Monday, June 30, 2014

Reading Wuthering Heights, Emily Bronte's masterpiece

Do you know the title Wuthering Heights? One of Bronte Sisters' work.
I'm about halfway reading the book right now and I swear to you, this book is full of unstable emotion, tragic, dark, gloomy, and yeah, annoying. I should give Emily Bronte an applause for her outstanding characters in this tragic love story. It's rare to find a book that could stirred up your mind and blown your anger out with its antagonist play. Honestly, in my point of view, the entire characters in this book were antagonist. All of them play the bad guy role. This book is a success, showed the result of revenge, hatred, and jealousy. Physical and mental violence is part of this book.

I know about Wuthering Heights from a manga, Glass Mask (Garasu no Kamen). In the manga, Wuthering Heights is a drama which the main character played. I thought that it's just another love story build from childhood, but now I'm sure the drama version has modified a LOT from the original story -_-

Let me give you a little review about the half I have read : there's a man named Lockwood with closed personality rent a house. The owner is a man with very low manners and dark past named Heathcliff. Lockwood was curious about Heathcliff and ask Ellen Dean who has been worked as housemaid in this house for years to tell a story about Heathcliff and Wuthering Heights (place name). Ellen told Lockwood everything happenned in this cursed place. The Earnshaw family; their mannerless, amazingly conceited, terribly egoistic and emotional unstable daughter Catherine Earnshaw made a good-weird friendship with Heathcliff. After the died of his father, Hindley treated her little sister and Heathcliff so badly. Two faced Catherine then married with Edgar Linton her nearest neighbor, though she loved Heathcliff. Broken-hearted Heathcliff left the house and years later came back to smash up Linton family's peaceful life, started from Hindley. Heathcliff himself has a terrible personality, while Edgar Linton is a wise and calm man.
That's all from the half I've read. I can ever guess what will be happen in the end.

Usually, I'll write some review after reading a book but for this one, I really don't know how to express it in words. I'm not good at words, basically. Maybe I'll search in the internet for the most beautiful Wuthering Heights review and post the link below my own review -______-

I need to know other readers' opinion about this book, after all ~
Okay! I'm going to finish this book!

#WutheringHeights #EmilyBronte #BronteSisters

Monday, June 9, 2014

[Read & Review] - Odessa File (Frederick Forsyth)



Waah padahal novel ini udah selesai dua bulan lalu kayaknya, tapi baru kepikiran buat bikin reviewnya. Terkesan maksain diri sih buat bikin reviewnya, soalnya novel ini buat saya kurang greget dibanding The Day of The Jackal (buat saya) walaupun dari pengarang yang sama. Anyway, ceritanya tetap thriller kelas tinggi. Dipinjam (dan diperpanjang berulangkali) dari perpustakaan daerah Salatiga, saya harap pustakawannya nggak bosen liat saya pinjam berkali-kali. Kecepatan membaca saya nggak rendah kok, cuma kalau baca nggak bisa seintens komik (langsung kebut selesai). Kalau capek ya istirahat. Maklumkan yah, pustakawan-pustakawati perpus :D

SAYA MEMBACA..
Saya pilih buku ini segera setelah selesai baca The Day of The Jackal, penasaran sama karya-karya lain dari eyang Frederick Forsyth :D Mengandalkan ingatan saya, saya rasa prolognya nggak panjang-panjang amat. Bisa juga ya bikin fiksi tentang Nazi. Memang banyak sih cerita-cerita yang beredar seputar Nazi, secara mereka memang topik abadi yang nggak akan ada habisnya buat dibahas kekejamannya, tapi biasanya dokumenter atau kisah nyata prajurit Nazi atau dari sudut pandang korban-korbannya. Gimana jadinya kalau di dunia modern masih ada orang-orang Nazi yang bersembunyi dan pihak yang mendendam masih mengejar mereka? Padahal buat Jerman sendiri, Nazi itu aib besar dan lebih baik dilupakan.
Versi Indonesia diterbitkan oleh Penerbit Serambi, sampulnya kayak gambar itu <<

PLOT
Berlatarbelakang tahun 1963 dan berawal dari kehidupan Peter Miller, seorang wartawan lepas yang jago mendapatkan berita sensasional. Hidupnya mewah, dengan mobil sport jaguar kebanggaannya, seorang kekasih cantik penari striptis bernama Sigi, dan karier yang menjanjikan. Suatu hari setelah mendengar berita kematian John F. Kennedy, Miller mengikuti sebuah mobil ambulans berharap mendapat berita. Korban hanya pelaku bunuh diri biasa, seorang Yahudi tua bernama Solomon Tauber. Miller nyaris menyerah, hingga beberapa hari kemudian seorang kawan dari kepolisian yang mengurus kasus itu memberikan buku harian Solomon Tauber pada Miller. Buku harian itu menceritakan kisah hidup Solomon Tauber selama jadi budak tawanan Nazi, dan betapa Solomon mendendam hebat pada seorang komandanNazi, Eduard Roschmann yang berjuluk Jagal dari Riga.

