Wednesday, August 6, 2014

Seputar Jalur Masuk Perguruan Tinggi Negeri : SNMPTN, SBMPTN, UM


Akhirnya kesampaian juga posting tentang jalur-jalur masuk perguruan tinggi negeri. Sudah lama saya dambakan, akhirnya tercetak juga. Mengingatkan saja, posting ini dibuat tahun 2014 dan saya sudah tidak terlalu mengikuti perkembangan kebijakan pendidikan SMA sekarang jadi kalau ada beberapa informasi yang sudah usang, mohon dimaklumkan. Sedikit pamer kejadian masa lampau #eh saya lolos SBMPTN 2014 pilihan ke-3 UNDIP Ilmu Kelautan, tapi lolos Ujian Mandiri UGM Ilmu Kehutanan, akhirnya sekarang saya seorang pejuang kehutanan. Seneng banget, nggak nyangka padahal soalnya susah dan saya nggak les/ikut bimbel. Jangan ditiru! Belajar itu perlu! Nggak ada salahnya serius belajar, ini tentang masa depan.

Oke, sebelum OOT terlalu jauh dan sebelum menjelaskan tentang jalur-jalur perguruan tinggi ini, ada hal penting yang harus diketahui. Sebenernya nanti juga bakal dijelaskan berkali-kali sama guru BK, guru mapel tertentu bahkan tim promosi dari kampus-kampus, tapi gak ada salahnya tau lebih dulu.
Tentunya teman-teman tahu, jurusan di SMA terbagi menjadi tiga : IPA, IPS, Bahasa. Nah kalau mau masuk perguruan tinggi, tiap program studi ada jurusannya sendiri. Misalnya jurusan Kedokteran, yang boleh masuk cuma anak IPA tapi kalau lewat tes tertulis, asal nilainya mencukupi mau anak IPS, Bahasa, SMK juga nggak masalah.

Jalur-jalur perguruan tinggi kita juga terbagi menjadi tiga : Saintek, Soshum, Campuran/IPC.
Saintek : singkatan dari Sains dan Teknologi. Ini nih terusan dari anak IPA. dulu namanya tetep program IPA, tapi entah mengapa diganti jadi Saintek. Bikin bingung aja. Nanti pihak perguruan tinggi bakal mencantumkan keterangan program-program studi mereka termasuk Saintek/Soshum. Pasca UN juga ada banyak buku-buku yang menjelaskan tentang ini. Contohnya Kedokteran itu Saintek, Teknik Kimia dan segala macam teknik itu Saintek, Ilmu Kelautan, Kehutanan juga Saintek, dll.
Soshum : singkatan dari Sosial Humaniora. Jangan bingung ye, ini gabungan dari IPS dan Bahasa. Jadi program Ekonomi, Psikologi, Sastra itu masuknya Soshum. Anak IPA sebenernya nggak boleh ya ambil lahannya jurusan IPS/Bahasa, tapi semua tergantung kebijakan perguruan tinggi masing-masing. Ada beberapa universitas yang memperbolehkan lintas jurusan.
Campuran/IPC : nah ini hanya untuk jalur ujian tertulis. Jadi misalnya pilihan 1 kalian programnya Saintek, tapi pilihan kedua programnya dari Soshum. jadilah program pilihan kalian namanya IPC (Ilmu Pengetahuan Campuran). Serakah banget sih semuanya mau :v
tapi tesnya juga jadi dua, jadi kalian dari jurusan IPA harus ngejar materi anak IPS-Bahasa 2 tahun ditambah belajar materi kalian sendiri dan sebaliknya. Paling susah anak Bahasa, materinya paling jauh beda, jadi kalo merasa salah jurusan di SMA dan pengen lintas jurusan di perguruan tinggi ya siap-siap aja.

Oke, balik ke materi utama. Jadi sesuai yang diketahui umum, ada 3 jalur menuju Roma perguruan tinggi : SNMPTN, SBMPTN, dan Ujian Mandiri.

