Thursday, May 8, 2014

Read&Review : Pembunuhan atas Roger Ackroyd (Agatha Christie)

Calm smile of Agatha Christie

Judul kerennya sih The Murder of Roger Ackroyd, tapi saya orang Indonesia, jadi saya pakai versi Indonesianya aja. Ada begitu banyak novel-novel karya Agatha Christie, novel misteri semua. Papa saya pernah berkomentar, kok bisa ya cewek bikin novel misteri sampai kayak gitu? Maaf nih, tapi biasanya bidangnya novelis cewek kan novel-novel petualangan cinta yang romantis (aduh serius romantis banget, bikin berharap-harap :P) apalagi yang seri Harlequin.

Betul, saya juga heran. Karya-karya Agatha Christie yang kabarnya diilhami awalnya dari novel Misteri Kamar Kuning (Mystery of The Yellow Room) karya Gaston Leroux (lain kali saya bikin reviewnya juga ah) tiba-tiba menyeruak banyak banget dengan tokoh utama yang bervariasi mulai dari Miss Marple yang cerdik sampai Hercule Poirot yang eksentrik. Sudut penceritaannya pun kreatif banget.
Dan menurut saya, salah satu novel Agatha Christie yang punya sudut penceritaan menarik adalah The Murder of Roger Ackroyd.





SAYA MEMBACA...
Jadi, berbekal pengetahuan dari 1001 Book Before I Die, saya pun mulai mencari-cari novel Agatha Christie yang satu ini. Ada begitu banyak karya Agatha Christie-san, tapi yang tercantum di daftar 1001 hanya beberapa, dan ini salah satunya. Saya keliling beberapa persewaan komik, dan mendapatkannya di Perpustakaan Daerah Salatiga tercinta :*
Sudah lama saya mengincar buku ini tapi belum kesampaian karena saya cenderung tertarik ke novel-novel lain dan akhirnya kesampaian juga! Saya nggak nyesel deh, bela-belain bolak-balik ke perpustakaan buat perpanjang novel ini sampai 3x (artinya pinjam 9 hari -_-) gara baca komik juga jadi nggak selesai-selesai. Keren banget! Bikin shock!
Saya agak ngeri sama novel-novel Agatha-san yang covernya hitam dan sebangsa yang di kiri ini. Entah kenapa kesannya bener-bener novel misteri dan saya jadi serem mau baca -_-
Akhirnya saya memilih buat baca versi yang di bawah ini, yang sampulnya pink unyu-unyu wkwkwk

Menurut saya ada beberapa kekurangan dari terbitan baru di atas, di antaranya adalah ukuran tulisan yang kecil. Mata saya nggak minus, tapi kalo kecil-kecil banget justru bisa bikin mata nggak sehat. Ada juga beberapa kesalahan ketik dan sebutan yang berbeda untuk beberapa nama dalam novel ini. Yah, editor juga manusia. Karena ceritanya bagus, saya ampuni deh :D


PLOT
Memasuki plot, saya akan menceritakannya dengan gaya saya sendiri (tentu saja -_-). Saya bingung kalau harus nurut tata cara membuat resensi yang diajarin saat pelajaran Bahasa Indonesia (udah lupa dan kayaknya panjang). Saya nggak berniat bikin resensi kok, cuma mau menceritakan kesan saya tentang buku ini dan bikin reviewnya sesuai keinginan saya :D