Usai membaca buku harian tersebut, terutama tertarik pada halaman yang menceritakan Roschmann menembak mati seorang kapten Jerman yang memiliki lambang perak, Miller memutuskan untuk memburu Eduard Roschmann ini, setidaknya mengetahui apakah orang itu masih hidup atau sudah mati. Ia bersitegang dengan bosnya yang tidak memberi izin. Miller memutuskan untuk pergi seorang diri. Ia mengunjungi berbagai kantor dan orang-orang yang memiliki wewenang mengurus buronan penjahat-penjahat perang itu dan mendapati tidak ada satu pun yang bersedia membantunya.Informasi yang dimiliki juga sedikit. Namun perjalanan membawa Miller bertemu Simon Wiesenthal, seorang pemburu Nazi yang sukses membawa satu demi satu penjahat-penjahat itu ke pengadilan. 

Simon memberitahu Miller tentang organisasi bernama ODESSA, yang bertugas untuk menjamin hidup anggota-anggota Nazi terutama anggota SS. Simon dan kelompoknya telah beberapa kali menyusupkan agen ke dalam ODESSA, namun semuanya gagal. Miller ditawari menyusup dan setuju, dengan syarat ia mendapatkan sebuah data bernama Odessa File, yang memuat data semua anggota SS. Selama beberapa waktu ia dilatih oleh mantan anggota SS senior menguasai hal-hal dasar dalam organisasi agar dapat melewati interogasi. Miller berhasil menguasainya, dan penyusupan awalnya pun sukses. Nasib baik Miller hampir berakhir ketika pihak ODESSA mencurigainya, karena selama ini mereka telah mendengar kabar seorang wartawan yang memburu Roschmann. ODESSA kemudian mengirimkan seorang pembunuh untuk menghabisi Miller.

Roschmann secara kebetulan juga seorang keyman dengan kode Vulkan, bertanggungjawab atas sebuah proyek yang dijalankan ODESSA untuk menghancurkan Israel dan Mesir. Orang-orang yang ditemui Miller sepanjang perjalanan penasaran dengan motif yang membuat Miller mengejar orang ini. Miller selalu menjawab bahwa ia merasa berkewajiban menangkap pembunuh rakyat, namun belakangan diketahui motif aslinya ketika ia berhadapan langsung dengan Roschmann.
Mossad, intelijen Israel yang mendengar tentang Miller pun akhirnya mengirimkan agen terbaiknya, Josef untuk membuntuti Miller dan melindunginya jika diperlukan. Sebab, pengejaran Miller atas motif pribadinya akan berdampak pada kelangsungan proyek ODESSA.

EPILOG
Bagian menegangkan adalah kejar-kejaran pihak ODESSA yang berusaha menghabisi wartawan muda itu. Saling mendahului dan mendapatkan jejak, lalu Miller yang berusaha kabur mati-matian. Keren juga lho :P
Ada sebuah detail mengagumkan tentang pembuatan bom plastik sederhana di dalam novel ini, ketika pembunuh kiriman ODESSA memasang bom di bawah mobil jaguar Miller. Saya rasa ini agak berbahaya, siapa tahu ada orang iseng yang mencoba praktek dan berhasil -_- wuih bahaya itu.
Cocok dibaca oleh penggemar novel thriller suspense, penggemar Frederick Forsyth (ya iyalah) dan penggemar kisah-kisah Nazi.
Berhasilkah Miller melaksanakan motif pribadinya dan mendapatkan berita, atau pihak ODESSA ternyata lebih cepat?

Ngomong-ngomong, novel ini telah difilmkan Ronald Neame dibintangi Jon Voight (Peter Miller) dan Maximillian Shell (Eduard Roschmann) di tahun 1974. Waaa pengen nonton, padahal film ini udah lama banget ya :v

#review #book review #Odessa File #Frederick Forsyth #Odessa File review

Tuesday, June 3, 2014

[Read & Review] - Giant Killing


Okeee!! Setelah me-review Banana Fish, kali ini saya akan membagikan sebuah komik yang akhir-akhir ini bikin saya ketagihan sampai ngulang dua kali! :D
Yep that's right! Giant Killing! Haha! Jangan disamain Jack The Giant Slayer ya, ini bukan film. Ini komik, manga :v
Berbeda dari ekspektasi yang mungkin muncul ketika kita lihat judulnya "Giant Killing", komik ini bukan kisah dongeng atau action yang fantasi banget. Justru komik yang dekat dengan kehidupan nyata.

