Monday, June 9, 2014

[Read & Review] - Odessa File (Frederick Forsyth)



Waah padahal novel ini udah selesai dua bulan lalu kayaknya, tapi baru kepikiran buat bikin reviewnya. Terkesan maksain diri sih buat bikin reviewnya, soalnya novel ini buat saya kurang greget dibanding The Day of The Jackal (buat saya) walaupun dari pengarang yang sama. Anyway, ceritanya tetap thriller kelas tinggi. Dipinjam (dan diperpanjang berulangkali) dari perpustakaan daerah Salatiga, saya harap pustakawannya nggak bosen liat saya pinjam berkali-kali. Kecepatan membaca saya nggak rendah kok, cuma kalau baca nggak bisa seintens komik (langsung kebut selesai). Kalau capek ya istirahat. Maklumkan yah, pustakawan-pustakawati perpus :D

SAYA MEMBACA..
Saya pilih buku ini segera setelah selesai baca The Day of The Jackal, penasaran sama karya-karya lain dari eyang Frederick Forsyth :D Mengandalkan ingatan saya, saya rasa prolognya nggak panjang-panjang amat. Bisa juga ya bikin fiksi tentang Nazi. Memang banyak sih cerita-cerita yang beredar seputar Nazi, secara mereka memang topik abadi yang nggak akan ada habisnya buat dibahas kekejamannya, tapi biasanya dokumenter atau kisah nyata prajurit Nazi atau dari sudut pandang korban-korbannya. Gimana jadinya kalau di dunia modern masih ada orang-orang Nazi yang bersembunyi dan pihak yang mendendam masih mengejar mereka? Padahal buat Jerman sendiri, Nazi itu aib besar dan lebih baik dilupakan.
Versi Indonesia diterbitkan oleh Penerbit Serambi, sampulnya kayak gambar itu <<

PLOT
Berlatarbelakang tahun 1963 dan berawal dari kehidupan Peter Miller, seorang wartawan lepas yang jago mendapatkan berita sensasional. Hidupnya mewah, dengan mobil sport jaguar kebanggaannya, seorang kekasih cantik penari striptis bernama Sigi, dan karier yang menjanjikan. Suatu hari setelah mendengar berita kematian John F. Kennedy, Miller mengikuti sebuah mobil ambulans berharap mendapat berita. Korban hanya pelaku bunuh diri biasa, seorang Yahudi tua bernama Solomon Tauber. Miller nyaris menyerah, hingga beberapa hari kemudian seorang kawan dari kepolisian yang mengurus kasus itu memberikan buku harian Solomon Tauber pada Miller. Buku harian itu menceritakan kisah hidup Solomon Tauber selama jadi budak tawanan Nazi, dan betapa Solomon mendendam hebat pada seorang komandanNazi, Eduard Roschmann yang berjuluk Jagal dari Riga.

Usai membaca buku harian tersebut, terutama tertarik pada halaman yang menceritakan Roschmann menembak mati seorang kapten Jerman yang memiliki lambang perak, Miller memutuskan untuk memburu Eduard Roschmann ini, setidaknya mengetahui apakah orang itu masih hidup atau sudah mati. Ia bersitegang dengan bosnya yang tidak memberi izin. Miller memutuskan untuk pergi seorang diri. Ia mengunjungi berbagai kantor dan orang-orang yang memiliki wewenang mengurus buronan penjahat-penjahat perang itu dan mendapati tidak ada satu pun yang bersedia membantunya.Informasi yang dimiliki juga sedikit. Namun perjalanan membawa Miller bertemu Simon Wiesenthal, seorang pemburu Nazi yang sukses membawa satu demi satu penjahat-penjahat itu ke pengadilan. 

Simon memberitahu Miller tentang organisasi bernama ODESSA, yang bertugas untuk menjamin hidup anggota-anggota Nazi terutama anggota SS. Simon dan kelompoknya telah beberapa kali menyusupkan agen ke dalam ODESSA, namun semuanya gagal. Miller ditawari menyusup dan setuju, dengan syarat ia mendapatkan sebuah data bernama Odessa File, yang memuat data semua anggota SS. Selama beberapa waktu ia dilatih oleh mantan anggota SS senior menguasai hal-hal dasar dalam organisasi agar dapat melewati interogasi. Miller berhasil menguasainya, dan penyusupan awalnya pun sukses. Nasib baik Miller hampir berakhir ketika pihak ODESSA mencurigainya, karena selama ini mereka telah mendengar kabar seorang wartawan yang memburu Roschmann. ODESSA kemudian mengirimkan seorang pembunuh untuk menghabisi Miller.

Roschmann secara kebetulan juga seorang keyman dengan kode Vulkan, bertanggungjawab atas sebuah proyek yang dijalankan ODESSA untuk menghancurkan Israel dan Mesir. Orang-orang yang ditemui Miller sepanjang perjalanan penasaran dengan motif yang membuat Miller mengejar orang ini. Miller selalu menjawab bahwa ia merasa berkewajiban menangkap pembunuh rakyat, namun belakangan diketahui motif aslinya ketika ia berhadapan langsung dengan Roschmann.
Mossad, intelijen Israel yang mendengar tentang Miller pun akhirnya mengirimkan agen terbaiknya, Josef untuk membuntuti Miller dan melindunginya jika diperlukan. Sebab, pengejaran Miller atas motif pribadinya akan berdampak pada kelangsungan proyek ODESSA.

EPILOG
Bagian menegangkan adalah kejar-kejaran pihak ODESSA yang berusaha menghabisi wartawan muda itu. Saling mendahului dan mendapatkan jejak, lalu Miller yang berusaha kabur mati-matian. Keren juga lho :P
Ada sebuah detail mengagumkan tentang pembuatan bom plastik sederhana di dalam novel ini, ketika pembunuh kiriman ODESSA memasang bom di bawah mobil jaguar Miller. Saya rasa ini agak berbahaya, siapa tahu ada orang iseng yang mencoba praktek dan berhasil -_- wuih bahaya itu.
Cocok dibaca oleh penggemar novel thriller suspense, penggemar Frederick Forsyth (ya iyalah) dan penggemar kisah-kisah Nazi.
Berhasilkah Miller melaksanakan motif pribadinya dan mendapatkan berita, atau pihak ODESSA ternyata lebih cepat?

Ngomong-ngomong, novel ini telah difilmkan Ronald Neame dibintangi Jon Voight (Peter Miller) dan Maximillian Shell (Eduard Roschmann) di tahun 1974. Waaa pengen nonton, padahal film ini udah lama banget ya :v

#review #book review #Odessa File #Frederick Forsyth #Odessa File review