Wednesday, May 21, 2014

Read&Review - Kapten March (Geraldine Brooks)


Baru beberapa hari yang lalu saya menyelesaikan novel ini. Tentu saja, sumber bukunya adalah Perpustakaan Daerah Salatiga tercinta :v *still nggak modal* Habis gratis dan bukunya bagus-bagus kok, walau koleksinya belum lengkap *masih baru*. Semoga cepat mengumpulkan koleksi yang makin banyak!

SAYA MEMBACA...
Saya baca versi ini :)
Oke, novel ini bernasib sama kayak novel The Kite Runner dan The Day of The Jackal yang sudah saya review dulu. Maksudnya bernasib sama : sama-sama kebanyakan pujian dan ulasan positif dari banyak pihak, terutama pihak yang biasa merekomendasikan buku-buku bagus. Novel ini terinspirasi dari novel karya Louisa May Alcott yang terkenal, Little Women. Saya ingat banget sama cerita Little Women ini, karena versi komiknya yang berjudul Young Girls adalah komik pertama yang saya punya dan saya baca sekitar umur 7-8 tahun ^^
Bedanya adalah, novel Kapten March ini berfokus pada perjalanan hidup sang ayah dari empat bersaudara Meg, Jo, Beth dan Amy.
Ada juga sesi wawancara bersama sang pengarang, Geraldine Brooks di bagian akhir buku, pengantar untuk pembaca Kapten March, dan ulasan dari sang pengarang sendiri mengenai awal pembuatan karyanya.

THE STORY GOES...
Kapten March seorang pendeta abolisionis (menentang perbudakan kaum Negro) yang beristrikan Margaret Day (dengan panggilan sayang Marmee). Baik Marmee maupun March sangat menentang perbudakan, dan sejak awal pernikahan, mereka telah merencanakan untuk membuat tempat persembunyian sementara di rumah mereka khusus untuk budak-budak yang melarikan diri. March diminta berkhotbah di depan pemuda-pemuda yang akan berperang dan di akhir pidatonya, March menyampaikan dengan lantang bahwa ia akan ikut berperang. Tentu saja perannya adalah pendeta, tapi pangkatnya kapten. Tak disangka oleh March bahwa perang akan menorehkan luka batin yang akan menghantuinya seumur hidup, yang tidak mengizinkannya untuk hidup tenang dan bahagia.

Di medan perang, March menyempatkan diri menulis surat untuk istrinya. Ia bermaksud untuk menulis surat, memang, tapi ia tidak pernah berjanji untuk menulis dengan jujur. Ia tak bisa menceritakan situasi perang dan keadaannya saat itu sejujurnya. Bagaimana pergolakan batin yang dialaminya setelah berdiam diri membiarkan kawan seperjuangannya tenggelam, dan bahkan, ketika ia akhirnya dipertemukan dengan cinta pertamanya sewaktu muda, ia malah menuliskan kata-kata romantis bagi sang istri dan anak-anaknya.

Flashback terjadi, berkisah tentang masa muda March yang penuh semangat dan ambisi, mengumpulkan kekayaan dari pekerjaan-pekerjaannya yang sederhana. Kemudian ia bertemu sebuah keluarga, menghabiskan waktu di sana berbagi cerita dan pengetahuan dengan pemilik rumah. Namun tak semuanya berakhir bahagia, kenangan itu justru menakutkan bagi March pada akhirnya karena ia telah menyisakan luka bagi gadis cinta pertamanya, seorang budak Negro kuning yang anggun bernama Grace Clement. Ada pula flashback lagi yang menceritakan pertemuan March dengan Marmee, istrinya.

