Sunday, August 17, 2014

Terpaku Kagum : Universitas Gadjah Mada

Hari ini bertepatan dengan ulang tahun negara tercinta Republik Indonesia, genap satu minggu saya berada di Jogja. Menurut EYD, yang benar adalah Yogyakarta, tapi kata 'Jogja' lebih menyenangkan untuk diucapkan, kenapa ya? :v Ini yang namanya udah tau salah tetep diterusin -_-"
Saya baru mengikuti rangkaian persiapan ospek PPSMB Palapa 2014 di UGM selama 2-3 hari, tapi lebih dari cukup untuk mengubah cara pandang saya. Luar biasa, pengalaman yang sulit didapatkan kalau bukan di perguruan tinggi yang memang punya lebih dari sekadar nama besar. Jujur saya cenderung apatis dan individualis kalau sudah tentang tugas kelompok, keangkuhan konyol dan bodoh karena teman-teman semasa SMA banyak yang pemalas dan curang, culas dan tidak punya malu. Yah saya juga keterlaluan sih sudah bilang begitu tentang mereka, tapi kalau disuruh berpendapat jujur, di samping segala kebaikan dan kelebihan yang mereka punya, kecurangan seperti itu sangat memalukan. Oke, kesampingkan itu, saya kan mau cerita tentang UGM :v

Jadi, setelah dibagi dan bekerja dalam kelompok, saya benar-benar senang karena akhirnya saya tidak perlu  terpaksa menjadi pemimpin, terpaksa mengambil alih dengan setengah hati karena tidak ada yang berniat mengerjakan tugas dengan baik. Dalam kelompok saya sungguh bisa mengerjakan bagian saya sendiri tanpa perlu mengkhawatirkan koordinasi dan kepemimpinan, karena saya tipe yang dengan senang hati mundur dari kursi pemimpin apabila ada yang lebih pantas (bukannya sombong sih :v). Saya bisa tenang, punya concern sendiri, tidak perlu mengambil alih tugas orang lain karena kekhawatiran ketidaksempurnaan (nggak ada maksud perfeksionis, setidaknya jalan gitu lah tugasnya) karena masing-masing pribadi dalam kelompok saya adalah orang-orang cerdas, penuh inisiatif dan tanggung jawab serta semangat dan pikiran yang positif. Memang tepat apa kata orang, bergaullah dengan orang-orang baik maka dirimu jadi baik. Sedikit demi sedikit saya mulai terpengaruh dan saya sangat bersyukur, diri saya yang cukup sering berpikiran negatif dan congkak ini mulai berubah. Kebanggaan menjadi bagian dari UGM sekarang terasa jelas, lebih-lebih saya bangga karena mengenal orang-orang seperti mereka. Saya tahu ada yang lebih baik dari mereka, dan mereka hanya sebagian kecil saja, itu membuat semangat saya terpacu. Sangat jarang saya mendapat picu semangat seperti ini.

Saya mengetik posting ini di warnet dekat kos di Jogja. Tujuan awal sih sebenernya buat cari materi tugas PPSMB esai senior-senior yang jadi mahasiswa berprestasi, dan gila, mereka betul-betul sarat dengan prestasi. Senior yang saya pilih adalah Ahmad Nasikun, mahasiswa berprestasi UGM tahun 2010 dan juga mahasiswa berprestasi versi Dikti, selain prestasinya mengagumkan, beliau rendah hati dan informasinya mudah didapat (check out for his blog : ahmadnasikun.wordpress.com). Yang lucu adalah kebanyakan mahasiswa berprestasi itu tampangnya ramah dan sederhana, saya bertanya-tanya bagaimana cara mereka mengatur waktu. Saya harap mereka juga menghabiskan waktu untuk memanjakan diri sendiri, kalo saya sih kebanyakan -____-
Memang rasa minder timbul setelah saya mengenal lebih jauh tentang UGM dan mahasiswa-mahasiswanya yang outstanding, tapi yang lebih mengagumkan lagi adalah saya terinspirasi. Bukan minder yang menjatuhkan tapi minder yang positif. Saya jadi semangat. Bukan semangat berlebihan seperti "saya juga mau seperti itu" atau "saya juga akan jadi seperti itu", tapi semangat untuk menjalani segala hal dengan serius dan sepenuh hati. Lingkungan SMA saya, entah mengapa tidak membuat saya terpacu untuk mengerjakan segala sesuatu dengan serius (tapi untunglah tidak ada yang setengah hati) karena orang-orangnya meremehkan. Semacam pengaruh negatif yang melemahkan inisiatif, di mana segala macam kerja keras terasa seperti disindir dan diejek,"Buat apa sih kamu serius kayak gitu, ngapain gitu lho."

Untuk junior-junior yang masih menempuh pendidikan di SMP dan SMA, pendidikan Indonesia sedikit demi sedikit mengalami perubahan menjadi lebih baik (sepertinya? :v). Saya akan berkata jujur, kepicikan saya mulai terkikis karena awalnya ada rasa tidak suka akan kemajuan Indonesia. Pola pikir jelek seperti Indonesia tuh harusnya jadi jelek-jelek aja, nggak usah maju, ngapain sih. Yah, di sisi lain juga ada bagian dari diri saya yang menggebu-gebu untuk berbuat sesuatu demi bangsa ini, sih, tapi pikiran negatif seperti itu juga kadang ada. Mungkin karena saya iri akan kemajuan bangsa, sedangkan saya tidak pernah berkembang. Adik-adik kelas, mungkin masa SMP dan SMA kalian buruk, suram, tidak berprestasi, tapi sekarang ini masih ada waktu. Tidak ada ruginya kalian belajar keras sungguh-sungguh sekali seumur hidup demi mendapatkan perguruan tinggi yang baik. Persiapkan mental. Jangan mau kalah dengan sindiran dan cibiran negatif ketika kalian yang selama ini enggak pernah masuk 20 besar di kelas tapi mencoba mengincar perguruan tinggi negeri yang terkemuka. Berusahalah sungguh-sungguh, karena perjuangan itu enggak ada ruginya sama sekali ketika kalian berhasil masuk gerbang perguruan tinggi yang kalian tuju. Serius, saya jamin.

UGM tidak hanya sekadar nama, dan yang bikin tambah minder lagi adalah orang-orangnya adalah contoh nyata penerapan ilmu padi, makin berisi makin rendah hatilah mereka. Saya kagum, dan saya jujur berterima kasih karena ada orang-orang seperti itu di Indonesia, di dunia ini. Terima kasih, saya akan berusaha!! Uyeeeeaaaah!!

No comments:

Post a Comment