Wednesday, February 10, 2016

New Year's Self-talking


Good morning, folks!
Saya selalu merasa ada baiknya membuat tulisan mengenai sesuatu yang sangat populer setiap pergantian tahun : resolusi tahun baru. Hmm. Untuk resolusi tahun 2016 sudah terlalu terlambat, tapi mumpung baru saja kita menyambut tahun Monyet Api, saya rasa ini kesempatan yang baik untuk berbagi cerita baru. Selamat tahun baru!

Lama tidak bersua, setelah setahun lamanya saya terkurung dalam kehidupan mahasiswa yang campur aduk. Padahal saya kira sudah cukup kesibukan yang saya ambil sampai hari ini, tapi ketika melihat teman-teman saya mendapatkan pencapaian yang tidak saya miliki (sejujurnya ini rasa iri yang positif :v), jiwa kompetitif saya tergugah. Seriously, you definitely need this kind of competitive spirit.

Ada banyak topik yang ingin saya tulis, puluhan ide ingin saya kembangkan dan tuangkan dalam tulisan. Tapi, alangkah sulitnya untuk memulai. Saya tipe orang yang AMAT SANGAT SULIT MEMULAI tapi sekalinya memulai sesuatu saya bisa begitu larut.
Pikiran saya sekarang ini sudah agak buram saking ngantuknya tapi maksa buat tulis, jadi bakal ngelantur ke mana-mana. Sekarang ini saya hanya ingin menulis.

Orang berubah. Contohnya, ketika saya meninjau lagi blog yang sudah lama saya abaikan ini, saya jadi malu sendiri. Banyak tulisan yang tidak sesuai dengan saya yang sekarang. Gaya penulisan yang alay, kekanakan, diksi yang sederhana dan terus terang. Beberapa posting populer saya edit lagi untuk beberapa pernyataan yang begitu dangkal dan membuat saya bisa dituntut, namun selebihnya saya biarkan. Kenapa? Karena itulah saya yang dulu. Begitu besar keinginan untuk mereformasi blog ini menjadi lebih dewasa dan berbobot, namun posting lawas itu semuanya bagian dari diri saya. Saya tidak bisa membuangnya begitu saja.

http://images6.alphacoders.com/659/659052.jpg | this world is great, really. let's face it.

Dunia berubah. Dunia ini begitu dinamis, begitu banyak perubahan, begitu banyak naik turunnya. Saya terkadang lelah mengikuti. Sebenarnya apa yang dikejar? Teknologi begitu pesat membabi-buta. Saya mengikuti berita yang beredar, tentang diciptakannya printer cetak 3 dimensi, alat yang bisa memberitahu berapa banyak air yang Anda sia-siakan, belum lagi ribuan aplikasi ponsel pintar yang terus berkembang (coba kunjungi LiveScience). Belum lama ini saya membaca prediksi pada tahun 2020 akan terdapat banyak pengangguran karena pekerjaan teknis akan dilakukan oleh robot. Penemuan dan berita mengenai adanya planet-planet alternatif bumi yang bisa dihuni manusia tidak bisa saya tanggapi dengan positif secara refleks.

Baik atau burukkah berita-berita ini? Kontroversial. Amat sangat bisa diperdebatkan. Dunia ini tidak lagi hitam dan putih ketika kita menyadari pilihan yang kita ambil menentukan hidup kita nantinya. Duh, capeknya berkembang menjadi dewasa.

Sering saya pertanyakan, sebenarnya dunia ini mengejar apa? Segala hal berkembang cepat meledak-ledak, untuk mencapai apa? Mungkin ini sisi personal diri saya yang ternyata takut menghadapi perubahan. Padahal, saya pikir saya orangnya cukup adaptif. Perkembangan dunia ini belum dapat saya baca, dan saya begitu takut kalau-kalau tertinggal. Takut tidak bisa mengikuti. Lalu saya bertanya lagi, kenapa harus takut? Kenapa harus mengikuti? Memangnya kalau tertinggal, lantas kenapa? Toh, saya masih hidup. Apakah ini usaha untuk membela dan melindungi diri sendiri? Entahlah, saya tidak yakin.

Manusia berubah. Manusia-lah yang punya kemampuan mengubah semuanya. Kalau kita coba membaa karya-karya fiksi fantasi yang di dalamnya terdapat karakter selain manusia, seperti kaum peri, kaum kerdil, goblin, dan lain-lain, kita akan sering mendapatkan bahwa manusia dipandang sebagai kaum yang serakah. Kaum fana, yang umurnya pendek, namun begitu banyak keinginannya dan selalu melakukan hal-hal yang dipandang bodoh, konyol, dan sia-sia, terutama dalam pandangan kaum peri (yang notabene bijaksana dan pandai). Tapi manusia selalu punya peran penting. Untuk hal-hal yang klimaktis, merekalah penentunya. Tiap adanya perubahan besar, manusia terlibat. Sejujurnya, bagi saya itu mengagumkan. Kemampuan manusia yang satu ini saya belum tahu bagaimana menyebutnya atau apa istilahnya, tapi itu mengagumkan.

Terkadang saya merasa masyarakat berdegradasi. Baik moral maupun sosial. Sopan santun sederhana seperti lenyap. Setiap melihat teman saya terlambat masuk kuliah atau saya sendiri yang terlambat, ada perasaan sungkan aneh menggelitik bagi saya kalau si mahasiswa yang terlambat tidak memberikan gestur tubuh sederhana seperti membungkuk, mengangguk, atau langsung melapor kepada dosen. Apalagi langsung nyelonong masuk, mengacuhkan dosen, dan langsung duduk. Entah ya, refleks pikiran yang muncul adalah "aduh, nggak sopan". Kebiasaan saja mungkin.