 
Giant Killing sebuah manga yang ceritanya dibuat oleh Masaya Tsunamoto dan digambar oleh Tsujitomo. Tentang genre, kalau menurut saya pribadi genrenya adalah : sport, piece of life, komedi. Mungkin bakal bertambah seiring saya mendalami membacanya :D
Manga ini mengambil tema sepakbola dalam negeri, yaitu sepakbola Jepang. Yang dibahas adalah liga Jepang dan pertarungan para pemainnya dengan sesama pemain Jepang, bukan yang agak khayal kayak Kapten Tsubasa *buat fans Tsubasa, maaf ya >_<*

Komik ini dapat penghargaan Kodansha Manga Award ke-34 dan sekarang ini di tahun 2014 statusnya masih on-going dengan total 31 volume di negara aslinya. Di Indonesia kayaknya baru 22 (terakhir kali saya cek di bulan Mei kemarin) ~ huhu ~ lamanya ~
Furthermore, selain sudut ceritanya unik, komik ini gaya gambarnya juga nggak mainstream. Dibilang realis juga nggak, tapi shojo-ish juga nggak. Keren deh, apalagi penggambaran ekspresi kaget para tokohnya bikin ngakak. Suka banget sama adegan komedi dan watak-watak tokohnya XD

PLOT
Klub sepabola divisi 1 liga Jepang, ETU (East Tokyo United) sedang dalam keadaan depresi. Kalah berturut-turut sudah jadi kebiasaan. Juru kunci adalah julukan mereka. Pokoknya langganan kalah dan yang jelek-jelek gitu deh. Sebenarnya dulu mereka klub nomor satu dan ngetop banget. Pendukungnya banyak dan baik pemain, manajemen tim dan suporter semuanya saling bersahabat. Sejak ditinggal pergi sang ace, Takeshi Tatsumi--yang menerima tawaran klub luar negeri--ETU jatuh ke divisi dua dan mengalami masa-masa berat yang menyedihkan. Berkat perjuangan Murakoshi, ace ETU yang baru sekaligus kapten, mereka kembali ke divisi satu, tapi tetap dengan rekor buruk.

Akhirnya, Goto, GM sekaligus teman lama Tatsumi pergi ke Inggris bersama Yuri dari bagian humas untuk mencari Tatsumi. Di sana mereka menemukan Tatsumi menjadi manajer sekaligus pelatih tim sepakbola divisi lima Inggris mengikuti kejuaraan amatir dan amat disayang warga kota. Padahal, mereka berniat meminta Tatsumi kembali ke Jepang dan jadi manajer ETU. Akhirnya setelah mengalami perdebatan sulit, Tatsumi kembali ke Jepang dan menjadi manajer baru ETU.

Perjalanan ETU di bawah kepemimpinan Tatsumi tidak langsung lancar. Tatsumi berniat merombak ETU dari dasarnya, menimbulkan kericuhan oleh suporter setia dan pemain-pemainnya sendiri. Namun sedikit demi sedikit mereka menemukan ritme permainan dan mulai menerjang menjadi tim sepakbola yang lebih baik. Mereka mulai berkembang.

Cerita kemudian fokus dari satu pertandingan ke pertandingan lain. Emosi antarpemain, persaingan suporter lama dengan suporter baru, perkembangan pemain dan perebutan posisi. Bagus banget deh. Entah ending-nya bakal kayak apa nanti :D

CHARACTERS
Takeshi Tatsumi
Tokoh sentral cerita. Manajer sekaligus mantan ace ETU. Nyentrik, aneh, kadang kayak nggak punya gairah hidup atau semangat bertarung, bicara blak-blakan, tapi kalau udah tentang sepakbola, kayaknya dia tahu segalanya deh :D

Shigeyuki Murakoshi
Kapten ETU dan juga teman se-klub dengan Tatsumi dulu. Nomor punggung 6. Sifatnya keras, apalagi terhadap diri sendiri, disiplin, dan pendiam. Tapi sangat nggak suka kalah, dan suka menanggung semua sendirian. Sejak kedatangan Tatsumi sebagai manajer, bebannya berkurang dan ia bisa fokus menikmati sepakbola untuk dirinya sendiri. Posisi midfielder, tapi kayaknya lebih cenderung ke midfielder bertahan.

