Saturday, May 3, 2014

Read&Review : The Day of The Jackal (Frederick Forsyth)

Sampul depan novel versi Indonesia terbitan Serambi

Sebenernya udah dari lama sih sejak baca buku ini. Seru abis! Awalnya saya tertarik dengan promo cerita di sampul belakangnya sewaktu saya asyik memilih buku bacaan di Perpustakaan Daerah di Salatiga -- tempat nongkrong favorit :P

Baca baca, wah kayaknya menarik nih! Cerita tentang usaha pembunuhan Presiden Prancis, Charles de Gaulle! Keren! Saya nggak habis pikir dengan negara-negara maju yang dengan entengnya mengizinkan peredaran novel dengan tema seperti ini. Di Indonesia belum pernah ada kan, novel dengan tema semacam ini, membahas masa lalu dan politik tapi dibumbui fantasi? Keren banget brooo!
Jadi saya pun meminjamnya, nggak peduli sampai perpanjang 4x (satu kali masa peminjaman 3 hari, jadi kalo 4x artinya saya udah pinjem 12 hari, huehehe) dan menyelesaikannya.

SAYA MEMBACA...
Sebelumnya, saya baca dulu review-review dari banyak pihak yang dicantumkan dalam novel. Kebanyakan bernada sama : Frederick Forsyth memang masternya novel thriller dan novel ini benar-benar mengagumkan. Oke, saya pun mulai membacanya.

Awalnya cukup membosankan, pembukaan yang panjang dan agak menjemukan karena saya nggak begitu paham tentang intrik-intrik dan keadaan dalam negeri Prancis di latar waktunya tahun 1963. Tapi saya tetap membacanya. Menjelang halaman-halaman ke-30 mulai menyenangkan, dan mulai bab kedua saya sudah ketagihan kepingin baca terus!

PLOT
Yang unik adalah novel ini tidak terbagi dengan banyak chapter/bab. Hanya terdiri dari 3 bab besar, yaitu :

BAB 1 ANATOMI PERENCANAAN
Menceritakan pergolakan politik dalam negeri Prancis, sebuah organisasi anti-pemerintah bernama OAS yang kecewa dengan pemerintahan Charles de Gaulle akibat ketidakpedulian sang Presiden yang melepas sebuah wilayah dari bagian Prancis. OAS telah berulangkali melakukan teror dan percobaan pembunuhan yang selalu berhasil digagalkan pihak pengamanan presiden.

Bab ini menguraikan kegagalan percobaan pembunuhan terakhir kalinya yang mengakibatkan salah satu petinggi OAS terbunuh. Akhirnya pimpinan OAS mengatur strategi, rencana yang menghasilkan sebuah ide brilian : menggunakan jasa orang lain. Dari penyelidikannya sendiri, Kolonel Marc Rodin, mendapatkan beberapa data pembunuh bayaran paling top di dunia. Bersama kedua rekan setianya, Rodin memutuskan satu orang yang dianggap paling cocok untuk tugas paling berisiko di dunia ini : membunuh Charles de Gaulle. Pembunuh bayaran ini adalah seorang Inggris yang tidak diketahui identitas lainnya, lalu memakai nama sandi Jackal (versi Indonesia : Jakal). Jackal sendiri artinya serigala, cocok banget karena sepanjang cerita, Jackal bergerak sendirian, mandiri dan percaya diri seperti serigala.

Cerita kemudian berfokus pada Jackal yang merencanakan pembunuhan itu dengan caranya yang unik dan cerdik. Terdapat detil mengagumkan tentang cara membuat paspor palsu, tentang senjata, dan banyak lagi.

BAB 2 ANATOMI PERBURUAN
Pihak pemerintah Prancis dan segala unit keamanannya, termasuk unit intelijen dan departemen luar negeri telah mengetahui pergerakan para pemimpin OAS. Mereka justru curiga karena OAS berdiam diri dan tidak ada pergerakan. Usut punya usut, diketahuilah kalau OAS menyewa pihak luar yang datanya tidak dimiliki pihak Prancis. Petinggi-petinggi itu gempar, apalagi mengingat tabiat dan harga diri Presiden Charles de Gaulle yang tidak suka dilindungi pasukan khusus. Bagaimana caranya mereka melindungi Big Charles? Seorang di antara petinggi itu mengusulkan satu nama, yang merupakan detektif terbaik yang dimiliki Prancis kala itu : Claude Lebel.

