelakunya sendiri. Berbeda dari apa yang ditelusuri detektif polisi yang menganggapnya nyentrik. Pria yang mengklaim dirinya sendiri sebagai pemilik sel-sel kelabu bermutu tinggi ini mendesak orang-orang yang berada di dekat Roger selama waktu perkiraan kematiannya, untuk mengatakan kebenaran, atau menyembunyikannya. Apa pun itu, sang pembunuh berharap agar Hercule Poirot tidak pernah datang ke desanya untuk beristirahat dan menanam labu.
 

KESIMPULAN
Buku ini benar-benar mengagumkan. Saya nggak mau spoiler lama-lama, nanti jadi nggak seru :3
Kalau bersedia bersusah payah menelan cerita-cerita di awal, saya jamin pembaca bakal terpukau sampai bagian akhirnya. Unexpected ending, as expected from good book. Yakin deh, saya shock berat!

Mulailah membaca! :D

Monday, May 5, 2014

Alone Travelling #1 : Semarang, Berasa Turis di Negara Sendiri

ALONE TRAVELING

Pernah kepikiran jalan-jalan sendirian ke tempat yang cukup jauh dari rumah? Saya sering, dan akhirnya kemarin kesampean juga niatnya. Biasanya cuma shopping sendiri atau sepedaan keliling kota ~ Ups! Jangan dikira orang kesepian lho, saya juga punya teman kok :P

Hanya aja untuk beberapa hal kayak shopping yang gak ada tujuan tertentu (cuman mau belanja2) dan jalan-jalan yang nggak ada tujuannya itu emang enak sendirian. Lain kalo kita emang mau main, memang janjian mau jalan2, nah itu serunya bareng temen :D

Rencananya cuma mau ke RS Bhayangkara Semarang buat ngecek hasil tes kesehatan #BrigadirPolri (mantan calon polwan neh :P). Tesnya udah selesai dan saya gagal (tetep semangat!), tpi pingin tahu hasilnya, tepatnya gagalnya itu karena apa gitu lah #kepo
Ini pertama kalinya saya pergi sendirian ke luar kota! Asyiik banget! Rasanya bebas!
Berbekal pengetahuan yang amat minim tentang jalur-jalur bus (bisa dibilang newbie banget) dan uang yang pas-pasan, saya pun berangkat ke Semarang!

 GETTING THE BUS
Tentu aja satu-satunya transportasi jalan darat di Salatiga yang bisa mencapai Semarang cuma bis. Nggak ada kereta (huhu kenapa -_-) dan nggak kelebihan uang buat naik taksi. Kalo mau nebeng juga saya cukup ngerti kalo ini Indonesia, bukan luar negeri jadi nggak gampang buat nyari tebengan dengan menodongkan jempol di jalanan -_-
Saya dapat rambu-rambu dari tante saya yang tinggal di Semarang, kalo mau ke RS Bhayangkara, dari Salatiga naik bis-bis besar Solo-Semarang patas AC. Biasanya harga berkisar 10.000-12.000. Minta turun di Banyumanik. Tenang aja buat yang belum pernah naik bis sendirian, nanti kondekturnya bakal neriakin nama lokasinya. Begitu nama lokasi yang kita tuju diteriakin, bangun dari kursi dan jalan pelan-pelan ke arah pintu. Di Banyumanik, ambil bis kecil yang ada label Perongan di kaca depannya (kayaknya singkatan Peterongan). Bis itu bakal lewat depan RS Bhayangkara kok, jadi bisa langsung turun.

ARRIVED, BUT UNLUCKY
http://pusatpengobatan.com/wp-content/uploads/2013/05/RS-bhayangkara.png
Rumah Sakit Bhayangkara Semarang
Saya pun sampai di depan RS Bhayangkara. Cerita punya cerita, ternyata bidang Dokkesnya tutup, padahal jumlah saksi yang denger pengumuman kalo tanggal 4 Mei bisa ke RS buat cari info adalah 1600 orang. Akhirnya saya putuskan nekad nanya ke pengurus dapur dan office boy (OB) karena saya gak mau pulang begitu aja tanpa ada kejelasan info. Saya diminta datang lagi tanggal 5 Mei karena hari Minggu ternyata libur (kurang ajar banget nggak -_-). Tapi saya nggak datang, soalnya ada kegiatan lain huehehe :D
Sempet ditanyain OB-nya apa saya nggak takut pergi sendirian, saya bilang enggak soalnya tampang saya udah serem. Ditanya lagi 'nggak takut diculik?', saya jawab 'kasihan yang nyulik.' dan OB-nya bercanda dengan menawarkan diri untuk menculik saya :D
Wahahahahah nyulik saya bang? Saya nggak bisa beladiri sih, tapi soal nekad susah cari tandingannya :P