March yang ditentang banyak orang dalam peleton karena idealismenya dan karena dia pencinta Negro, akhirnya dipindahtugaskan dan ia memilih untuk berprofesi sebagai pengajar untuk budak-budak rampasan perang. Ia begitu bersemangat dan sedikit demi sedikit semangatnya menular, bahkan melunakkan hati pemilik budak-budak itu yang keras namun adil. Suatu malam, pemberontakan terjadi dan perkebunan yang dibantu March dibakar. Ia membiarkan pembunuhan terjadi dan justru bersembunyi menyelamatkan diri. Saat hendak menyelamatkan kawan-kawannya yang ditawan, March terluka parah dan demam pelana kuda yang dideritanya kambuh.

Ketika March ditemukan oleh pihak medis, istrinya mendapati bahwa ia nyaris tak bisa dikenali, dan fokus cerita berubah menjadi sudut pandang Marmee. Kebohongan-kebohongan dalam surat-surat itu pun terbongkar. Akhirnya, March harus memilih untuk menuruti kata hati dan menyelamatkan kawan-kawan Negronya atau hidup tenang di rumah yang hangat bersama keluarga namun dihantui rasa bersalah, ketakutan, dan kekecewaan terhadap diri sendiri.

KESIMPULAN
Saya merekomendasikan buku ini. Banyak pesan moral yang bisa diambil dari pergolakan batin seorang pendeta yang harus mempertimbangkan idealisme dan prinsip, komitmennya sebagai hamba Tuhan, atau mengikuti kata hati. Ketika semuanya berhubungan dengan orang-orang yang berharga baginya, maupun dirinya sendiri. Keren banget!

QUOTES
Ada beberapa kalimat-kalimat yang menurut saya bagus banget, dan saya bagikan kembali di sini :)

Jika seseorang kehilangan harta, bagus kalau dia pernah miskin sebelum memperoleh kekayaan itu, karena kemiskinan membutuhkan keahlian.
Kapten March

Duka tidak perlu selalu berkawan dengan putus asa.
Kapten March

Siapakah yang disebut pemberani--apakah orang yang tidak merasakan takut? Kalau ya, berarti keberanian hanyalah istilah sopan untuk otak yang sama sekali tak rasional dan tidak memiliki imajinasi.
Kapten March

Orang pemberani, pahlawan sejati, mungkin saja gemetar ketakutan, berkeringat dingin, dikhianati kandung kemihnya sendiri, namun demikian tetap maju untuk melaksanakan perbuatan yang ditakutinya.
Kapten March

Meyakini, bertindak, lalu dikalahkan oleh keadaan--kuakui itu sulit dihadapi. Tetapi kalau kita meyakini dan tidak bertindak, atau bertindak dengan cara yang diyakini salah oleh benang jiwamu.. Tindakan inilah yang tercela.
Margaret March

Aku tak lagi bersemangat, berani dan kuat
Semua itu berlalu sudah;
Aku siap (untuk) tidak berbuat (apapun)
Akhirnya, akhirnya
Pekerjaan setengah hariku sudah tuntas,
Dan hanya inilah jatahku.
Aku memberi kepada Tuhan yang sabar
Hatiku yang sabar.
Cephas White

Kau harus berhenti menganggap bahwa dirimu, entah bagaimana, bersalah untuk semua hal buruk yang terjadi... Kau bodoh kalau kau membiarkan penyiksaan ini membentuk masa depanmu.
Grace Clement

.. Aku hanya memintamu melihat bahwa hanya ada satu hal yang harus dilakukan saat kita jatuh, dan itu adalah bangkit, dan melanjutkan hidup yang terbentang di hadapan (kita), dan berusaha berbuat baik yang mampu dilakukan oleh tangan kita, untuk orang-orang yang kita temui dalam perjalanan itu.
Grace Clement

Jadi beginilah keadaannya mulai sekarang : aku akan berusaha sebaik-baiknya menjalani hidup di dunia orang hidup, tetapi hantu orang mati akan selalu dekat.
Kapten March

#reviewnovelKaptenMarch #KaptenMarch #novel #novelKaptenMarch #quotations #quotesCaptainMarch #GeraldineBrooks