SNMPTN
Singkatan dari Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Kalau ngobrol bareng orang tua bisa bikin bingung karena disebutnya bakal lain kayak Jalur Undangan, Pemamik, PMDK, dsb. Emang bener karena jalur yang ini nggak pakai tes tapi seleksi nilai rapor (sekarang nilai UN juga buat pertimbangan). Nanti yang mengupload nilai rapor dari semester 1-5 itu pihak sekolah, siswa cuma diminta untuk verifikasi dari rapor asli, bener nggak tuh nilai-nilai yang ditulis. Ntar yang nilainya bagus jadi jelek, yang jelek tambah jelek. Kalau dari jelek jadi bagus biasanya nggak bakal ada yang protes ya :v
Dulu namanya SNMPTN Undangan, sekarang udah diganti namanya jadi SNMPTN doang. Oleh pihak bimbel dan les pakainya bahasa keren SenamPTN -__-
Karena sekarang semua sistem udah online lewat internet, untuk SNMPTN nanti siswa diminta mengisi data, verifikasi nilai rapor, terus pilih program studi dan universitasnya. Untuk pilihan kedua entah kenapa cuma bisa dari universitas tertentu aja.
Untuk SNMPTN ini enggak bisa lintas jurusan ya, kecuali universitas yang kalian tuju punya kebijakan tentang itu. Jadi anak IPA ya ambilnya Saintek, IPS Bahasa ambilnya yang program Soshum. Cek ke situs kampusnya, karena tiap kampus kebijakannya beda. Ada universitas yang mengategorikan Psikologi ke Saintek, tapi mayoritas ke Soshum sih. Mau tetap nekat coba lintas jurusan? Jangan. Sayang kesempatannya, nanti kayak saya gagal di SNMPTN #upslukalama

Program BidikMisi (kuliah gratis khusus siswa kurang mampu) juga ada, tapi jujur aja lebih ribet. Kalo mau ikut bidikmisi harus nyiapin banyak data termasuk surat-surat keterangan, terus foto rumah blablabla mungkin bakal saya kasih posting khusus tentang bidikmisi deh :v
Harap diingat bidikmisi ini cuma nebeng doang, kalo SNMPTN-nya nggak lolos ya nanti bidikmisinya nggak lolos. Kalo SNMPTN-nya lolos, bidikmisi bisa lolos bisa enggak tergantung hasil survei lapangan dari pihak universitas. Contohnya dari UNDIP, serius rumah saya kemarin (4 Agustus) kedatengan tim survei, kayaknya eksekutif mahasiswa (OSISnya kampus) cowok 1 cewek 1, nagih data-data (tapi saya gak di rumah), terus foto-foto kamar, dapur, dll :v
Website resmi SNMPTN : snmptn.ac.id

SBMPTN
Nggak lolos Jalur Undangan/SNMPTN? Nah jalur yang tambah bikin bingung karena namanya paling sering diganti ini bisa jadi tujuan selanjutnya. SBMPTN singkatan dari Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Kalo berdasarkan arti kata, emangnya apa sih bedanya sama SNMPTN? Bikin bingung aja.
Dulu namanya bervariasi dari SNMPTN Tulis, Ujian Tertulis, UMB (kepanjangannya gak tau, mau asal nebak takut salah :v), yah intinya sama aja sih : semua pelajar lulusan SMA baik yang lulus tahun itu atau dari tahun-tahun sebelumnya se-Indonesia bersama-sama ikut ujian tertulis dengan soal-soal kualitas perguruan tinggi (nggak bisa dibandingin sama UN). Ada senior yang bilang soalnya 6x lebih sulit, tapi waktu menjalani sendiri saya nggak bisa menilai. Yah pokoknya susah, jadi harus ekstra.