Ketika dunia mulai mengedepankan kualitas dan begitu memuja kesetaraan, kok rasanya ada hal-hal kecil sederhana yang hilang. Senioritas sudah tidak zamannya lagi, mereka hanya lahir lebih dulu, mereka hanya sudah tahu lebih dulu. Mengentengkan anak muda sudah kuno, merekalah yang membawa banyak perubahan dan inovasi. Tapi apakah itu harus menghilangkan rasa hormat? Hukum kekal universal mengatakan,"Treat others like you treat yourself".
Kenapa tulisan ini jadi ngelantur banget begini sih?
Langsung banting setir, deh.

Melihat junior angkatan akan mengambil mata kuliah yang dulu saya ambil, melaksanakan praktek yang dulu sudah saya lewati. Saya sudah pernah seperti mereka. Bagi mereka, itu hal baru. Untuk saya, ada hal baru lainnya yang perlu saya hadapi, yang sudah dilewati senior-senior saya.
Seperti puisi yang pernah dibuat papa saya selagi SD, baru. Semester baru. Pengalaman baru. Hal-hal baru. Dan seharusnya, semangat baru. Antusiasme selalu menyenangkan, dan walaupun saya tidak memiliki perasaan yang menggebu-gebu, tetap saja mendebarkan. Semester ini harus ada perubahan. Harus ada perkembangan. Ada perasaan semacam itu. "Aku tidak boleh seperti ini terus."

Semester ini, saya dipercayakan tanggung jawab besar. Sekarang sih belum terasa karena belum dimulai, tapi awalnya saya begitu terbebani karena saya tipe kurang suka memegang tanggung jawab. Jalani, tapi tanggung jawabnya ogah. Pilihan besar sudah saya ambil. Keputusan yang menentukan. Mungkin orang memandang itu wajar, menilai saya mampu. Aduh, saya rasa setiap orang tahu perasaan saat kita dinilai begitu tinggi oleh orang lain. Bangga jelas ada, mau sombong sedikit boleh. Tapi beratnya itu lho. Ketakutan dan kekhawatiran akan mengkhianati harapan orang lain itu rumit, terpampang jelas.

Padahal, saya tidak suka bicara di depan umum dalam situasi formal yang mana ucapan-ucapan saya sangat menentukan. Saya lebih suka ngobrol ngelantur, bicara soal ide dan pandangan dengan orang-orang dekat, tanpa harus memedulikan bobot dan tanggung jawab terhadap apa yang saya ucapkan dan pendapat-pendapat saya. Ini seperti menghadapi ketakutanmu terus-terusan. Seperti punya tubuh yang tidak bisa mati, tapi ditusuk berkali-kali. Tapi tidak mati. Yah, nggak seekstrim itu sih.

Musuh terbesarmu adalah dirimu sendiri. Mengalahkannya butuh waktu seumur hidup. Proses. Klise memang, tapi nyatanya begitu. Tahun ini, tema saya adalah be a person of your words. Kelemahan (sekaligus kelebihan) saya adalah spontanitas dan seringkali janji-janji spontan terucap tanpa ada realisasi. Bukan cuma talk less do more. Talk big is okay, as long as you prove it. Apakah tema saya ini akan membuat saya menjadi pengecut yang akhirnya hanya diam karena takut ambil risiko untuk merealisasikan? Bisa saja. Saya seorang idealis yang realistis, terjebak pada optimisme yang skeptis. Pusing? Saya juga.

Nyatanya, sulit sekali menentukan apa yang benar dan mana yang salah. Tidak ada yang hitam dan putih saja (kita tidak bicara soal warna ya). Sebenarnya, seluruh tulisan ini bisa dianggap keluhan. Ya, saya sedang mengeluh. Mengeluh karena ternyata jadi dewasa itu capek. Hal-hal yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan tiba-tiba saja muncul. Ingin rasanya saya buat keputusan yang enteng, spontan, tanpa pikir panjang. Tapi justru yang seperti itu yang tidak mudah. Pertimbangan, kekhawatiran, prioritas. Aduh tauk ah. Mendadak menyadari bahwa kamu sedang memegang seluruh kendali atas hidupmu sendiri itu rasanya lucu.

Yah, kita kembali ke awal. Dunia berubah. Orang berubah. Manusia berubah. Anda juga harus berubah. Perubahan yang lebih baik? Boleh saja. Alangkah baiknya kalau semua perubahan yang kita temui membuat kita menjadi lebih baik, tapi sayangnya tidak segampang itu. Iseng banget nggak sih, hidup ini? Semacam seru, semacam membuat putus asa. Tergantung perspektif kita. Memangnya perspektif semacam apa yang harus kita miliki? Yang positifkah? Nanti dibilang naif. Yang tidak banyak berharap, yang selalu memprediksi hal terburuk? Nanti dibilang skeptis. Bodo amat. Dua-duanya kita perlukan.

Pesimiskah Anda, optimiskah Anda, visionerkah Anda, atau going-with-the-flow-kah Anda, Anda harus terus bergerak. Langkah pertama selalu yang paling ribet dan ngeselin. Selalu yang paling banyak pertimbangan. Apalagi kalau bertemu persimpangan. Tapi kita tidak bisa berhenti.
Ambil langkah pertama. Saya juga.