Novel ini diceritakan seolah-olah ditulis oleh Dokter James Sheppard, seorang dokter umum yang usianya mungkin sudah kepala empat, tinggal di sebuah desa kecil terpencil yang penduduknya suka bergosip. Salah satu gosiper terbaik dan sumber informasi gosip yang teruji kebenarannya adalah Caroline, kakak perempuan dari Dokter Sheppard sendiri. Caroline ini sok tahu, selalu ingin tahu, dan selalu jadi yang paling tahu, ditambah dengan sifat keras kepalanya bikin saya kadang enek, marah dan kadang jijik padanya. Bukan sifat yang baik buat ditiru. Dokter Sheppard tinggal berdua dengan kakaknya dan selalu berusaha mendebat pendapat kakaknya.
Awalnya saya bingung dan bosan karena cerita pengantarnya cukup panjang dan saya bertanya-tanya siapa yang jadi tokoh detektifnya, Miss Marple atau Hercule Poirot. Ternyata tuan dengan kumis eksotisnya itulah sang peran utama. Dibilang peran utama bukan juga sih, karena novel ini banyak bercerita tentang Dokter Sheppard dan keadaan yang terjadi di sekelilingnya.
Suami istri Ferrars yang cukup terkenal di desa kecil itu telah meninggal. Awalnya si suami, namun selang beberapa tahun (kayaknya), sang janda pun meninggal beberapa hari sebelum Dokter Sheppard mengawali tulisannya. Banyak gunjingan tentang kematian tersebut, mengundang berbagai spekulasi, asumsi dan imajinasi. Kemudian, sahabat, kawan dekat dan mungkin selingkuhan Mrs. Ferrars yaitu Mr. Roger Ackroyd mengundang Dokter Sheppard ke rumahnya agar bisa berdiskusi.
Dokter Sheppard kawan yang cukup dekat dengan Roger Ackroyd dan putranya yang boros, Kapten Ralph Paton. Di sekeliling Roger yang ada hanyalah orang-orang penuh masalah dan rahasia, dan ketika pembunuhan itu terjadi, semua orang berpotensi menjadi pelakunya. Semua orang.

Flora Ackroyd, keponakan Roger yang cantik dan calon istri Ralph Paton, meminta bantuan pada pria misterius tetangga baru dr. Sheppard, Hercule Poirot. Poirot yang sedang rehat dari dunia penyelidikannya bersedia menemukan pembunuh sesungguhnya dengan catatan : ia tidak boleh dihentikan sampai benar-benar menemukan kebenaran. Ketika kematian menjemput Roger, semua kecurigaan ditimpakan pada Kapten Ralph Paton, putra tunggal Roger yang tidak ditemukan di mana pun. Ditambah lagi, Ralph punya banyak utang. Namun Poirot bersikeras untuk menyelidiki semuanya tanpa pengecualian.

Gambaran image Poirot
Kejadian-kejadian aneh terus berlangsung, misteri demi misteri mulai terkuak. Pembantu baru yang cekatan namun tertutup, kepala rumah tangga yang anggun, nyonya rumah yang lemah tapi cerewet, sekretaris ceria yang terlalu santai, pengurus rumah tangga yang tampaknya punya banyak kesulitan, serta kawan lama Roger yang sifatnya lurus dan suka menyimpan rahasia. Belum lagi Ralph Paton yang terus menghilang, dan pria misterius yang memasuki Fernly Park, kediaman Roger di waktu yang mendekati perkiraan kematiannya...
Orang-orang itu tampaknya memperumit keadaan, membuat kita nggak ada habisnya menebak-nebak, siapa sih pembunuh Roger Ackroyd, si tua kaya raya yang pelit namun ramah?



Poirot tampaknya punya caranya sendiri, dan pelakunya sendiri. Berbeda dari apa yang ditelusuri detektif polisi yang menganggapnya nyentrik. Pria yang mengklaim dirinya sendiri sebagai pemilik sel-sel kelabu bermutu tinggi ini mendesak orang-orang yang berada di dekat Roger selama waktu perkiraan kematiannya, untuk mengatakan kebenaran, atau menyembunyikannya. Apa pun itu, sang pembunuh berharap agar Hercule Poirot tidak pernah datang ke desanya untuk beristirahat dan menanam labu.
 

KESIMPULAN
Buku ini benar-benar mengagumkan. Saya nggak mau spoiler lama-lama, nanti jadi nggak seru :3
Kalau bersedia bersusah payah menelan cerita-cerita di awal, saya jamin pembaca bakal terpukau sampai bagian akhirnya. Unexpected ending, as expected from good book. Yakin deh, saya shock berat!

Mulailah membaca! :D