Tesnya ada 3 yaitu Tes Kemampuan Jurusan (Saintek/Soshum/Campuran), TKD (tes kemampuan dasar) dan TPA (tes potensi akademik). Untuk ikut tes ini bayar lho kecuali untuk pelamar bidikmisi. Kalo pilih IPC, bayarnya lebih mahal. Semua tes di atas harus diikuti!
Tes Saintek terdiri dari mapel Matematika, Kimia, Fisika, Biologi. Tes Soshum saya kurang tau.. Kalo IPC berarti kalian bakal ngerjain semuanya mulai dari Fisika sampe Sejarah. Biasanya terdiri dari 15 soal per mapel, jadi antara 60 soal.
TKD terdiri dari Matematika Dasar, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia. Yang Bahasa Inggris ada yang setara TOEFL, tapi jangan takut lah. Kuncinya sering latihan soal dan rajin membaca karena teksnya banyak banget. 60 soal.
TPA itu semacam tes psikologi untuk mengukur kecerdasan alam / IQ. Ngejelasinnya susah jadi mending cari contoh-contoh soalnya aja, di internet banyak kok. Menurut saya untuk TPA satu ini nggak bisa diakali dengan belajar karena mau nggak mau soal-soalnya cuma main nalar dan logika, tapi nggak sulit kok. TPA ini biasanya paling banyak jumlah soalnya, penolong untuk mempertinggi nilai jadi jangan dikosongi.

Nah di SBMPTN ini, kalian bebas memilih mau perguruan tinggi mana, mau jurusan apa nggak peduli kalian dari IPA/IPS/Bahasa. Anak Bahasa bisa masuk Teknik Elektro kalau emang nilainya mencukupi. Sampai sekarang sepertinya masih ada rumor batas nilai yang dinamakan passing grade. Passing grade ini dalam persen, dan besarnya ditentukan berdasarkan banyaknya peminat dan tingkat kesulitan program studi jadi nilainya nggak pernah tetap (selalu berubah tiap tahun) dan setiap universitas berbeda. Misalnya Sastra Indonesia di UI bakal beda dengan passing grade yang di UGM.
Di bimbel/internet banyak yang memberi informasi tentang passing grade dari perguruan tinggi negeri, tapi saya bilang kalian jangan percaya mentah-mentah. Memang bagus buat jadi target nilai, tapi nggak selalu bener karena nilainya nggak tetap dan beberapa PTN sudah mengeluarkan pernyataan bahwa mereka tidak pernah menggunakan atau merilis yang namanya passing grade.

Next info, jawaban benar nilainya 4 dan jawaban salah nilainya -1 alias dikurangi. Jawaban kosong nilainya 0 (nol), jadi kalau nggak yakin dengan jawaban kalian mending nggak usah dikerjain karena waktu juga terbatas, soalnya hampir mustahil untuk mengerjakan semuanya. Dan buat tes kemampuan jurusan, nanti ada tiga tipe soal : pilihan ganda, sebab-akibat, dan yang satu lagi nanti diberi option lalu pilih option mana aja yang bener (ini paling berisiko jadi kalo beneran gak tau gak usah dikerjain).
Untuk lokasi tes nanti menyesuaikan daerah asal dan daerah universitas, tes dilaksanakan di gedung-gedung kampus. Kalau daftarnya telat bisa juga tes di kelas-kelas SMA/SMK terdekat di daerah itu.

Untuk bidikmisi aturannya sama dengan SNMPTN.
Website resmi SBMPTN : sbmptn.or.id