Daisuke Tsubaki
Penggugup, pengecut, pemalu, tapi kalau mau serius punya daya terobosan luarbiasa. Kelebihannya ada di kecepatan dan kelincahan. Ia disebut-sebut sebagai Tatsumi kedua oleh pencari bakat ETU, Pak Kasano. Tsubaki baru berusia 20 tahun ketika direkrut, dan sejak Tatsumi merombak formasi tim, dia jadi starting member. Posisi sama dengan Murakoshi, midfielder. Ia sering beraksi di saat-saat kritis dengan menantang dirinya sendiri yang pengecut. Menurut saya sih, sifatnya manis, tapi kalau di tengah-tengah remaja cowok kayak gitu disebut herbivora, lembek. Nomor punggung 7, sama dengan Tatsumi dulu.

Luigi Yoshida a.k.a Gino
Playmaker ETU. Posisinya midfielder menyerang. Blasteran Jepang-Italia dan digemari banyak cewek. Penyakitnya yang serius adalah narsis berat dan tidak suka repot. Sejak Tatsumi jadi manajer, Gino jadi banyak main. Dulunya dia malas-malasan walau berbakat dan jadi salah satu pemain penting di ETU. Dijuluki sebagai 'Pangeran' oleh teman-teman klub dan suporter. Nomor punggung 10.

Kazuki Kuroda
Si botak yang blak-blakan dan penuh semangat. Emosional, tapi sifatnya yang terbuka itu sangat membantu buat tim. Ia sering bentrok pendapat dengan Tatsumi, tapi ia melakukan yang terbaik untuk tim, jadi sering kalah pendapat, haha. Posisinya defense, center back. Dulu ia pembela Murakoshi saat Tatsumi mencopot Murakoshi dari posisi kapten, tapi akhirnya ia bisa berakrab ria dengan pemain lain. Nomor punggung 2.

Yusaku Sugie
Akrab dipanggil Sugi. Posisi sama dengan Kuroda, dan juga teman baik Kuroda. Berbeda dengan temannya, Sugi tenang dan pintar. Cenderung banyak berpikir dibanding mengatakan pendapatnya, tapi setiap pendapatnya penting dan tepat. Secara teknik dia di atas Kuroda, tapi sering menghormati mental Kuroda yang positif.

Hiroshi Midorikawa
Biasa dipanggil Dori atau Kak Dori. Kiper ETU yang sangat tenang dan bijaksana. Ia yang paling tua dan veteran di klub, juga mantan kiper timnas Jepang. Bahkan tampangnya pun udah menggambarkan kalau dia orangnya tenang dan terkendali! Dori jarang berpendapat, tapi semua kata-katanya saat diskusi tim sangat penting.

Yuri Nagata
Fans Tatsumi sejak kecil yang sekarang bekerja sebagai humas paling bersemangat di ETU. Ayahnya ketua klub. Sifatnya sangat blak-blakan, sering khawatir dengan tingkah Tatsumi yang tidak mencerminkan manajer teladan, dan sering marah-marah pada Tatsumi. Sebenarnya dialah yang paling menghargai cara melatih Tatsumi.

Ryo Akasaki
Karakter favorit saya nih :P
Posisi midfielder menyerang seperti Gino, tapi ia lebih sering maju jadi kayak forward. Akasaki seumuran dengan Tsubaki, tapi sifatnya keras, blak-blakan dan sok keren. Kesannya sombong, tapi kata-katanya benar. Ia yang sering punya pendapat berbeda dan bentrok dengan Kuroda yang menganggapnya junior kurang ajar. Tapi tekniknya bagus, sampai terpilih jadi anggota timnas olimpiade.

TOKOH LAIN BERDASARKAN POSISI
Midfielder : Hotta, Tanba
Forward : Yotaro Natsuki, Kyohei Sera, Sakai
Wing Back : Kiyokawa, Ishigami, Ishihama (ditransfer ke Kobe)
Goal Keeper : Sano
Pelatih : Matsubara

Dan masih banyak lagi tokoh lain. Banyak banget. Nggak mungkin saya sebutkan semuanya :v

KESIMPULAN
Reccomended manga, apalagi buat yang nggak suka komik dengan jalan cerita biasa aja. Di komik ini, tim ETU nggak selalu menang. Kalau menang pun pasti dengan sangat bersusah payah dan dalam kondisi lawan tidak sempurna. Perjalanan tim ETU dan Tatsumi sangat layak diikuti! :D
dari kiri ke kanan : Tatsumi, Dori, Kuroda, Sugie, Tsubaki, Gino, Tanba, Ishihama, Kiyokawa, Sera, Akasaki, Murakoshi
#reviewkomik #GiantKillingmanga #reviewmanga