Cerita kemudian terbagi berselang-seling tentang usaha-usaha Claude Lebel memburu pembunuh bayaran top yang tidak diketahui datanya ini. Bagaimana pusingnya detektif Lebel yang tiba-tiba disuruh mencari seseorang tanpa basis data apapun, mencari dari nol dan ia berusaha memanfaatkan kewenangannya yang mendadak dibuat nomor dua di Prancis setelah Charles de Gaulle. Ia diberi kewenangan memanfaatkan segala cara untuk menemukan, dan memusnahkan pembunuh bayaran ini. Ia bahkan meminta tolong pada unit-unit intelijen dan kepolisian seluruh dunia untuk dimintai keterangan, kalau-kalau mereka punya data tentang seorang pembunuh bayaran kaliber dunia ini.
Di sisi lain, berkisah juga tentang perencanaan Jackal selanjutnya, affair mendebarkan dengan Madame Collete de Montpellier yang akhirnya ia bunuh dengan cuek karena menghalangi rencananya. Si Jackal ini nampaknya benar-benar menikmati hidup, ia tidak tampak seperti seorang pembunuh.Sifatnya tenang menghanyutkan, santai dan berkelas, juga sangat boros. Selagi mempersiapkan segala kebutuhannya untuk pembunuhan itu, ia menyempatkan diri untuk pergi berlibur, menikmati hidangan-hidangan mewah dan menginap di hotel-hotel berkelas. Cara hidup yang wow banget menurut saya.

Bagian ini adalah yang terpanjang (dan paling tebal), hampir separuh cerita.

BAB 3 ANATOMI PEMBUNUHAN
Bab inilah yang paling mendebarkan! Perencanaan Jackal telah memasuki tahap akhir. Di sisi lain, Lebel juga telah mendapatkan jejak awalnya. Eksekusi tinggal menunggu harinya, sedangkan Lebel berpacu dengan waktu untuk menemukan pembunuh tampan sialan itu. Kejar-kejaran mendebarkan terjadi. Begitu Lebel menemukannya, Jackal telah selangkah lebih maju dan menyamar dengan identitas lain. Lebel telah mengenali identitas baru tersebut dan kemudian mendekat lagi, namun Jackal kembali lolos dengan identitas lainnya! Bener-bener seru! Hingga akhirnya Lebel kehilangan jejak Jackal yang menghilang sama sekali. Petinggi-petinggi lain beranggapan Jackal telah menyerah dan membatalkan rencananya, sehingga mereka bersikap lebih santai. Namun Lebel berpikir lain. Penyelidikan yang begitu intens telah membuatnya mengenali cara berpikir Jackal. Jackal tidak membatalkan rencananya. Dan itu benar.

Usaha terakhir Lebel menghentikan Jackal mencapai klimaks, dan sampai halaman akhir, identitas Jackal yang sebenarnya tidak terungkap.

KESIMPULAN
Frederick Forsyth - 01.jpg
Frederick Forsyth, sang Master Thriller
Kesimpulan? Kok kayak penelitian eksperimen aja ya pake kesimpulan segala, hahaha. Tapi saya tidak berhasil menemukan kata yang tepat untuk bagian akhir ini. Epilog? Tapi epilog itu kan untuk cerita -_-
Pokoknya, Mbah Frederick Forsyth ini memang master bener! Ini bener-bener thriller!
Yang bikin saya agak geli, tanggal pembunuhan yang direncanakan Jackal adalah tanggal lahir sang pengarang yaitu 25 Agustus. Ini sengaja deh, pasti :P

Untuk pesan moralnya, bagaimana pun juga, kebaikan yang menyangkut kepentingan orang banyak pasti akan menang. Di dunia ini jangan sampai ada ya orang-orang dengan profesi seperti Jackal dengan kemampuan yang sangat memadai. Masa mau dibayar buat mengambil nyawa orang. Buat merenggut nyawa apalagi dengan pistol, nggak butuh waktu satu menit. Tapi untuk membuat nyawa itu butuh 9 bulan =_=

Saat menulis artikel ini, saya mencari gambar sampul yang paling sesuai dengan yang saya baca di Google. Versi lain dari sampul-sampulnya muncul, buanyaaaak banget. Ini artinya novel ini sudah diterbitkan ulang berulang-ulang kali (gak efektif kalimatnya -_-) mencapai jutaan kopi. Dan masih laku, haha.
Saya pikir keren banget kalau dibuat film, dan ternyata filmnya sudah ada!
Dengan judul sama, The Day of The Jackal tahun 1973 dibintangi Edward Fox sebagai si Jackal dan Michael Lonsdale sebagai Inspektur Claude Lebel yang memburu Jackal.

Ngomong-ngomong, saat membaca deskripsi tentang penampilan si Jackal, saya jadi deg-degan, kayaknya kalo orang beneran bakal ganteeeng banget, cerdas dan berkarisma. Aduuuh >___<
Di sebuah artikel wawancara Forsyth dengan Helen Brown, sang pengarang sendiri mengatakan heran karena pembunuh berdarah dinginnya ini punya banyak penggemar wanita.
"I thought he was hated by women. He killed his mistress (Collete). But no, he has many secret admirers."
"Saya pikir dia dibenci para wanita. Dia telah membunuh kekasihnya (Collete). Tapi ternyata tidak, ia punya banyak penggemar rahasia."
Aduh mbah Forsyth, saya salah satunya kok :P
Apalagi filmnya diperankan Edward Fox pas masih ganteng-gantengnya, aih aih >__< 

Jadi, pilih filmnya atau novelnya nih? :D