UJIAN MANDIRI (UM)
Ujian mandiri ini diadakan oleh masing-masing universitas dengan kualitas soal dan kebijakan masing-masing. Biasanya pendaftaran ujian mandiri dibuka beberapa hari setelah pengumuman SBMPTN. Jadi urutan pengumuman kelulusan : SNMPTN (setelah UN selesai), SBMPTN (setelah pengumuman SNMPTN dan tes berlangsung), baru Ujian Mandiri. Untuk UM ini aturannya menyesuaikan dari universitas masing-masing. Ada yang soal tesnya dipermudah, ada yang dipersulit. Menurut kaum pelajar yang mengalami sendiri, soal ujian mandiri paling susah itu punya UI (SIMAK UI).
Tipe soal dan aturannya sama seperti SBMPTN, tapi mungkin ada kebijakan yang berbeda jadi tetep baca aturan mengerjakannya ya. Contohnya UM UGM 2014 kemarin, untuk TPA ternyata tidak ada pengurangan nilai bahkan dianjurkan untuk mengerjakan semua soalnya (nebak), jadi sangat membantu kelulusan. Biayanya juga relatif mahal karena diberi kebebasan memilih lebih dari satu program studi. Berkisar 200-300 ribu. Nah kalo tes ini bebas, misalnya mau ikut UM UGM, habis itu ikut UM Undip, belum puas masih mau ikut UM Unnes ya terserah, sediakan uang saja buat pendaftaran. Pendaftarannya biasanya dilakukan secara online, jadi pantau terus website resmi universitas.

Oh ya, bidikmisi juga bisa dipakai di ujian mandiri, tapi hanya bisa untuk satu universitas dan dua pilihan program studi. Misalnya yang pertama kali kalian ikuti itu SIMAK UI, terus bidikmisinya dipakai di SIMAK UI. Nah, misalnya boleh pilih 3 program studi dan kalian lolos pilihan ketiga, dan pilihan ketiga itu nggak kalian cantumkan di bidikmisi, ya udah bye bye bidikmisi.
Atau misalnya setelah ikut SIMAK UI kalian ikut UM Unnes, bidikmisi kalian udah nggak bisa dipakai lagi sekali pun kalian lolos UM Unnes.

Untuk UM Universitas Swasta bidikmisi juga ada lho, dengan aturan yang sama untuk UM PTN.

KUOTA PER JALUR MASUK
Menurut kebijakan tahun 2013, ditentukan demikian :
SNMPTN mengambil 50% dari kuota program studi.
SBMPTN mengambil 30%
Ujian Mandiri mengambil sisa 20% nya.
Jadi contohnya begini, Ilmu Kehutanan UGM kuota per angkatan 250 orang. Dari SNMPTN bakal diambil 125 orang, dari SBMPTN diambil 75 orang dengan nilai tertinggi, dan Ujian Mandiri 20 orang dengan nilai tertinggi. Begitchu.
Untuk tahun 2014 aturannya masih sama. Tahun-tahun berikutnya mungkin akan ada perubahan jadi tetap ikuti informasi terbaru.

INFORMASI LAIN
Sistem uang kuliah perguruan tinggi negeri sekarang udah pakai UKT (Uang Kuliah Tunggal). Jadi nggak ada dikit-dikit bayar biaya gedung, terus tiap ambil SKS bayar lagi, udah nggak ada. UKT ini subsidi dari pemerintah, jadi hanya sebagian dari biaya kuliah yang ditanggung mahasiswa, yang sebagian lagi pemerintah yang bayar.
UKT dibayarkan per semester dan variatif tergantung kemampuan ekonomi keluarga. Dan enggak ada uang pembangunan yang puluhan juta itu karena sistemnya subsidi silang (yang lebih kaya bayar lebih mahal). Nggak peduli lolos lewati SNMPTN, SBMPTN, Ujian Mandiri, sama aja bayarnya sesuai kemampuan ekonomi orangtua. Kebijakan universitas dalam menentukan UKT ini berbeda-beda. Pelamar bidikmisi UKT nya nol rupiah, dengan beberapa syarat salah satunya IPK minimal 2,75 dan nggak boleh cuti kuliah. Kalo cuti kuliah, beasiswa dicabut, suruh cari beasiswa lain.
Sebagai contoh ilustrasi UKT :
Untuk orangtua yang gaji kotor dari keduanya sekitar 500.000, nanti dapat UKT 1 murah, ya sekitar 500.000 per semester. Gaji sekitar 1-2 juta nanti dapet UKT 2 sekitar 1 juta per semester, dst.
Berlanjut pembagiannya sampai UKT 6 di mana kedua orang tua gaji kotor digabungkan lebih dari 10 juta, nah itu bayarnya gila-gilaan 5 juta ke atas per semester. Nah kawan-kawan dari UKT 6 inilah yang istilahnya membayari bagian teman-teman di UKT 1. Walau tiap universitas beda pengaturan UKT-nya, tapi gambaran kasar kurang lebih seperti ini.