WALKING ON THE STREET LIKE A TOURIST
Simpang Lima Semarang
Akhirnya saya putuskan untuk jalan kaki dari RS Bhayangkara ke Simpang Lima. Saya penasaran sih, Simpang Lima di hari Minggu kayak apa. Selama berjalan kaki entah berapa kilometer itu, saya sadar kalo saya menarik perhatian #narsis. Nggak ada orang jalan kaki, ada pun bisa diitung pake jari, dan yang jalan paling jauh itu saya. Tiap papasan sama orang saya menyebarkan senyum tiga jari, dan kadang ditanyain 'kenapa jalan?' atau 'mau ke mana'. Saya jawab aja 'enak jalan kaki' atau 'cuma jalan-jalan.'
Keliatan kayak orang kurang kerjaan ya. Banyak banget kendaraan lalu lalang, tapi buat saya Semarang keliatan sepi. Kayak nggak ada jiwanya #kurangajar. Walau banyak orang kumpul di Simpang Lima nonton konser atau show entah apa itu, buat saya kesannya sepiiiii banget. Padahal hari Minggu. Biasanya memang sepi dan hening gitu atau memang kebetulan waktu saya dateng aja sepinya?
Berasa turis, seorang diri menarik perhatian. Nggak biasa kayaknya orang jalan kaki di Semarang? -_-

UP AND DOWN, FIVE FLOORS IN MATAHARI STORE
Sebelum sampe Simpang Lima, ada pintu belakang Matahari. Saya tertarik soalnya di Salatiga nggak ada Matahari, adanya Mall Ramayana. Akhirnya saya putuskan untuk masuk dan memutari dari lantai satu sampe lantai lima, makan di CFC (karna di situ lebih sepi, walau mahal -_-), turun lagi ke lantai satu. Saya nggak tertarik untuk beli satu barang pun, padahal saya nggak lihat harganya. Meski gitu, saya yakin harganya keren :3
Ah, saya nggak naik ke lantai 6 karena kayaknya udah nggak ada toko. Ada apa ya di lantai 6?
Kalo ada orang yang mengamati saya, pasti heran banget dan saya udah dipanggilkan satpam buat mengawasi. Cewek seorang diri, bawa tas punggung superkecil, jalan-jalan tanpa tujuan. Saya sendiri kalo liat orang kayak gitu pasti heran -____-
Pertama kalinya juga lihat lift yang terbuka (transparan)! Sayangnya gak sempet naik ;D
Akhirnya selesai lima lantai saya puterin, turun deh mampir Simpang Lima. Puanaaas banget udaranya sampe keringetan.

LOST? ALMOST
wide and clean, Semarang's sidewalk
Yep, saya hampir kesasar. Tante saya bilang untuk ambil angkot warna kuning dari Simpang Lima, turun di Milo, terus dari Milo naik bis kecil sampe Banyumanik. Tapi saya belum puas jalan-jalan. Akhirnya saya berniat jalan kaki dari Simpang Lima sampe Banyumanik (oke ini gila memang, tapi serius -_-). Saya heran karena gedungnya besar-besar pake banget.
Lewat gedung Telkomsel, Kantor DPRD, Kantor Disperindag, Disnakertrans, dan selanjutnya saya nggak mengamati lagi karena fokus liat penjual-penjual jagung serut. Tertarik sebenernya, tapi tangan saya udah penuh bawa jaket dan tas plastik kresek isi botol air mineral, lagipula makan sambil jalan rasanya kurang sopan (pernah dimarahin guru PKn gara2 makan sambil jalan). Lagi-lagi saya sendirian, nggak ada lagi orang yang jalan kaki di trotoar seluas itu selain saya. Heran deh, padahal jalan-jalannya bersih dan nyaman. Yup, now that I've mentioned, Semarang itu bersih banget jalan-jalannya!


Saya sempat nggak yakin apa jalur yang saya tempuh bener-bener menuju Banyumanik, karna nanjaaaak terus jalannya. Capek banget! Ketemu juga sama orang-orang sehat yang jalan-jalan sore sambil bawa anjingnya :D
Saya sudah kehabisan perlengkapan logistik (makanan dan minuman -_-) dan takut dehidrasi, jadi saya jalan lebih pelan dan lebih santai lagi. Sampai di kilometer tertentu, ada Alfamart! Oh, my oasis! Oasisku! Bisa beli minum dan ngadem ~ :3
Rumah Sakit Elisabeth Semarang



Setelah itu saya jalaaan lagi sampe RS Elisabeth. Nggak ada tujuan khusus sih kenapa saya akhirnya memutuskan untuk mampir RS Elisabeth, tapi teman saya ada yang 'langganan' RS itu (kasihan ya -_-) dan saya tertarik, kayak apa sih RS Elisabeth itu?
Ternyata dalemnya baaaaaguuuus banget! Bersih dan nyaman! Ada tamannya lagi, kereeen ~
Setelah puas lihat-lihat, saya keluar dari RS dengan lagak kayak orang yang habis besuk seseorang -_-
Mampir beli bakpao dan menyerah untuk jalan kaki lagi karena jalannya tambah nanjak, jadi saya naik bis kecil ke Banyumanik.

WAY BACK HOME...
Sedih banget ya kayaknya judul di atas? Padahal saya senang kok bisa pulang. Takutnya kesasar, ternyata bisa pulang juga. Dari terminal Banyumanik (yang ternyata masih jauh, untung nggak nekad jalan kaki), saya naik bis besar Raya dan santai sampai tujuan, Salatiga tercinta. Satu yang saya sayangkan, belum sempat mampir supermall Paragon ~ Kata temen saya di sana lebih mahal lagi barang-barangnya, jadi penasaran *_* (nggak minat beli dong tentunya, wkwkwk).
Bagaimana pun juga, rumah dan kota sendiri memang lebih nyaman ya :)
Home sweet home~


Glad to be home, grateful to have home as destination after a long journey ^^


Mau coba alone travelling Anda? :)