Thursday, February 19, 2015

[Read & Review]The Physick Book of Deliverance Dane (Katherine Howe)


Yahooooo! Hih udah lama banget sejak posting terakhir tentang review buku. Akhir-akhir ini lebih hobi baca komik online daripada novel sih :v
Karena di Jogja perpustakaannya enggak selengkap perpustakaan kota lama saya, novel ini terbeli bermodal, biasanya sih pinjam gratis lah :3

Eh seriusan, saya nggak bermaksud menghina menyindir atau apapun, tapi perpustakaan kota Jogja itu satu-satunya? Bangunan baru bukan ya? Jujur saya merasa tidak puas karena perpustakaan ini levelnya bukan kota lagi tapi perpustakaan provinsi, namun koleksinya tidak sesuai yang saya harapkan. Mohon maaf kalau misalnya perpustakaan ini bangunan baru dan sedang dalam tahap pengoleksian buku, karena saya kurang tahu. Mohon gubernur perhatiannya pada perpustakaan :) Jogja 'kan kota pelajar, dan buku yang notabene merepresentasikan sesuatu yang terpelajar seharusnya tersedia. Yah walaupun seluruh kampus dan sekolah di seluruh provinsi DIY memiliki perpustakaannya masing-masing, tetap diperlukan perpustakaan umum yang bisa diakses publik yang "haus" akan bacaan berbobot (ecieh berbobot :v).

Ok back to the topic, awalnya saya nggak bermaksud membeli novel ini, tapi berhubung diskon besar-besaran akhirnya saya membelinya seharga 15.000 saja :v
Sinopsis di cover belakangnya menarik, tema yang diambil mengenai penyihir, ditambah kenyataan bahwa buku ini merupakan New York Times Bestseller, salah satu dari Top Ten Books 2009 versi USA Today cukup membuat saya tergiur untuk membacanya (di samping harga diskon bantingannya :v).

Saya membaca...
http://3.bp.blogspot.com/-potmn3B9zQw/UT1xo8wsZXI/AAAAAAAABDk/_jSJUoTb03k/s1600/the+physick+book+of+deliverance+dane+1.jpgUkuran hurufnya kecil-kecil dan teksnya padat dengan narasi yang detil terhadap penggambaran suasana membuat saya bosan, dan akhirnya buku ini baru terselesaikan empat bulan sejak pembelian -_-
Jujur saja bagi saya bab-bab awal membuat saya cepat mengantuk dan menjadikan buku ini pengantar tidur. Dari total 22 bab, saya baru bersemangat membaca ketika cerita mulai menarik perhatian saya di bab 13 (jauh banget!). Sejak itu terasa suasana mencekam, mendebarkan, thrilling yang memuncak di bab akhir. Bukan novel horor sih, tapi thrill yang saya rasakan jelas bukan yang biasanya ada di novel-novel detektif Agatha Christie atau Sherlock Holmes. Ada bagian keterangan tambahan dari sang penulis Katherine Howe mengenai fakta-fakta penyihir yang diketahuinya dan bahwa ia sendiri merupakan keturunan kesekian dari wanita yang disidang hukuman mati sebagai penyihir di Salem. Novel ini bukan berdasarkan kisah nyata, namun ada bagian-bagian yang diambil dari kisah nyata. Bukan tipe novel penyihir kayak Harry Potter lho :v

PLOT
Ada dua bagian dari gaya penceritaan novel ini, yang satu menceritakan kehidupan Connie Goodwin, mahasiswi pascasarjana Sejarah Kolonial Harvard dalam penelitian disertasinya yang berjalan maju, dan flashback kehidupan Deliverance Dane dan keturunan-keturunannya. Cerita utamanya ada pada penelitian Connie Goodwin. Pada setiap bab terdapat bagian dari bab tersebut yang diberi judul "Jeda" yang menceritakan kehidupan Deliverance Dane.

Penelitian disertasi Connie terpaksa dilakukan di rumah tua milik neneknya di Marblehead, Massachussets yang atas permintaan ibunya yang nyentrik harus dibersihkan dan diperbaiki agar layak dijual. Rumah tua beserta benda-benda tuanya selalu menyimpan misteri. Connie menemukan kunci antik di dalam Alkitab tua di antara buku-buku lapuk pada koleksi neneknya beserta sepotong perkamen bertuliskan Deliverance Dane--sebuah nama yang cukup unik. Usaha Connie untuk mencari tahu tentang Deliverance Dane ini membawanya bertemu sepotong romansa dengan pemuda tukang cat kubah gereja. Penelitian disertasi membuat Connie memutuskan untuk menemukan artefak milik Deliverance beserta masa lalu yang mengerikan, betapa pengadilan penyihir di Salem akibat paksaan dan dakwaan sosial karena ketakutan-ketakutan yang tidak masuk akal membuat wanita-wanita tidak bersalah mengakhiri hidupnya dalam ketidakadilan.

KESIMPULAN?
Mau membacanya atau tidak, saya serahkan pada Anda. Buat saya agak sulit memahami percakapannya, punya arti-arti tersirat :v Saya pribadi menemukan buku ini menarik setelah membaca separo lebih, membuat saya bertanya-tanya betapa manusia bisa menimpakan kesalahan pada orang lain demikian mudah, padahal sudah banyak kebaikan yang diperbuat orang tersebut. Setetes tinta merusak susu sebelanga, walaupun peribahasanya kurang tepat dipakai di sini, namun itulah yang terpikir oleh saya.
Satu perbuatan jahat dapat melenyapkan seribu kebaikan yang telah diperbuat. Tidak peduli Anda sudah banyak berbuat baik, menolong banyak orang, namun satu kesalahan membuat dapat membuat semua kebaikan tersebut terlupakan. Itulah yang terjadi di masyarakat lampau maupun modern, sekarang pun masih terjadi. Banyak, malah. Ada banyak pesan moral terselubung dalam novel ini, salah satunya adalah bahwa kehormatan bisa takluk di depan ambisi dan nama baik remuk akibat kecerobohan. Manusia-manusia yang saling menyalahkan, mencari kambing hitam agar mereka sendiri terlindungi, menimpakan kesalahan saat terdesak pada siapapun yang memiliki celah sekali pun orang tersebut telah menyelamatkan mereka.

Mungkin buku ini bisa membuat Anda berpikir ulang mengenai ilmu sihir yang selalu mendapat respons negatif, padahal orang-orang yang terlahir dengan bakat bawaan tersebut tidak bersalah.

QUOTES
"Hanya karena kamu tidak percaya, bukan berarti itu tidak nyata."
-Penjaga Toko Barang-barang Sihir

"Aku percaya bahwa tidak ada hal di dunia ini atau di dunia selanjutnya yang bukan merupakan pekerjaan Tuhan."
-Deliverance Dane

"Semoga Tuhan Yang Mahakuasa dan Pemurah memaafkan mereka karena mereka tahu apa yang mereka perbuat."
-Rebecca Nurse

"Jiwaku yang kekal milik Tuhan, untuk diperlakukan sesuai kehendak-Nya. Kalau aku diselamatkan, itu berkat karunia-Nya belaka."
-Deliverance Dane

Ada lagi yang lainnya tapi jujur saya terlalu ngantuk untuk bisa mengingatnya, temukan sendiri yaa :3