Pro dan kontra tentang UKT
Ini masih menjadi salah satu topik yang debatable terutama di kampus saya. Mungkin karena merakyat ya, jadi pengennya yah kebijakan yang merakyat juga begitu. Dengan adanya UKT ini, mahasiswa jadi merasa berat hati apabila tidak mengambil penuh mata kuliah sesuai dengan kapasitas nilai. Yang terjadi di fakultas saya adalah kecenderungan untuk mengambil sks maksimum, berdampak pada jumlah pegiat organisasi dan aktivis. Belum lagi belum diketahui pertimbangan yang dipakai universitas untuk menentukan UKT dari besarnya pendapatan orangtua, karena seringkali terjadi teman-teman saya mendapat UKT yang berada di atas kemampuannya. Misalkan saja seorang teman saya gaji orangtuanya apabila dijumlah melebihi 20 juta, tapi dia anak ketiga dari 5 bersaudara. Kedua kakak masih kuliah juga, dan kedua adiknya masih sekolah. Nah loh.

Yang lolos lewat Ujian Mandiri bakal bayar lebih mahal?
Nggak tuh. Semuanya tergantung dari kebijakan masing-masing universitas. Undip misalnya, kalau lewat yang jalur ujian mandiri, UKT 1,2,3 ditutup, yang tersedia cuma UKT 4,5,6. Sedangkan saya misalnya sebagai contoh, lewat UM UGM tapi karena pendapatan kotor kedua orangtua tidak mencapai 3 juta, saya dapat UKT 2 . Pengisian data online juga nggak bisa bohong lho, soalnya harus upload scan rincian gaji orangtua.

Yang lolos jalur undangan/SNMPTN bakal bayar lebih murah?
Enggak juga. Dulu sih memang jalur undangan itu murah, sekarang zaman telah berganti. Sekali lagi, semua tergantung kebijakan universitas masing-masing. Ada beberapa temen yang lolos lewat SNMPTN tapi malah diminta bayar biaya pembangunan puluhan juta, walaupun selanjutnya biaya kuliah lewat UKT. Mungkin sekarang persepsinya berbeda, karena yang lolos lewat undangan itu selanjutnya nggak susah, cuma lewat nilai rapor yang sekarang bisa dikatrol dan nilai UN. Yang ujian tulis kan murni kemampuan pelajar itu sendiri (kecuali yang beli kunci jawaban, masih adaaa aja -_-).

Nah sekian dulu deh, semoga bisa membantu temans yang masih bingung, atau yang iseng, atau yang udah ngerti tapi cari info lebih atau yang nyasar aja ke sini.
Saya mengalami sendiri semua jalur di atas, kecuali Ujian Mandiri swasta. Kalau diingat sekarang emang repot banget. Verifikasi data di sekolah bisa berjam-jam, apalagi saya mengajukan bidikmisi, sampai pulang malam. Habis itu SNMPTN nggak lolos, ikut SBMPTN dengan percaya diri tapi abis itu down karena setelah dicocokin sama kunci jawaban salah satu bimbel (nebeng temen) banyak yang salah, dan sampai kehilangan hape waktu UM (semacam tumbal kali ya, soalnya abis itu lulus hahaha).

Yang mau ujian, semangat!!! Kalau ada cita-cita, halangan apa pun bisa ditembus kok. Banyak teman saya yang banting setir ngejar materi 2 tahun dari jurusan yang berbeda dan bisa lolos perguruan tinggi favorit. Semangat!